Legenda Fotografer Kendari, 37 Tahun Jadi Tukang Potret

Om Anjas adalah seorang fotografer di Kota Kendari.
JENDELASULTRA.BLOGSPOT.COM – Satu-satunya orang yang paling lama menjadi fotografer di Kota Kendari adalah Anjas. Nama lengkapnya Anjas Sugio, orang-orang lebih mengenalnya dengan sapaan “Om Anjas”.

Pria kelahiran 1958 ini menjadi tukang potret sejak tahun 1982 silam. Saat menjadi fotografer, usianya terhitung menginjak 24 tahun.  Pada tahun 2019 ini, dia sudah 37 tahun menjalani profesi itu. Entah sudah berapa wajah yang diabadikan melalui lensa kameranya.

Selama 3 dekade lebih wara-wiri, motret sini motret sana, sungguh waktu yang sangat panjang, sehingga tak sedikit orang menganggapnya sebagai legenda perfotograferan di Kota Sinonggi.

Awalnya dia menjadi fotografer di daerah asalnya Wawonii (Konawe Kepulauan) pada 1982 dengan berkeliling kampung. Bermodal kamera analog (kamera yang masih mengandalkan roll film), Anjas muda keliling menawarkan jasanya.

Lalu pada tahun 1985, Anjas meninggalkan Wawonii. Dia mencoba peruntungan dengan datang di Kota Kendari, Ibu Kota Provinsi Sulawesi Tenggara. Di tahun-tahun ini Anjas banyak mendapatkan pelanggan warga Gunung Jati, dan Kota Lama Kendari. Anak-anak di Kecamatan Mandonga dan sekitarnya juga banyak yang tidak akan lupa dengan bidikan Anjas.

Di Gunung Jati, banyak warga ingin dipotret oleh Anjas. Langganannya bukan hanya orang tua tapi mulai dari anak-anak, ibu-ibu, hingga bayi tak luput dari jasa bidikan kameranya. Apalagi, ketika itu, jasa fotografer tak seramai sekarang ini dan smartphone belum lahir.

Pada tahun 2000-an ke atas hingga sekarang ini mulai menjamur fotografer dan studio foto di Kota Kendari. Plus teknonologi kamera smartphone luar biasa pesat kemajuannya. Bahkan beberapa anak-anak yang dulu dipotret oleh Anjas kini sudah menjalani profesi fotografer. Pun begitu, Anjas tetap dapat bertahan dan berakselerasi.

*Bertahan dengan Strategi
Tampilan Om Anjas terbilang nyentrik dan memiliki ciri khas tersendiri: memakai jas (kadang juga kemeja), wig (rambut palsu) tak pernah lepas, berkaca mata hitam, cincin batu akik di jari-jari, plus selalu menenteng kamera DSLR Canon EOS 1300. Kamera itu sudah cukup standar untuk seorang fotografer.

Keunikan lainnnya dari Om Anjas ini, tidak pernah memakai helem. Dengan motor (boleh dibilang sedikit butut), Anjas berkeliling Kota Kendari dengan bebasnya, mungkin satu-satunya orang di Kendari yang selalu lolos dari petugas.

Agar dapat bersaing-bertahan di dunia fotografer, Anjas menyasar kalangan elit mulai dari setingkat gubernur, kepala dinas, anggota DPRD, hingga bupati dan walikota. Anjas akan selalu hadir dalam pertemuan yang dihadiri oleh pejabat-pejabat tersebut.

Mengapa demikian? Karena banyak pelanggannya yang hendak mengabadikan momen bersama gubernur maupun bupati. Anjas tinggal membawa contoh foto yang sudah dicetak, ada pula contoh kalender.

Pelanggan tinggal memilih apakah fotonya perlu bingkai atau tidak, yang pastinya dalam hitungan setengah jam dan paling lama satu jam, pesanan foto sudah akan dibawakan Anjas di lokasi acara, saat pejabat masih ada, saat acara belum selesai. Pembayaran sudah pasti tunai lunas, apalagi kalau pejabat yang bayar foto itu, yah tidak banyak berhitung di hadapan orang banyak.

Gubernur Sulawesi Tenggara Ali Mazi dan Anjas
Kuncinya, usai memotret, Anjas dengan cepat tancap gas menuju studio foto langganannya, yang hasil cetakannya memang standar. Di studio itu sudah ada pilihan bingkai, tinggal diambil kalau pelanggannya memang perlu bingkai.

Begitulah sedikit cerita tentang Anjas. Tubuh boleh menua, zaman boleh berubah, namun ide kreativitas tak boleh tertinggal. Idenya, sebagaimana wig yang selalu mencitrakan jiwa muda, tak mengenal uban, tak ada namanya penuaan.

Penulis: Muhamad Taslim Dalma