Showing posts with label Metro Kendari. Show all posts
Showing posts with label Metro Kendari. Show all posts

Hilangnya Rumah Pintar untuk Anak-anak Putus Sekolah di Kendari


RUMAH PINTAR KENDARI - Seorang guru bernama Demalewa memberikan pelajaran matematika terhadap peserta didik Rumah Pintar, pada 5 Maret 2016. Dalam ruangan 4 x 6 meter itu tumpukan barang bekas nyaris memenuhi tempat belajar mengajar.
JENDELASULTRA.BLOGSPOT.COM - Rumah Pintar adalah nama sebuah tempat belajar anak-anak putus sekolah di Kota Kendari. Berada  di bengkel sepeda milik Suroto,  jalan Pembangunan nomor 25 A Kelurahan Sanua, Kecamatan Kendari barat, Tepat di depan Madarasah Ibtidayah Negeri  (MIN) Kendari. Jarak antara Rumah Pintar dan madrasah tersebut hanya dibatasi oleh dua ruas jalan raya.

 Di bengkel  pak Suroto itulah kegiatan belajar mengajar berlangsung setiap hari Sabtu. Bengkel tersebut terbagi 2 bilik, satu untuk keluarga Pak Suroto beraktivitas dan satunya lagi dikhususkan untuk ruang kelas.

Pasti tidak ada yang menyangka jika ruang 4x6 meter itu adalah ruang kelas. Lihat saja, tumpukan barang bekas nyaris memenuhi ruangan itu. Bahkan di belakang papan tulis yang menjadi penanda bahwa itu tempat belajar mengajar terdapat sebuah kurungan ayam jago jenis Bangkok.

Suasana belajar anak-anak ini cukup tenang di bilik dengan dua papan tulis itu. Sesekali ada yang bertanya tentang pelajaran  dan sesekali pula harus terhenti sekedar membiarkan ayam jago Suroto melepaskan kokokannya yang parau.

Namun itu semua adalah potret 5 Maret 2016 silam. Pada awal Juni 2020 ini, rumah pintar tersebut sudah lama tak beroperasi. Entah bagaimana kelanjutan dunia pendidikan para anak-anak itu. Pak Suroto pun saat ini fokus mengurusi bengkelnya, bengkel motor.

Guru  Relawan

Pada 2016 lalu, salah seorang guru yang rutin mengajar matematika di Rumah Pintar bernama Demalewa. Dia manjadi guru pegawai negeri sudah 30 tahun dan mengasuh mata pelajaran matematika di SMP Negeri 13 Kendari.

Baginya mengajar di Rumah Pintar merupakan sebuah panggilan hati. Tanpa hitungan jam sertifikasi dan tanpa embel-embel balas jasa lainnya.

Selain dirinya, terdapat beberapa tanaga pengajar lainnya, mulai dari guru bahasa inggris, guru bahasa Indonesia, dan terkadang juga mahasiswa.

 “Biasanya Pak Suroto menelpon, siapa saja yang sempat datang berarti dia yang mengajar. Kadang gurunya sudah hadir tapi anak belum banyak yang terkumpul. Yah Pak Suroto biasanya harus menjemput satu persatu di tempat tinggal anak-anak itu ,” cerita Demalewa, 2016 silam.

Digagas Tukang Bengkel 
Suroto namanya, dengan profesi sebagai tukang bengkel sepeda.  Rambutnya  sudah memutih (Uban), usianya tak lagi muda, 63 tahun (berarti sekarang 67) suatu keadaaan di mana manusia memasuki masa senjanya.  Namun tak disangka di usia yang demikian justru kesadaran tentang pentingnya pendidikan semakin kuat. Pria asal Surabaya ini  mendirikan Rumah Pintar tepat 1  Maret 2015.

Suroto memang pada dasarnya adalah seorang aktivis. Sebelum aktif mengurus Rumah Pintar, dia pernah menjadi Ketua organisasi Gerakan Rakyat Miskin Bersatu (Germis) Kendari selama 8 tahun (2007-2015), sebuah organisasi yang fokus memperhatikan masyarakat miskin.

