Hilangnya Rumah Pintar untuk Anak-anak Putus Sekolah di Kendari


RUMAH PINTAR KENDARI - Seorang guru bernama Demalewa memberikan pelajaran matematika terhadap peserta didik Rumah Pintar, pada 5 Maret 2016. Dalam ruangan 4 x 6 meter itu tumpukan barang bekas nyaris memenuhi tempat belajar mengajar.
JENDELASULTRA.BLOGSPOT.COM - Rumah Pintar adalah nama sebuah tempat belajar anak-anak putus sekolah di Kota Kendari. Berada  di bengkel sepeda milik Suroto,  jalan Pembangunan nomor 25 A Kelurahan Sanua, Kecamatan Kendari barat, Tepat di depan Madarasah Ibtidayah Negeri  (MIN) Kendari. Jarak antara Rumah Pintar dan madrasah tersebut hanya dibatasi oleh dua ruas jalan raya.

 Di bengkel  pak Suroto itulah kegiatan belajar mengajar berlangsung setiap hari Sabtu. Bengkel tersebut terbagi 2 bilik, satu untuk keluarga Pak Suroto beraktivitas dan satunya lagi dikhususkan untuk ruang kelas.

Pasti tidak ada yang menyangka jika ruang 4x6 meter itu adalah ruang kelas. Lihat saja, tumpukan barang bekas nyaris memenuhi ruangan itu. Bahkan di belakang papan tulis yang menjadi penanda bahwa itu tempat belajar mengajar terdapat sebuah kurungan ayam jago jenis Bangkok.

Suasana belajar anak-anak ini cukup tenang di bilik dengan dua papan tulis itu. Sesekali ada yang bertanya tentang pelajaran  dan sesekali pula harus terhenti sekedar membiarkan ayam jago Suroto melepaskan kokokannya yang parau.

Namun itu semua adalah potret 5 Maret 2016 silam. Pada awal Juni 2020 ini, rumah pintar tersebut sudah lama tak beroperasi. Entah bagaimana kelanjutan dunia pendidikan para anak-anak itu. Pak Suroto pun saat ini fokus mengurusi bengkelnya, bengkel motor.

Guru  Relawan

Pada 2016 lalu, salah seorang guru yang rutin mengajar matematika di Rumah Pintar bernama Demalewa. Dia manjadi guru pegawai negeri sudah 30 tahun dan mengasuh mata pelajaran matematika di SMP Negeri 13 Kendari.

Baginya mengajar di Rumah Pintar merupakan sebuah panggilan hati. Tanpa hitungan jam sertifikasi dan tanpa embel-embel balas jasa lainnya.

Selain dirinya, terdapat beberapa tanaga pengajar lainnya, mulai dari guru bahasa inggris, guru bahasa Indonesia, dan terkadang juga mahasiswa.

 “Biasanya Pak Suroto menelpon, siapa saja yang sempat datang berarti dia yang mengajar. Kadang gurunya sudah hadir tapi anak belum banyak yang terkumpul. Yah Pak Suroto biasanya harus menjemput satu persatu di tempat tinggal anak-anak itu ,” cerita Demalewa, 2016 silam.

Digagas Tukang Bengkel 
Suroto namanya, dengan profesi sebagai tukang bengkel sepeda.  Rambutnya  sudah memutih (Uban), usianya tak lagi muda, 63 tahun (berarti sekarang 67) suatu keadaaan di mana manusia memasuki masa senjanya.  Namun tak disangka di usia yang demikian justru kesadaran tentang pentingnya pendidikan semakin kuat. Pria asal Surabaya ini  mendirikan Rumah Pintar tepat 1  Maret 2015.

Suroto memang pada dasarnya adalah seorang aktivis. Sebelum aktif mengurus Rumah Pintar, dia pernah menjadi Ketua organisasi Gerakan Rakyat Miskin Bersatu (Germis) Kendari selama 8 tahun (2007-2015), sebuah organisasi yang fokus memperhatikan masyarakat miskin.

Ketertarikan Suroto untuk mendirikan kelas belajar bagi anak-anak putus sekolah  mulai muncul ketika aktif di Germis. Hanya saja belum ada yang mau kerja sama untuk mendirikan tempat belajar seperti Rumah Pintar. Pasca aktif di Germis,  dia dekat dengan organisasi Sedekah Jumat Berjamaah (SJB)  yang kegiatan rutinnya setiap hari Jum’at berkeliling sedekah menyalurkan beras, nasi bungkus dan lainnya. Lewat organisasi inilah jadi cikal bakal berdirinya Rumah Pintar.

“Kalau bisa jangan hanya bersedekah tapi kita kumpulkan juga anak-anak yang putus sekolah supaya bagaimana bisa setara dengan anak-anak yang ada di sekolah negeri dan mendapatkan ijazah. Semua sepakat untuk mendirikan sebuah kelas belajar yang di kemudian hari dinamai Rumah Pintar,” ujar Suroto kala itu.

Setelah sepakat dengan SJB, Suroto yang  memang memiliki pengalaman organisasi, mulai mengurus segala dokumen untuk mendirikan sebuah tempat belajar sederhana namun berstatus seperti sekolah pada umumnya. Alhasil, pemerintah memberikan izin penyelenggaraan kesetaraan Paket A dan Paket B.
Pak Suroto adalah tukang bengkel sepeda  yang menggagas Rumah Pintar.

Ketika itu, ia berharap pemerintah bisa memfasilitasi Rumah Pintar sehingga dapat dizinkan membuka kelas untuk paket C (setara SMA). Agar anak-anak didik bisa yang sudah mendapat ijazah paket B bisa tetap bertahan di Rumah Pintar jika tidak melanjutkan di sekolah lain.

Untuk tempat belajar tidak ada tempat lain selain di bengkel milik Suroto . Hal itu tidak lain karena pertimbangan anggaran dan mahalnya rumah kontrakan . Kata Suroto, dia pernah berkomunikasi dengan pihak  Madrasah di depan bengkelnya itu, untuk menggunakan salah satu ruangan sekolah. Namun urung dilakukan karena  alasan psikologis peserta didik dan ruang sekolah yang juga digunakan pada hari Sabtu.

Rumah Pintar di bengkel  Suroto  memiliki peserta didik aktif 6 orang paket A dan 14 orang paket B dengan cukup variatif, ada yang berumur 7 tahun sampai 20 tahun. Bahkan  ada beberapa siswa  yang sudah berumah tangga.

