Haroa: Tradisi Masyarakat Muna-Buton Bernuansa Islami

Acara Haroa. Foto: Dok. Penulis
JENDELASULTRA.BLOGSPOT.COM, MUNA - Haroa atau lebih dikenal dengan istilah baca-baca merupakan tradisi dalam masyaratakat  Muna dan Buton. Tradisi ini dijaga secara turun-temurun dalam setiap keluarga, tak terkeculai masyarakat Kecamatan Tongkuno Kabupaten Muna. Di Tongkuno acara ini biasanya digelar oleh satu kelompok keluarga atau rumah tangga dengan dipimpin oleh seorang modhi. Tugas seorang modhi di sini adalah untuk memanjatkan doa yang ditandai dengan pembakaran dupa.  

Dalam prosesi acara Haroa tersedia makanan yang disajikan dalam nampan, di dalamnya terdapat daun pisang sebagai pengalasnya. Aneka makanan dalam nampan tersebut merupakan kuliner khas tradisional masyarakat Muna seperti Cucur, Waje, Sirikaya, Lapa-Lapa, dan lainnya. Nampan ini biasanya ditutupi dengan tudung saji yang dilapisi kain tertentu. Pada saat acara akan dimulai semua anggota keluarga yang hadir termasuk modhi membentuk posisi melingkari nampan berisi makanan tersebut. 

Modhi mengawali acara ini dengan bacaan syahadat dan istighfar, bacaan ayat suci Al-Qur’an kemudian dilanjutkan dengan bacaan tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir yang biasanya dibaca masing-masing 100 kali. Kemudian dilanjutkan  lagi dengan membaca doa tolak bala, kemudahan rezeki, dan pengampunan dosa untuk anggota keluarga yang telah meninggal dunia. Pada salah satu tahap membaca doa tersebut modhi melakukannya sambil membakar dupa. Prosesi baca-baca ini diakhiri dengan saling berjabat tangan dengan semua orang yang hadir. Untuk mulai makan bersama, modhi akan menyentuh bagian atas tudung saji sambil membacakan doa agar makanan itu menjadi berkah bagi keluarga dalam rumah itu.

Masyarakat yang ada di Tongkuno menganggap Haroa memiliki makna khusus untuk menghimpun kebersamaan dan mengenang para leluhur yang telah meninggal dunia. Kehangatan keluarga tampak dalam acara ini, tak jarang dalam acara Haroa diceritakan kembali silsilah keluarga dan berbagai pengalaman bersama anggota keluarga yang telah tiada atau sedang merantau.

Dalam masyarakat Muna pada umumnya biasanya tradisi Haroa wajib digelar pada Awal Puasa (1 Ramadhan), Malam Qunut (15 Ramadhan), Malam Turunnya Al Qur’an (17 Ramadhan), Malam Lailatul Qadr (27-29 ramadhan), Hari raya Idul Fitri, dan hari-hari besar agama Islam lainnya. Biasa juga dilaksanakan ketika anak diKampua (aqiqah), Kangkilo (sunat kampung), memasuki rumah baru, pernikahan, dan lainnya. Tradisi Haroa dianggap masyarakat setempat sebgai salah satu wujud keimanan terhadap Tuhan yang Maha Esa dan sebagai ungkapan rasa syukur.

Tradisi Haroa hanyalah sebagian kecil dari banyaknya kearifan lokal yang terdapat dalam masyarakat Muna. Jika Anda berkunjung ke Kabupaten Muna masih banyak tradisi-tradisi bernuansa Islami yang dapat Anda jumpai, seperti Kasambu, Sariga, Kangkilo, Katoba, Karia, dan masih banyak lagi. 

Keterangan :
*Modhi merupakan imam kampung yang bertugas sebagai juru doa ketika ada acara Haroa.


Penulis: Muhamad Taslim Dalma (Jurnalis ZonaSultra.Com)