Ketertarikan Suroto untuk mendirikan kelas belajar bagi anak-anak putus sekolah  mulai muncul ketika aktif di Germis. Hanya saja belum ada yang mau kerja sama untuk mendirikan tempat belajar seperti Rumah Pintar. Pasca aktif di Germis,  dia dekat dengan organisasi Sedekah Jumat Berjamaah (SJB)  yang kegiatan rutinnya setiap hari Jum’at berkeliling sedekah menyalurkan beras, nasi bungkus dan lainnya. Lewat organisasi inilah jadi cikal bakal berdirinya Rumah Pintar.

“Kalau bisa jangan hanya bersedekah tapi kita kumpulkan juga anak-anak yang putus sekolah supaya bagaimana bisa setara dengan anak-anak yang ada di sekolah negeri dan mendapatkan ijazah. Semua sepakat untuk mendirikan sebuah kelas belajar yang di kemudian hari dinamai Rumah Pintar,” ujar Suroto kala itu.

Setelah sepakat dengan SJB, Suroto yang  memang memiliki pengalaman organisasi, mulai mengurus segala dokumen untuk mendirikan sebuah tempat belajar sederhana namun berstatus seperti sekolah pada umumnya. Alhasil, pemerintah memberikan izin penyelenggaraan kesetaraan Paket A dan Paket B.
Pak Suroto adalah tukang bengkel sepeda  yang menggagas Rumah Pintar.

Ketika itu, ia berharap pemerintah bisa memfasilitasi Rumah Pintar sehingga dapat dizinkan membuka kelas untuk paket C (setara SMA). Agar anak-anak didik bisa yang sudah mendapat ijazah paket B bisa tetap bertahan di Rumah Pintar jika tidak melanjutkan di sekolah lain.

Untuk tempat belajar tidak ada tempat lain selain di bengkel milik Suroto . Hal itu tidak lain karena pertimbangan anggaran dan mahalnya rumah kontrakan . Kata Suroto, dia pernah berkomunikasi dengan pihak  Madrasah di depan bengkelnya itu, untuk menggunakan salah satu ruangan sekolah. Namun urung dilakukan karena  alasan psikologis peserta didik dan ruang sekolah yang juga digunakan pada hari Sabtu.

Rumah Pintar di bengkel  Suroto  memiliki peserta didik aktif 6 orang paket A dan 14 orang paket B dengan cukup variatif, ada yang berumur 7 tahun sampai 20 tahun. Bahkan  ada beberapa siswa  yang sudah berumah tangga.

Alasan Rumah Pintar Didirikan
Keinginan besar Suroto adalah agar anak-anak di Kendari tidak ada yang buta huruf. Selain itu, alasan digagasnya Rumah Pintar agar anak-anak di Kendari yang putus sekolah tidak bernasib sama seperti dirinya yang hanya sampai kelas 1 SD. Belum lagi anak-anaknya sendiri 7 orang (5 laki-laki, 2 perempuan), 6 orang tak sampai lulus SD. Hanya putri bungsunya  duduk di kelas 8  salah satu SMP di Kendari.

Ketika awal berdirinya Rumah Pintar, penolakan justru bukan dari anak tapi datang dari orang tua anak. Kadang-kadang orang tua lebih menginginkan anaknya untuk bekerja. Namun setelah diberikan pengertian dan pemahaman dari  Suroto, akhirnya orang tua dapat mengerti dan mau menyekolahkan anaknya di Rumah Pintar.

Bersekolah di  Rumah Pintar tidak dipungut biaya apapun karena mulai dari alat tulis, penghapus, buku dan lain-lain itu disediakan. Malah kadang-kadang Pak Suroto harus  patung-patungan dengan pengurus SJB menyewa mikrolet untuk  menjeput satu persatu anak  didik untuk datang belajar di Rumah Pintar.