Alasan Rumah Pintar Didirikan
Keinginan besar Suroto adalah agar anak-anak di Kendari tidak ada yang buta huruf. Selain itu, alasan digagasnya Rumah Pintar agar anak-anak di Kendari yang putus sekolah tidak bernasib sama seperti dirinya yang hanya sampai kelas 1 SD. Belum lagi anak-anaknya sendiri 7 orang (5 laki-laki, 2 perempuan), 6 orang tak sampai lulus SD. Hanya putri bungsunya  duduk di kelas 8  salah satu SMP di Kendari.

Ketika awal berdirinya Rumah Pintar, penolakan justru bukan dari anak tapi datang dari orang tua anak. Kadang-kadang orang tua lebih menginginkan anaknya untuk bekerja. Namun setelah diberikan pengertian dan pemahaman dari  Suroto, akhirnya orang tua dapat mengerti dan mau menyekolahkan anaknya di Rumah Pintar.

Bersekolah di  Rumah Pintar tidak dipungut biaya apapun karena mulai dari alat tulis, penghapus, buku dan lain-lain itu disediakan. Malah kadang-kadang Pak Suroto harus  patung-patungan dengan pengurus SJB menyewa mikrolet untuk  menjeput satu persatu anak  didik untuk datang belajar di Rumah Pintar.

Menurut Suroto, orang tua peserta didik Rumah Pintar tidak menyekolahkan anak-anak mereka karena masalah ekonomi. Banyak orang tua anak didik Rumah Pintar dari kalangan tukang ojek, pemulung, bahkan pengemis.  Selain itu biasanya karena nilai rapor atau ujian yang rendah sehingga sangat susah untuk masuk di sekolah negeri ketika tamat SD atau SMP. Kalaupun lulus di sekolah negeri biasanya jauh dari tempat anak-anak itu tinggal.

“Memang katanya sekolah sekarang katanya gratis, tapikan untuk pakaian sekolah, sepatu, buku, alat tulis harus beli sendiri. Mereka mana mampu, beli beras saja susah. Olehnya kalau bukan kita-kita ini yang perhatikan mereka siapa lagi,” ujar Pak Suroto. (***)

Penulis: Muhamad Taslim Dalma

Mengenal Aco, Jagoan Dangdut Asal Baubau yang Melesat di LIDA Indosiar

Muhammad Adriansah alias Aco adalah kontestan Liga Dangdut (LIDA) Indonesia 2020. Saat ini Aco berhasil masuk TOP 12 besar. Pemuda ini berasal dari Kota Baubau, Sulawesi Tenggara. 


JENDELASULTRA.BLOGSPOT.COM – Nama lengkapnya Muhammad Adriansah, dengan sapaan akrab Aco. Pemuda berusia 21 tahun ini adalah kontestan yang terus melesat di Liga Dangdut (LIDA) Indonesia 2020, salah satu ajang pencarian bakat yang diselenggarakan stasiun TV swasta Indosiar.

Keseharian Aco adalah seorang muadzin di Masjid Raya Baubau, dan juga mahasiswa Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi, Universitas Muhammadiyah Buton.  Ia juga seorang qori (mahir dalam seni baca Alquran), plus hobi menyanyi dangdut.

Hal itulah yang membuatnya berbeda dengan lainnya. Bakatnya menyanyi terasah dari kebiasaannya mengumandangkan adzan, mengaji, dan menyanyi. Semuanya berpadu padan lalu menggema dalam irama dangdut yang unik nan enak didengar.

Prestasi si jago dangdut ini dalam seni baca Alquran bukan kaleng-kaleng, di antaranya pernah Juara 1 MTQ tingkat Provinsi Sultra, juara 3 lomba syahril Qur'an tingkat Provinsi Sultra.  Pun dalam hal menyanyi juga tak kalah gemilang, misalnya pernah juara 1 lomba dangdut Halo Sultra, juara lomba dangdut tingkat Provinsi Sultra, dan terakhir juara 1 Bintang Vokalis Tingkat Nasional (Jakarta).

Soal keikutsertaannya dalam Liga Dangdut tak lepas dari keikutsertaannya dalam kegiatan Lembaga Seni Qasidah Indonesia (LASQI) tingkat nasional di Jakarta. Jadi, ceritanya pada 19 Desember 2019 Aco meraih juara 1 kategori putra. Keesokan harinya ia mendapat kesempatan mengikuti penjurian artis di salah satu ajang pencarian bakat terbesar LIDA 2020.

*Kehidupan Orang Tua

Aco lahir di Balikpapan pada 26 Agustus 1998 dari dua orang tua yang sederhana. Ayahnya asli suku Bugis sedangkan ibunya asli suku Buton.

Meski lahir di Balikpapan, Aco tumbuh dan besar di Kota Baubau, daerah asal ibunya. Pendidikannya diawali di SDN 1 Baubau, lalu SMPN 1 Baubau dan SMKN 1 Baubau.

Di Kota Baubau, ibunya biasa membantu keluarga bikin roti, dan menjaga jualan kue. Sedangkan ayahnya adalah penjual es gerobak. Kehidupan orang tua Aco itu ditampilkan dalam salah satu sesi ajang LIDA.
Ayah Aco yang sedang berjualan es ke anak-anak sekolah. (Sumber: Indosiar)

Ayahnya menjual es ke sekolah-sekolah di Kota Baubau. Kerja itu sudah dilakoni ayahnya sejak Aco berusia 3 tahun dan masih terus dilakukan hingga kini.

Tampak ayah Aco mendorong gerobak berwarna hijau dengan kaos oblong dan memakai topi hitam. Di atas gerobak ada payung sebagai pelindung dari sengatan matahari. Gerobak itu di dorongnya menyusuri jelan menju sekolah-sekolah.

Potongan es batu dicampurkannya dengan sirup lalu dimasukan dalam plastik yang sudah ada sedotannya. Sajian es yang seperti itu tampak disukai anak-anak, terbukti kadang banyak mengerubungi.

*Masuk Top 12

Kini Aco terus melesat masuk di 12 besar kontestan Liga Dangdut Indonesia. Pada awal April 2020, dia akan tampil di Konser TOP 12. Untuk terus maju dan menjadi juara, dia butuh dukungan seluruh masyarakat Indonesia dari Sabang sampai Merauke terkhusus warga Sulawesi Tenggara.

Caranya ketik LIDA (spasi) ACO kirim ke 97288, dan bisa juga vote lewat Tokopedia. Kirim dukungan sebanyak-banyaknya atau semampu Anda, agar Aco menang.