Menurut Suroto, orang tua peserta didik Rumah Pintar tidak menyekolahkan anak-anak mereka karena masalah ekonomi. Banyak orang tua anak didik Rumah Pintar dari kalangan tukang ojek, pemulung, bahkan pengemis.  Selain itu biasanya karena nilai rapor atau ujian yang rendah sehingga sangat susah untuk masuk di sekolah negeri ketika tamat SD atau SMP. Kalaupun lulus di sekolah negeri biasanya jauh dari tempat anak-anak itu tinggal.

“Memang katanya sekolah sekarang katanya gratis, tapikan untuk pakaian sekolah, sepatu, buku, alat tulis harus beli sendiri. Mereka mana mampu, beli beras saja susah. Olehnya kalau bukan kita-kita ini yang perhatikan mereka siapa lagi,” ujar Pak Suroto. (***)

Penulis: Muhamad Taslim Dalma

Legenda Fotografer Kendari, 37 Tahun Jadi Tukang Potret

Om Anjas adalah seorang fotografer di Kota Kendari.
JENDELASULTRA.BLOGSPOT.COM – Satu-satunya orang yang paling lama menjadi fotografer di Kota Kendari adalah Anjas. Nama lengkapnya Anjas Sugio, orang-orang lebih mengenalnya dengan sapaan “Om Anjas”.

Pria kelahiran 1958 ini menjadi tukang potret sejak tahun 1982 silam. Saat menjadi fotografer, usianya terhitung menginjak 24 tahun.  Pada tahun 2019 ini, dia sudah 37 tahun menjalani profesi itu. Entah sudah berapa wajah yang diabadikan melalui lensa kameranya.

Selama 3 dekade lebih wara-wiri, motret sini motret sana, sungguh waktu yang sangat panjang, sehingga tak sedikit orang menganggapnya sebagai legenda perfotograferan di Kota Sinonggi.

Awalnya dia menjadi fotografer di daerah asalnya Wawonii (Konawe Kepulauan) pada 1982 dengan berkeliling kampung. Bermodal kamera analog (kamera yang masih mengandalkan roll film), Anjas muda keliling menawarkan jasanya.

Lalu pada tahun 1985, Anjas meninggalkan Wawonii. Dia mencoba peruntungan dengan datang di Kota Kendari, Ibu Kota Provinsi Sulawesi Tenggara. Di tahun-tahun ini Anjas banyak mendapatkan pelanggan warga Gunung Jati, dan Kota Lama Kendari. Anak-anak di Kecamatan Mandonga dan sekitarnya juga banyak yang tidak akan lupa dengan bidikan Anjas.

Di Gunung Jati, banyak warga ingin dipotret oleh Anjas. Langganannya bukan hanya orang tua tapi mulai dari anak-anak, ibu-ibu, hingga bayi tak luput dari jasa bidikan kameranya. Apalagi, ketika itu, jasa fotografer tak seramai sekarang ini dan smartphone belum lahir.

Pada tahun 2000-an ke atas hingga sekarang ini mulai menjamur fotografer dan studio foto di Kota Kendari. Plus teknonologi kamera smartphone luar biasa pesat kemajuannya. Bahkan beberapa anak-anak yang dulu dipotret oleh Anjas kini sudah menjalani profesi fotografer. Pun begitu, Anjas tetap dapat bertahan dan berakselerasi.

*Bertahan dengan Strategi
Tampilan Om Anjas terbilang nyentrik dan memiliki ciri khas tersendiri: memakai jas (kadang juga kemeja), wig (rambut palsu) tak pernah lepas, berkaca mata hitam, cincin batu akik di jari-jari, plus selalu menenteng kamera DSLR Canon EOS 1300. Kamera itu sudah cukup standar untuk seorang fotografer.

Keunikan lainnnya dari Om Anjas ini, tidak pernah memakai helem. Dengan motor (boleh dibilang sedikit butut), Anjas berkeliling Kota Kendari dengan bebasnya, mungkin satu-satunya orang di Kendari yang selalu lolos dari petugas.

Agar dapat bersaing-bertahan di dunia fotografer, Anjas menyasar kalangan elit mulai dari setingkat gubernur, kepala dinas, anggota DPRD, hingga bupati dan walikota. Anjas akan selalu hadir dalam pertemuan yang dihadiri oleh pejabat-pejabat tersebut.

Mengapa demikian? Karena banyak pelanggannya yang hendak mengabadikan momen bersama gubernur maupun bupati. Anjas tinggal membawa contoh foto yang sudah dicetak, ada pula contoh kalender.

Pelanggan tinggal memilih apakah fotonya perlu bingkai atau tidak, yang pastinya dalam hitungan setengah jam dan paling lama satu jam, pesanan foto sudah akan dibawakan Anjas di lokasi acara, saat pejabat masih ada, saat acara belum selesai. Pembayaran sudah pasti tunai lunas, apalagi kalau pejabat yang bayar foto itu, yah tidak banyak berhitung di hadapan orang banyak.

Gubernur Sulawesi Tenggara Ali Mazi dan Anjas
Kuncinya, usai memotret, Anjas dengan cepat tancap gas menuju studio foto langganannya, yang hasil cetakannya memang standar. Di studio itu sudah ada pilihan bingkai, tinggal diambil kalau pelanggannya memang perlu bingkai.

Begitulah sedikit cerita tentang Anjas. Tubuh boleh menua, zaman boleh berubah, namun ide kreativitas tak boleh tertinggal. Idenya, sebagaimana wig yang selalu mencitrakan jiwa muda, tak mengenal uban, tak ada namanya penuaan.

Penulis: Muhamad Taslim Dalma

Rahasia Kesempurnaan Hidangan Sinonggi Khas Sulawesi Tenggara

Makanan khas Sulawesi Tenggara, Sinonggi
JENDELASULTRA.BLOGSPOT.COM – Sinonggi adalah makanan khas Sulawesi Tenggara (Sultra) yang dibuat dari bahan dasar sagu. Sinonggi hanya mudah ditemui beberapa daerah Sulawesi Tenggara, dimana pohon sagu tumbuh subur.

Wilayah penyebaran pohon sagu paling besar ada di Kota Kendari, Konawe, Konawe Selatan, Konawe Utara, dan Kolaka Timur. Masyarakat yang berdiam di daerah-daerah ini terkenal ahli meracik sagu menjadi makanan khas sinonggi, khususnya dari suku Tolaki. Tak heran bila sinonggi juga disebut manakanan khas Tolaki.

Memasak sinonggi memang terlihat mudah karena hanya disiram air panas, diaduk-aduk lalu jadi. Namun sebenarnya tidak segampang itu (bagi yang belum ahli). Dalam keadaan tertentu sinonggi tidak akan jadi (tetap encer) meski sudah disiram air panas dan diaduk. Kadang pula sinonggi yang jadi begitu lengket, ada pula sinonggi yang berwarna keunguan. Ada pula yang masih bercampur kotoran.

Lalu apa rahasianya? Ternyata ada tata cara khusus untuk mendapatkan hidangan sinonggi yang putih bak kapas baru mekar, kenyal, tidak lengket, dan membangkitkan selera makan. Caranya, mula-mula tepung sagu dicampur air biasa dalam baskom, lalu didiamkan semalaman.

Proses itu, akan membuat tepung sagu putih mengendap, sementara kotoran dan tepung sagu yang agak coklat akan terangkat ke permukaan air. Setelah itu, airnya ditumpah dan yang tersisa adalah tepung sagu basah yang putih bersih.

Proses selanjutnya, sagu ditaruh di baskom, ditambahkan minyak (apa saja yang penting minyak kelapa) satu sendok makan dan perasan jeruk nipis. Lalu, disiram air mendidih dan aduk-aduk. Sagu yang yang telah disiram air panas harus terus diaduk hingga menggumpal dan percampuran air dan sagu merata hingga tidak ada bintik-bintik tepung.