Di babak ini TOP 12 ini peserta yang tersisa dibagi ke dalam 3 grup dan akan berduet dengan 6 orang senior mereka dari D'Academy (DA) maupun LIDA.

Masing-masing senior DA maupun LIDA akan berduet dengan 2 orang peserta LIDA 2020 berbeda di grup berbeda beda.

KOMPOSISI TEMAN DUET TOP 12
FAUL : JANNA, NIA
FILDAN : DIYAH, GUNAWAN
ICAL : MELI, WULAN
IRWAN : ANDARI, HAMID
LESTI : ACO, HARI
RARA : DINI, EVA

Jadwal grup:

Grup 1
1.Dini(Sumut)berduet dengan Rara lida
2.Diyah(Jatim) berduet dengan Fildan
3.Hamid(NTT)berduet dengan Irwan
4.Wulan(Banten)berduet dengan Ical

Grup 2
1.Andari(Sulbar)berduet dengan Irwan
2.Hari(Jambi)berduet dengan Lesti
3.Meli(Jabar)berduet dengan Ical
4.Nia(Sulsel)berduet dengan Faul

Grup 3
1.Aco(Sulteng)berduet dengan Lesti
2.Eva(NTB)berduet dengan Rara
3.Gunawan(Malut)berduet dengan fildan
4.Janna(PapBar)berduet dengan Faul

Note:
- Sudah Ada Malam Show & Result Show
- Peserta Akan diduetkan dengan senior dimalam Show!
-Ayo Dukung Jagoan Kalian Dengan Cara SMS/Vote Di Aplikasi Tokopedia Play. (*)

Penulis: Muhamad Taslim Dalma

Al-Qur’an Tulis Tangan Berusia 500 Tahun Disimpan Warga Kendari

Salah satu Al-Qur’an tertua di Sulawesi Tenggara (Sultra) yang disimpan oleh salah satu warga Kendari. Kitab suci tulis tangan ini merupakan bukti sejarah penyebaran Agama Islam di Muna.
JENDELASULTRA.BLOGSPOT.COM -  Salah satu Al-Qur’an tertua di Sulawesi Tenggara (Sultra) ternyata disimpan oleh salah satu warga Kendari. Kitab suci umat Islam itu tersimpan dalam sebuah kotak khusus di lantai 2 rumah La Fariki, Kelurahan Korumba, Kecamatan Mandonga. Lantai 2 rumahnya itu kini dijadikannya museum “Pusat Informasi Kebudayaan Sultra”.

Al-Qur’an tersebut ditulis sekitar abad ke-15. Isinya tanpa nomor ayat dan tampilannya sudah agak kusut di bagian sampingnya tapi masih terususun rapi. Kitab ini masih lengkap dengan sampulnya yang kecokelatan.

Awalnya Al-Qur’an itu dibawa ke Muna oleh Syarif Muhammad atau Saidi Rabba yang melakukan dakwah Islam. Saidi Rabba datang dengan membawa Al-Qur’an tulis tangan untuk tiap bharata di Muna.

Lahontohe adalah salah satu bharata yang diberi Al-Qur’an tulis tangan ini. Kitab inilah yang disimpan La Fariki, didapatnya berdasarkan garis keluarga. La fariki dipercaya untuk menyimpan dan merawatnya.

Kitab yang menjadi bukti sejarah Islam di Muna itu, tercatat merupakan peninggalan La Imamu bergelar Yaro Kapoindalo. Dalam wasiatnya La Imamu berpesan “siapa  yang pegang Al-Qur’an ini agar merawat kuburku, karena saya tidak punya keturunan”. Setelah La Imamu, kemudian diberikan ke Wa Ewi, lalu H. La Apo, hingga kini La Fariki.

Baca juga:
* Cerita Tentang Haroa: Tradisi yang Mengharmoniskan Keluarga
* Legenda Fotografer Kendari, 37 Tahun Jadi Tukang Potret

Museum Pusat Informasi Kebudayaan Sultra

Bagi Anda yang melihat lebih dekat Al-Qur’an berusia lima abad itu, bisa datang berkunjung ke Museum Pusat Informasi Kebudayaan Sultra. Selain itu, ada pula Al-Qur’an yang ditulis abad ke-17 yang bentuknya lebih besar dibanding Al-Qur’an yang pertama tadi.

Al-Qur’an berusia tiga abad lebih itu merupakan peninggalan dari La Gunu yang meninggal sekitar tahun 1982. La Gunu tidak meninggalkan keturunan, namun Al-Qur’an tetap dalam perawatan garis keluarga. Setelah La Gunu kemudian Wa Uji, dan kini disimpan La Fariki.

Dalam Museum Pusat Informasi Kebudayaan Sultra juga terdapat benda-benda antik lainnya. Museum ini berisi referensi sejarah Islam di Sultra, kebudayaan terutama kebudayaan maritim dan referensi umum.

Museum itu dirintis secara perorangan dan dikelola oleh keluarga. Bahan-bahannya dikumpulkan La Fariki sejak awal jadi PNS yang bertugas menyusun pidato Gubernur Sultra  La Ode Kaimoeddin. Dengan tugasnya itu, sejak 1998 La Fariki banyak menyertai kunjungan kerja sang gubernur ke beberapa daerah di Sultra. Waktu itu dimanfaatkannya dengan mengumpulkan barang-barang antik, naskah kuno, dan lainnya. 

Kini di museum itu, ada tempat air munum zaman dulu,  alat memasak dari kuningan,  guci dari China, alat permainan tradisional “kadudi”, dan masih banyak lagi. Beberapa barang dalam museum itu dilengkapi dengan lembar penjelasan untuk memudahkan pengunjung mengenali.  Motivasi La Fariki adalah untuk mewariskan nilai-nilai budaya generasi berikutnya, tidak hanya bagi keluarga tapi juga masyarakat luas. ***

Penulis: Muhamad Taslim Dalma

Menikmati Aneka Menu Kekinian di Rumah Makan “Saranghae” Kendari

Rumah makan "Saranghae" di Kota Kendari. “Saranghae” dari Bahasa Korea, artinya “aku cinta”. Menu yang disajikan berupa makanan-minuman kekinian.
JENDELASULTRA.BLOGSPOT.COM – Di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, yang dikenal juga sebagai Kota Lulo, ada begitu banyak kedai dan rumah makan yang menyajikan beragam menu tradisional hingga modern. Bagi Anda yang ingin bersantai dan bersantap di tempat yang sederhana ataupun ingin pesan antar, dengan harga tidak menguras isi kantong, tapi istimewa. Rumah makan “Saranghae” patut dicoba.

Seperti namanya “Saranghae” yang diambil dari Bahasa Korea, artinya “aku cinta”. Selain karena ibu pemilik rumah makan ini penggemar korea, juga yang ingin dihadirkan adalah rasa “cinta” terhadap aneka menu makanan dan minuman yang dibuatnya, serta tidak ingin mengecewakan pelanggan. Atas dasar prinsip ini, bahan-bahannya dibuat dari bahan berkualitas.

Beberapa jenis makanan yang disediakan misalnya nasi goreng merah per porsi seharga Rp25 ribu, chickbong honey sauce (ayam karage krispy dibalur saus madu ala korea) Rp20 ribu, chicbong sambal matah (ayam karage krispy dengan taburan sambal matah yang pedis di mulut) Rp20 ribu. Selain itu, ada juga menu dari daging sapi, adalah pallubasa khas Makkasar seharga Rp20 ribu.

Minuman yang dapat dipilih juga beraneka ragam, yang tidak hanya akan memanjakan mata tapi juga memanjakan lidah. Dengan porsi yang lumayan jumbo, misalnya  dengan rata-rata harga Rp 15 ribu per porsi adalah green tea ice blend, ice blend choco swiss, ice blend choco oreo, dan masih banyak lagi.

Lalu ada pula tart susu 20 cm dengan tiga jenis yaitu original, cokelat, dan pandan. Jenis kue lainnya adalah mini pie susu, pie susu, boba cheese foam cake, dan pudding choco regal. Tersedia pula kentang goreng bagi yang sedang tak ingin memesan kue.

Dengan adanya aneka kue itu, maka tentu bukan saja untuk makan siang atau makan malam. Sarapan pagi pun bisa lewat warung makan ini, kue tinggal dipadukan dengan hot coffee, maupun minuman hangat yang ingin dibuatkan.

Lalu, apakah nama-nama yang keren sebanding dengan rasa dan kualitasnya? Pertama tentu Anda harus mencobanya langsung atau memesannya untuk diantarkan. Kedua mari perhatikan uraian berikut tentang  tiga jenis menu dari rumah makan tersebut.



*Greentea Ice Blend

Sekilas penampakannya sama seperti ice blend yang banyak dijajakan di beberapa warung pinggir jalan. Mulai dari bahan es yang diblender hingga campuran susu kental manisnya.  Namun tidak demikian dengan rasanya, lebih lembut dan tidak begitu pekat rasa teh hijaunya.

Greentea Ice Blend di Saranghae ini tidak menggunakan bubuk atau teh hijau pada umumnya, tapi dari potongan daun teh hijau yang direbus sendiri. Hal ini menjadi pembeda sekaligus menimbulkan cita rasa yang khas.

*Pallubasa Khas Makassar

Kata “khas Makassar” tidak asal ditempelkan, tapi memang boleh dibilang tidak kalah dengan yang ada di Kota Makassar. Rasa potongan daging sapinya gurih berpadu dengan kuah, disajikan hangat dalam sebuah mangkuk.

Mengapa dikatakan tidak asal, karena memang daging has dibawa langsung dari Makassar Sulawesi Selatan. Daging sapi dari Makassar dirasa lebih enak dan empuk. Hal ini juga turut membedakan dengan sajian-sajian rumah makan lain di Kota Kendari.

*Nasi Goreng Merah

Disajikan dalam mangkuk, di dalam nasi goreng ada beberapa potongan seafood dan di atasnya ditaburi kerupuk. Warnanya merah lagi cerah dan rasanya gurih, mungkin karena perpaduan bumbu dan saus yang memang sengaja didatangkan dari luar Kota Kendari yang dinilai lebih standar dan berkualitas.

Tiga deskripsi jenis sajian itu, mungkin hanyalah gambaran kecil tentang rumah makan ini. Yang pastinya apa yang disajikan,  sejalan dengan prinsip pemilik warung ini yang tidak ingin dianggap menyajikan menu “kaleng-kaleng”.

Bagi anda yang tertarik dengan rumah makan ini, bisa langsung membuka google map di handphone. Tulis “Saranghae” akan muncul alamat dan gambar-gambar sajian dan tampilan tempatnya, atau klik di sini.

Alamat lengkapnya di JL. Y. Wayong By Pass No. 55 C Lepo-lepo atau untuk pesan antar bisa menghubungi lewat telpon maupun WhatsApp di nomor 082293931111.


Penulis: Muhamad Taslim Dalma 

Mengapa Raja Buton dan Raja Muna Dikisahkan Lahir dari Bambu, Ini Jawabannya


JENDELASULTRA.BLOGSPOT.COM,- Raja Buton pertama dikisahkan adalah seorang ratu, bernama Wakaka. Ia diceritakan pertama kali muncul dari bambu. Begitu pula Raja Muna pertama, Baizulzaman alias La Eli juga dikisahkan lahir atau pertama kali kemunculannya juga dari bambu.


Cerita-cerita tersebut terawat dengan baik melalui cerita rakyat yang dituturkan secara lisan. Dalam beberapa kisah kerajaan lain di Indonesia juga sama, bahwa raja pertama mereka lahir dari bambu. Tak hanya di Indonesia, di Jepang ada cerita rakyat tentang putri lahir dari bambu yang kemudian dilamar oleh lima pangeran. Putri itu kemudian tidak jadi menikah dan kembali ke tempat asalnya di bulan.

Bambu arti dasarnya adalah tanaman jenis rumput-rumputan yang tumbuh berumpun dengan rongga dan ruas di batangnya. Bambu tidak hidup sendiri tapi berkelompok membentuk berumpun. Daun bambu yang rimbun dengan dahan yang menjulan tinggi cocok jadi pohon pelindung. Secara ilmiah manusia semestinya lahir dari rahim manusia, begitu pula badan manusia tidak akan muat dalam sebatang bambu. Dapat disimpulkan bahwa bambu di situ adalah sebuah mitos, yang menyimbolkan sesuatu.

Dalam penelitian penulis “Mitos dalam Cerita Rakyat Muna”, bambu merupakan kode simbolik yang mengandung banyak makna dan nilai. Penjelasannya adalah sebagai berikut.

1. Keluarga Besar yang Saling Menopang
Dalam cerita rakyat Muna, bambu yang merupakan tempat muncul tokoh Baizulzaman dapat dimaknai bahwa asal yang dimaksud adalah sebuah keluarga besar sesuai sifat-sifat dasar bambu yang hidup berumpun, tidak sendiri-sendiri.