Takaran antara air dan sagu harus disesuaikan. Bila terlalu banyak air maka sinonggi yang dihasilkan bening dan tidak begitu menggumpal, namun bila takaran airnya pas maka sinonggi yang dihasilkan tampak putih bersih dan kenyal. Manfaat ditambahkan minyak kelapa adalah agar sinonggi yang dihasilkan tidak lengket.

Penyajian Sinonggi
Sinonggi biasa disajikan dengan makanan khas lainnya yang berkuah seperti ikan palumara (hidangan ikan) dan ayam tawaloho. Penyajiannya, mula-mula piring diberi kuah ikan palumara, perasan jeruk nipis, dan lombok biji. Dari wadah, sinonggi digulung dengan dua batang sumpit lalu ditaruh di piring yang telah lengkap dengan kuah tadi.

Sinonggi yang masih hangat sangat tepat untuk segera dimakan, apalagi bila kuah ikannya juga yang masih hangat. Namun, bila sudah dingin, rasanya cenderung berbeda dan hanya sedikit orang yang menyukainya.

Cara menyantapnya pun berbeda-beda. Masyarakat lokal biasanya menggunakan dua jari atau tiga jarinya untuk mengambil sinonggi dalam piring. Mereka tampak ahli mengambil sinonggi itu, seperti gerakan mencubit lalu dengan sigap memasukan potongan sinonggi ke mulut. Namun bagi yang tidak terbiasa, maka menggunakan sendok adalah pilihan satu-satunya.

Tradisi Mosonggi
Ada sebuah kebiasaan dalam masyarakat Tolaki yang sepertinya sudah menjadi tradisi. Kegiatan itu disebut “mosonggi”. Kegiatan ini bentuk kumpul-kumpul antara anggota keluarga maupun sesama teman.

Mosonggi dilakukan dalam kelompok tertentu. Kebersamaan dan keakraban sangat terlihat dalam acara ini, mulai dari menyiapkan bahan-bahan masakan pendamping sinonggi hingga memasaknya pun bersama-sama.

Mosonggi tak hanya dilakukan dalam acara kumpul-kumpul biasa di rumah sendiri. Kegiatan itu juga dilakukan ketika acara-acara besar seperti bila ada resepsi pernikahan.

Hanya saja dalam resepsi pernikahan di atas meja hidangan biasanya tidak disajikan sinonggi. Mosonggi dilakukan oleh ibu-ibu maupun bapak-bapak yang beraktivitas di dapur.

Olehnya, ketika menghadiri resepsi pernikahan maka tamu harus memesan khusus di dapur, apakah masih ada sinonggi. Salah satu sebabnya, yah tadi itu, sinonggi enaknya dihidangkan dalam keadaan hangat.

Ketersediaan Sagu Terancam
Hingga tahun 2019 ini, ketersediaan sagu di Sulawesi Tenggara masih ada. Terbukti dari masih banyak tepung sagu yang dijual di pasar. Hanya ke depan tidak ditahu apakah sagu akan menjadi langka untuk didapatkan.

Lahan-lahan sagu saat ini banyak beralih fungsi misalnya menjadi lahan sawit maupun persawahan. Kondisi realnya ada di Kolaka Timur. Pada awal tahun (Januari-Februari) 2019 ini, masyarakat di sana berdemo dan ribut soal menuntut ganti rugi pohon sagu dari perusahaan sawit.

Tentang tanaman sagu di Provinsi Sulawesi Tenggara, dalam penelusuran penulis, menemukan bahwa produksi sagu paling banyak berasal dari Kabupaten Konawe. Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2012, produksi sagu di kabupaten itu mencapai 2.298 ton pertahun.