Dalam rumpun bambu terdapat akar kuat yang saling menopang, begitu pula dalam sebuah keluarga besar yang saling menopang dengan tolong menolong dan saling membantu. Makna yang  disampaikan bahwa raja yang berasal dari bambu adalah berasal dari keluarga besar yang sesama anggota keluarganya saling menguatkan seperti rumpun bambu.

2. Sumber Kehidupan
Sumber kehidupan merupakan sesuatu yang dapat mempengaruhi kehidupan seseorang atau kelompok, misalnya makanan merupakan sumber kehidupan karena bila tidak makanan maka kelangsungan hidup tidak akan terjamin. Hal inilah yang ada pada makna “bambu”. Tunas bambu yang disebut rebung menjadi makanan dalam kehidupan manusia. Tunas bambu biasanya diiris tipis-tipis lalu dimasak bersama santan. Lewat cerita rakyat, raja ingin digambarkan sebagai sosok pemimpin yang dapat diandalkan dalam persoalan sumber kehidupan.

3. Pemberi perlindungan
Bambu memiliki daun rimbun yang tidak akan ditembus panas matahari. Bagi orang yang berada di bawah rumpun bambu tidak akan merasa kepanasan tapi kesejukan. Raja dimitoskan berasal dari bambu dapat bermakna bahwa masyarakat mengisyaratkan pemimpinnya yang dapat melindungi seperti sifat-sifat rumpun bambu yang dapat melindungi. Sebagai penguasa dan pemimpin maka harus melindungi rakyat yang dipimpinnya.

4. Pemimpin Bijaksana
Sebatang bambu di awal tumbuhnya tegak lurus ke atas, namun semakin tinggi maka dahan bambu akan semakin membungkuk. Maknanya adalah sebuah sikap rendah hati dan kebijaksanaan dalam artian semakin tinggi suatu jabatan maka tidak boleh semakin menyombongkan diri. Dalam mitos tentang bambu, pemimpin digambarkan seperti bambu yang semakin tinggi ilmu dan kekuasaannya maka semakin menghormati orang lain sebagaimana bambu yang sudah tinggi akan selalu membungkuk. Sikap yang demikian disebut sikap yang merendah tanpa menghilangkan wibawa.

5. Bermanfaat bagi orang lain
Dalam kehidupan manusia, bambu memliki beragam manfaat. Batang bambu digunakan dalam berbagai keperluan misalnya untuk konstruksi rumah, alat memasak, bahan kerajinan dan dekorasi, pagar, tongkat, bahkan tandu untuk keranda mayat terbuat dari bambu. Dalam mitos tentang bambu yang menjadi asal raja, dapat dimaknai bahwa seorang pemimpin memiliki nilai manfaat bagi sesamanya ataupun rakyat yang dipimpinnya.


Kisah Raja Muna Lahir dari Bambu dalam Cerita Rakyat

JENDELASULTRA.BLOGSPOT.COM,- Alkisah di Pulau Muna, jazirah Sulawesi Tenggara ada kerajaan. Raja yang paling berpengaruh diketahui bernama Baizulzaman atau dikenal juga dengan nama La Eli. Cerita ini termuat dalam tesis berjudul “Mitos dalam Cerita Rakyat Muna” yang ditulis oleh penulis sendiri.

Cerita tentang Raja Muna Baizulzaman ini dituturkan secara lisan oleh masyarakat Muna. Dari cerita yang dituturkan secara turun-temurun inilah, penulis berhasil menghimpun cerita lengkap tentang Raja Muna yang dimitoskan lahir dari bambu.

Berikut kisah tentang Raja Muna Baizulzaman.

Singkat cerita, awal mulanya putri Raja Luwu bernama Tendi Abe terdampar di pantai Pulau Muna. Tendi Abe diambil masyarakat bersama imam setempat langsung dibawa ke seorang raja bernama Wamelai. Raja ini menguasai hanya sebagian wilayah Muna, tidak sebesar kerajaan Baizulzaman.

Wamelai menyambut Tendi Abe dengan baik bahkan dibuatkanlah kamar khusus di istana. Kondisi Tendi Abe ketika terdampar itu dalam keadaan hamil dan akan segera melahirkan. Tidak lama kemudian ia mengidam ingin makan rusa. Maka pergilah orang-orang suruhan Raja Wamelai berburu. 

Saat mereka berburu, selalu muncul sebatang pohon bambu. Bambu itu sebatang kara di dalam hutan, tidak ada anakan tunasnya hanya sebatang berdiri. Cukup tinggi bambu itu, tidak seperti tingginya badan manusia. 

Maka pulang orang-orang yang berburu melaporkan hal itu. Setelah itu, Raja Wamelai berkata “coba ambil bambu itu, mungkin apa”. Maka pergilah lagi mereka. Pada saat ditebas bambu itu mengeluh “aduduh kakiku”. Sejenak, tidak jadi lagi yang ditebas karena bambu mengeluh kesakitan. Ditebas lagi agak bagian atas tapi tidak mampan, “aduduh lututku” kata bambu itu. Tebas lagi di atas “aduduh pinggangku”, mereka tebang ke atas “aduduh kepalaku” katanya. 

Para utusan raja itu kemudian mengangkat bambu itu, mencabut dengan akar-akarnya lalu dibawa pulang. Mereka masukan di kamar Tendi Abe. Dalam ruangan kamar itu, begitu sunyi dari orang-orang, bambu itu langsung meledak-ledak, ternyata menjadi manusia. Dialah Baizulzaman, yang dinamakan juga La Eli, orang berkekuatan khusus.

Baizulzaman dipercaya merupakan anaknya Hamzah Bin Abdul Muthalib sahabat Nabi Muhammad. Dalam perkembangannya, Baizulzaman hidup dalam lingkungan istana Raja Wamelai.  Baizulzaman inilah yang menikah dengan Tendi Abe.    

Baizulzaman di kemudian hari menjadi Raja Muna di tingkatan paling atas penguasa besar, menggantikan Wamelai. Wamelai tidak lagi menjadi raja termasuk keturununannya. Keturunan Wamelai diturunkan di tingkatan salah satu penguasa bawah, penguasa itu yang terbagi dalam empat wilayah. Empat wilayah kekuasaan terbagi atas kekuasaan Tongkuno, Kabawo, Lawa, dan Katobu.  Sedangkan Raja Muna selanjutnya adalah keturunan Baizulzaman.

Cerita tersebut hanya dituliskan secara singkat oleh penulis. Cerita lebih lengkap ada pada penulis, tentang bagaimana Tendi Abe bisa terdampar di Muna dan lain sebagainya.

(Baca juga: Cerita Rakyat Muna: Kenta Wandiudiu, Seorang Ibu yang Menjadi Ikan)

Penulis: Muhamad Taslim Dalma 

Ajakan Persatuan dalam Lagu Muna: Tampo Napalano

JENDELASULTRA.BLOGSPOT.COM,- Salah satu lagu daerah dari Kabupaten Muna yang tak lekang oleh waktu adalah “Tampo Napabalano”. Lagu ini tentang tanah kelahiran dan ajakan untuk hidup rukun dan bersatu dalam sebuah rumpun keluarga.

Dari penelusuran penulis, lagu ini diciptakan oleh seorang sarjana pendidikan bernama Masrin Abidin. Salah satu yang menyanyikan lagu ini adalah Harry Setiawan yang diproduksi oleh label rekaman Megaswara.

Ajakan untuk bersatu dan hidup rukun tampak pada lirik “Hintumo basitie, mosi-mosirahaku. Doseise mana sokaetahano liwunto ini”. Artinya “kamulah keluarga yang sangat dekat mari kita bersatu untuk kebaikan kampung kita ini”.

Sementara, lirik yang membuat pendengarnya untuk mengingat kampung halaman adalah “Witonu Wuna ntiarasi, Tampo mina limpuhanea. Newatumo Kalembohano Reaku”. Artinya “Tanah Muna yang disayang, Tampo tak akan kulupakan. Di sanalah tumpah darahku”. Kata “kalembohano reaku” bisa juga berarti tempat kelahiran. Secara arti kata “lembo” adalah kolam dan “rea” adalah darah.

Cover lagu daerah Muna: Tampo Napabalano. 

Berikut lirik lagu Tampo Napabalano.

O... Tampo Napabalalo
Newatumo witeno kalentehaku
Noponogho barakati nekakakawasa
Sampe mate Tampo mina limpuhanea

O... Tampo napabalano 
Newatumo witeno kalantehaku
Noponogho barakati nekakakawasa
Sampe mate Tampo mina limpuhanea

Hintumo basitie, mosi-mosirahaku 
Doseise mana sokaetahano liwunto ini 
Witonu Wuna ntiarasi, Tampo mina limpuhanea 
Newatumo kalembohano reaku. 

Terjemahan lagu itu adalah sebagai berikut. 

O... Tampo Napabalalo (Tampo merupakan kelurahan sedangkan Napalano satu tingkat di atasnya yakni kecamatan. Wilayah ini masuk dalam administrasi Kabupaten Muna)
Newatumo witeno kalentehaku (Di sanalah tanah kelahiranku)
Noponogho barakati nekakakawasa (Penuh dengan berkah dari Tuhan yang Maha Kuasa)
Sampe Mate Tampo Mina Limpuhane (Hingga mati pun Tampo tak akan kulupakan)

Hintumo Basitie, Mosi-mosirahaku (Kamulah keluarga yang sangat dekat)
Doseise mana sokaetahano liwunto ini (Mari kita bersatu untuk kebaikan kampung kita ini)
Witeno wuna ntiarasi, Tampo mina limpuhanea (Tanah Muna yang disayang, Tampo tak akan kulupakan)
Newatumo Kalembohano Reaku (di sanalah tumpah darahku).

Penulis: Muhamad Taslim Dalma

Manfaat Kelor: Agar Cepat Hamil hingga Menetralkan Zat Berbahaya


"Secara rutin si laki-laki mengkonsumsi biji kelor sedangkan wanita mengkonsumsi kembang kelor. Bila sudah hamil maka istri harus berhenti mengkonsumsi bunga kelor karena dipercaya tidak baik untuk kesehatan kandungan."
Daun kelor dan tepung kelor. Sumber foto : Sustainable Island Development Initiatives

JENDELASULTRA.BLOGSPOT.COM - Dari akar, daun, hingga kembang, tanaman kelor memiliki manfaat yang sangat besar bagi manusia. Dari beberapa informasi yang dihimpun, tanaman kelor bermanfaat bagi yang mengkonsumsinya di antaranya agar cepat dapat keturunan hingga menghilangkan zat berbahaya.

Salah satu daerah yang banyak mengembangkan tanaman kelor adalah Pulau Muna. Masyarakat setempat banyak membudidayakannya di pekarangan rumah. Bahkan, dimana-mana orang Muna tinggal, di pekarangan rumahnya pastilah ada pohon kelor. Mereka menggunakannya untuk bahan sayur bening, yang disebut “kadada katembe”. Namun soal manfaatnya, mungkin masyarakat hanya menganggapnya seperti sayur biasa.

Kelor di Muna, salah satu yang rekomended untuk dikonsumsi. Tanaman kelor tumbuh dengan subur di pulau yang tanahnya banyak ditemukan batu gamping dan berkapur. Bahkan di beberapa lokasi, kelor tumbuh di atas batu seperti di kampung Walengkabola, Tongkuno. Di daerah ini tanaman kelornya bercita rasa khas lagi enak, beda dengan kelor di tempat lain, sehingga saat dijual di pasar selalu dicari.

Cara Memasak Daun Kelor yang Tepat

Memasak daun kelor dengan benar maka kandungan nutrisi daun kelor tidak banyak berkurang. Caranya, bila air sudah mendidih maka matikan kompor lalu tuang daun kelor. Begitu pula bila daun kelor dimasak dengan bahan sayuran lain, saat air mendidih maka masukan terlebih dulu sayur lain kemudian matikan kompor lalu masukan daun kelor.

Daun kelor yang dipetik juga paling lama hanya dapat disimpan 4 jam. Setelah dipetik daun kelor sebaiknya segera dimasak. Semakin cepat dimasak maka rasa kelor semakin baik, jangan menunggu hingga daunnya layu. Kelor memang berbeda dengan jenis sayur-sayuran lain yang dapat disimpan di kulkas.

Kembang kelor. Sumber foto: Sustainable Island Development Initiatives

Manfaat Biji dan Kembang Kelor Agar Cepat Hamil


Manfaat mengkonsumsi buah dan kembang kelor adalah untuk cepat hamil atau mempermudah memperoleh keturunan bagi pasangan suami istri. Kendati demikian, belum ada rujukan penelitian ilmiah tentang ini, mungkin hanya dari pengalaman masyarakat saja.

Namun patutlah dicoba, sebuah metode yang tidak ada salahnya untuk dilakukan, toh memang buah dan kembang kelor sering dimakan oleh masyarakat Muna sebagai sayuran. Sehari-hari, buah dan kembang kelor itu dijadikan sayur bening. Soal rasanya, unik dan tetap enak untuk disantap.

Caranya adalah secara rutin si laki-laki mengkonsumsi biji kelor sedangkan wanita mengkonsumsi kembang kelor. Bila sudah hamil maka istri harus berhenti mengkonsumsi bunga kelor karena dipercaya tidak baik untuk kesehatan kandungan. Namun berbeda dengan daun kelor yang memang baik untuk dikonsumsi ibu hamil.

Kandungan Nutrisi Daun Kelor

Kandungan gizi daun kelor dijelaskan dalam buku “Sustainable Island Development Initiatives” (SIDI) tahun 2016. Dinyatakan bahwa tanaman kelor mempunyai kandungan protein, kalsium, zat besi, vitamin C, dan karotin yang tinggi.

Menurut tim penulis buku itu, tanaman kelor cocok ditanam di wilayah yang kekurangan nutrisi. Kelor juga dapat berperan penting untuk menjadi sumber pangan dan obat-obatan.

“Di Afrika, daun kelor digunakan untuk membersihkan air minum dari kandungan zat-zat yang tidak diinginkan. Kelor dapat menyelesaikan persoalan pangan dan kesehatan di dunia,” dikutip dari SIDI.

Lebih lanjut dijelaskan, di Indonesia dan India, kelor merupakan tanaman yang dikenal mempunyai kekuatan supra natural dan banyak digunakan dalam beberapa ritual. Daun dan buah kelor juga dimanfaatkan sebagai masakan sayur asam yang berwarna bening.

Penulis: Muhamad Taslim Dalma

Legenda Fotografer Kendari, 37 Tahun Jadi Tukang Potret

Om Anjas adalah seorang fotografer di Kota Kendari.
JENDELASULTRA.BLOGSPOT.COM – Satu-satunya orang yang paling lama menjadi fotografer di Kota Kendari adalah Anjas. Nama lengkapnya Anjas Sugio, orang-orang lebih mengenalnya dengan sapaan “Om Anjas”.

Pria kelahiran 1958 ini menjadi tukang potret sejak tahun 1982 silam. Saat menjadi fotografer, usianya terhitung menginjak 24 tahun.  Pada tahun 2019 ini, dia sudah 37 tahun menjalani profesi itu. Entah sudah berapa wajah yang diabadikan melalui lensa kameranya.

Selama 3 dekade lebih wara-wiri, motret sini motret sana, sungguh waktu yang sangat panjang, sehingga tak sedikit orang menganggapnya sebagai legenda perfotograferan di Kota Sinonggi.

Awalnya dia menjadi fotografer di daerah asalnya Wawonii (Konawe Kepulauan) pada 1982 dengan berkeliling kampung. Bermodal kamera analog (kamera yang masih mengandalkan roll film), Anjas muda keliling menawarkan jasanya.

Lalu pada tahun 1985, Anjas meninggalkan Wawonii. Dia mencoba peruntungan dengan datang di Kota Kendari, Ibu Kota Provinsi Sulawesi Tenggara. Di tahun-tahun ini Anjas banyak mendapatkan pelanggan warga Gunung Jati, dan Kota Lama Kendari. Anak-anak di Kecamatan Mandonga dan sekitarnya juga banyak yang tidak akan lupa dengan bidikan Anjas.

Di Gunung Jati, banyak warga ingin dipotret oleh Anjas. Langganannya bukan hanya orang tua tapi mulai dari anak-anak, ibu-ibu, hingga bayi tak luput dari jasa bidikan kameranya. Apalagi, ketika itu, jasa fotografer tak seramai sekarang ini dan smartphone belum lahir.

Pada tahun 2000-an ke atas hingga sekarang ini mulai menjamur fotografer dan studio foto di Kota Kendari. Plus teknonologi kamera smartphone luar biasa pesat kemajuannya. Bahkan beberapa anak-anak yang dulu dipotret oleh Anjas kini sudah menjalani profesi fotografer. Pun begitu, Anjas tetap dapat bertahan dan berakselerasi.

*Bertahan dengan Strategi
Tampilan Om Anjas terbilang nyentrik dan memiliki ciri khas tersendiri: memakai jas (kadang juga kemeja), wig (rambut palsu) tak pernah lepas, berkaca mata hitam, cincin batu akik di jari-jari, plus selalu menenteng kamera DSLR Canon EOS 1300. Kamera itu sudah cukup standar untuk seorang fotografer.

Keunikan lainnnya dari Om Anjas ini, tidak pernah memakai helem. Dengan motor (boleh dibilang sedikit butut), Anjas berkeliling Kota Kendari dengan bebasnya, mungkin satu-satunya orang di Kendari yang selalu lolos dari petugas.

Agar dapat bersaing-bertahan di dunia fotografer, Anjas menyasar kalangan elit mulai dari setingkat gubernur, kepala dinas, anggota DPRD, hingga bupati dan walikota. Anjas akan selalu hadir dalam pertemuan yang dihadiri oleh pejabat-pejabat tersebut.

Mengapa demikian? Karena banyak pelanggannya yang hendak mengabadikan momen bersama gubernur maupun bupati. Anjas tinggal membawa contoh foto yang sudah dicetak, ada pula contoh kalender.

Pelanggan tinggal memilih apakah fotonya perlu bingkai atau tidak, yang pastinya dalam hitungan setengah jam dan paling lama satu jam, pesanan foto sudah akan dibawakan Anjas di lokasi acara, saat pejabat masih ada, saat acara belum selesai. Pembayaran sudah pasti tunai lunas, apalagi kalau pejabat yang bayar foto itu, yah tidak banyak berhitung di hadapan orang banyak.

Gubernur Sulawesi Tenggara Ali Mazi dan Anjas
Kuncinya, usai memotret, Anjas dengan cepat tancap gas menuju studio foto langganannya, yang hasil cetakannya memang standar. Di studio itu sudah ada pilihan bingkai, tinggal diambil kalau pelanggannya memang perlu bingkai.

Begitulah sedikit cerita tentang Anjas. Tubuh boleh menua, zaman boleh berubah, namun ide kreativitas tak boleh tertinggal. Idenya, sebagaimana wig yang selalu mencitrakan jiwa muda, tak mengenal uban, tak ada namanya penuaan.

Penulis: Muhamad Taslim Dalma

Rahasia Kesempurnaan Hidangan Sinonggi Khas Sulawesi Tenggara

Makanan khas Sulawesi Tenggara, Sinonggi
JENDELASULTRA.BLOGSPOT.COM – Sinonggi adalah makanan khas Sulawesi Tenggara (Sultra) yang dibuat dari bahan dasar sagu. Sinonggi hanya mudah ditemui beberapa daerah Sulawesi Tenggara, dimana pohon sagu tumbuh subur.

Wilayah penyebaran pohon sagu paling besar ada di Kota Kendari, Konawe, Konawe Selatan, Konawe Utara, dan Kolaka Timur. Masyarakat yang berdiam di daerah-daerah ini terkenal ahli meracik sagu menjadi makanan khas sinonggi, khususnya dari suku Tolaki. Tak heran bila sinonggi juga disebut manakanan khas Tolaki.

Memasak sinonggi memang terlihat mudah karena hanya disiram air panas, diaduk-aduk lalu jadi. Namun sebenarnya tidak segampang itu (bagi yang belum ahli). Dalam keadaan tertentu sinonggi tidak akan jadi (tetap encer) meski sudah disiram air panas dan diaduk. Kadang pula sinonggi yang jadi begitu lengket, ada pula sinonggi yang berwarna keunguan. Ada pula yang masih bercampur kotoran.

Lalu apa rahasianya? Ternyata ada tata cara khusus untuk mendapatkan hidangan sinonggi yang putih bak kapas baru mekar, kenyal, tidak lengket, dan membangkitkan selera makan. Caranya, mula-mula tepung sagu dicampur air biasa dalam baskom, lalu didiamkan semalaman.

Proses itu, akan membuat tepung sagu putih mengendap, sementara kotoran dan tepung sagu yang agak coklat akan terangkat ke permukaan air. Setelah itu, airnya ditumpah dan yang tersisa adalah tepung sagu basah yang putih bersih.

Proses selanjutnya, sagu ditaruh di baskom, ditambahkan minyak (apa saja yang penting minyak kelapa) satu sendok makan dan perasan jeruk nipis. Lalu, disiram air mendidih dan aduk-aduk. Sagu yang yang telah disiram air panas harus terus diaduk hingga menggumpal dan percampuran air dan sagu merata hingga tidak ada bintik-bintik tepung.

Takaran antara air dan sagu harus disesuaikan. Bila terlalu banyak air maka sinonggi yang dihasilkan bening dan tidak begitu menggumpal, namun bila takaran airnya pas maka sinonggi yang dihasilkan tampak putih bersih dan kenyal. Manfaat ditambahkan minyak kelapa adalah agar sinonggi yang dihasilkan tidak lengket.

Penyajian Sinonggi
Sinonggi biasa disajikan dengan makanan khas lainnya yang berkuah seperti ikan palumara (hidangan ikan) dan ayam tawaloho. Penyajiannya, mula-mula piring diberi kuah ikan palumara, perasan jeruk nipis, dan lombok biji. Dari wadah, sinonggi digulung dengan dua batang sumpit lalu ditaruh di piring yang telah lengkap dengan kuah tadi.

Sinonggi yang masih hangat sangat tepat untuk segera dimakan, apalagi bila kuah ikannya juga yang masih hangat. Namun, bila sudah dingin, rasanya cenderung berbeda dan hanya sedikit orang yang menyukainya.

Cara menyantapnya pun berbeda-beda. Masyarakat lokal biasanya menggunakan dua jari atau tiga jarinya untuk mengambil sinonggi dalam piring. Mereka tampak ahli mengambil sinonggi itu, seperti gerakan mencubit lalu dengan sigap memasukan potongan sinonggi ke mulut. Namun bagi yang tidak terbiasa, maka menggunakan sendok adalah pilihan satu-satunya.

Tradisi Mosonggi
Ada sebuah kebiasaan dalam masyarakat Tolaki yang sepertinya sudah menjadi tradisi. Kegiatan itu disebut “mosonggi”. Kegiatan ini bentuk kumpul-kumpul antara anggota keluarga maupun sesama teman.

Mosonggi dilakukan dalam kelompok tertentu. Kebersamaan dan keakraban sangat terlihat dalam acara ini, mulai dari menyiapkan bahan-bahan masakan pendamping sinonggi hingga memasaknya pun bersama-sama.

Mosonggi tak hanya dilakukan dalam acara kumpul-kumpul biasa di rumah sendiri. Kegiatan itu juga dilakukan ketika acara-acara besar seperti bila ada resepsi pernikahan.

Hanya saja dalam resepsi pernikahan di atas meja hidangan biasanya tidak disajikan sinonggi. Mosonggi dilakukan oleh ibu-ibu maupun bapak-bapak yang beraktivitas di dapur.

Olehnya, ketika menghadiri resepsi pernikahan maka tamu harus memesan khusus di dapur, apakah masih ada sinonggi. Salah satu sebabnya, yah tadi itu, sinonggi enaknya dihidangkan dalam keadaan hangat.

Ketersediaan Sagu Terancam
Hingga tahun 2019 ini, ketersediaan sagu di Sulawesi Tenggara masih ada. Terbukti dari masih banyak tepung sagu yang dijual di pasar. Hanya ke depan tidak ditahu apakah sagu akan menjadi langka untuk didapatkan.

Lahan-lahan sagu saat ini banyak beralih fungsi misalnya menjadi lahan sawit maupun persawahan. Kondisi realnya ada di Kolaka Timur. Pada awal tahun (Januari-Februari) 2019 ini, masyarakat di sana berdemo dan ribut soal menuntut ganti rugi pohon sagu dari perusahaan sawit.

Tentang tanaman sagu di Provinsi Sulawesi Tenggara, dalam penelusuran penulis, menemukan bahwa produksi sagu paling banyak berasal dari Kabupaten Konawe. Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2012, produksi sagu di kabupaten itu mencapai 2.298 ton pertahun.

Di Konawe, terdapat beberapa kecamatan sebagai penghasil sagu.  Ada satu kecamatan  yang produksi sagunya paling tinggi  yaitu di Kecamatan Bondoala (Konawe) dengan produksi 410 ton per tahun. Namun hal ini juga sepertinya tidak akan bertahan lama, sebab daerah itu juga sudah dimasuki sawit. Pohon-pohon sawit terlihat jelas bila melintasi Kecamatan Bondoala.

Data terakhir yang ada di situs BPS tentang produksi sagu di Sulawesi Tenggara, tercatat pada tahun 2014. Dilihat dari volume dan nilai perdagangan antar pulau, tanaman sagu tahun 2014 yaitu 2.754 ton produksinya per tahun.

Penulis: Muhamad Taslim Dalma