Di Konawe, terdapat beberapa kecamatan sebagai penghasil sagu.  Ada satu kecamatan  yang produksi sagunya paling tinggi  yaitu di Kecamatan Bondoala (Konawe) dengan produksi 410 ton per tahun. Namun hal ini juga sepertinya tidak akan bertahan lama, sebab daerah itu juga sudah dimasuki sawit. Pohon-pohon sawit terlihat jelas bila melintasi Kecamatan Bondoala.

Data terakhir yang ada di situs BPS tentang produksi sagu di Sulawesi Tenggara, tercatat pada tahun 2014. Dilihat dari volume dan nilai perdagangan antar pulau, tanaman sagu tahun 2014 yaitu 2.754 ton produksinya per tahun.

Penulis: Muhamad Taslim Dalma

Mengenal Warkop Haji Anto Kendari yang Dikunjungi Jokowi

Warung Kopi (Warkop) Haji Anto di Kendari.
JENDELASULTRA.BLOGSPOT.COM – Warung Kopi (Warkop) Haji Anto adalah salah satu kedai kopi paling populer/terkenal di Kota Kendari dengan sajian minuman kopi khas. Menu andalannya adalah Kopi Susu, perpaduan antara kopi robusta dan susu kental manis. Selain itu, ada pula kopi hitam.

Kedai itu didirikan oleh seseorang bernama Anto, yang kemudian lebih dikenal dengan gelar haji-nya. Warkop Haji Anto mulai dikenal banyak orang sejak tahun 2007. Selain karena letaknya yang strategis di tengah Kota Kendari, juga memang hidangan kopinya yang enak.  Sejak saat itu terus berkembang, dan terakhir telah mendirikan cabang baru di Kota Kendari.

Kini Warkop Haji Anto ada dua yakni Kopi Haji Anto 1 yang beralamat di jalan Made Sabara, Kelurahan Korumba, Kecamatan Mandonga sedangkan Kopi Haji Anto 2 beralamat di jalan Buburanda, Kelurahan Lalolara, Kecamatan Kambu. Bangunan Warkop Haji Anto 2 itu sedikit lebih bagus.

Kedai kopi ini mulai buka dari pagi (sekitar pukul 07.00) hingga lewat tengah malam pukul 02.00 dini hari. Warkop ini selalu ramai dengan pegunjung dari berbagai kalangan, mulai dari anak muda, pengusaha/kontraktor, politisi, hingga pejabat.

Saking terkenalnya, bahkan Warkop Haji Anto jadi tempat berkunjung pejabat tinggi dari Jakarta yang ke Kendari. Terbaru adalah Presiden Joko Widodo (Jokowi) datang di Warkop Haji Anto 2 pada Jumat (1/3/2019) malam, sebagai bagian dari agendanya di Sulawesi Tenggara (Sultra). 

Tampilan bangunan Warkop Haji Anto tidak berbeda jauh dengan kedai-kedai kopi lainnya di Kota Kendari. Di Warkop Haji Anto 1: berlantai 1, menonjol warna merah tampak dari warna cat dindingnya, dan memiliki halaman parkir yang cukup luas.

Warkop Haji Anto 2: ada lantai dua sebagai tempat pertemuan, lantai bawah cukup luas, halaman parkirnya lebih luas lagi, dan tepat berada di samping Sungai Wanggu.  Kedai yang masih baru ini berhadapan langsung dengan Teluk Kendari dan jalan masuk Masjid Al Alam. Lokasinya sangat cocok untuk bersantai dengan adanya tiupan angin laut.

Salah satu yang paling membedakan Warkop Haji Anto dengan kedai kopi lainnya adalah slogan  yang berbunyi “mau jadi gubernur, walikota, bupati, anggota DPR minum kopi Haji Anto”. Di dinding-dinding kedai tampak terpampang foto berbingkai berisi pemilik/perintis Haji Anto bersama sejumlah pejabat. 

Mungkin memang, slogan demikian ada yang terbukti. Sebab di Warkop Haji Anto segala pembicaraan dilakukan. Diskusi-diskusi pemenangan politik hingga saling mengakrabkan diri sebagai sesama penyuka kopi sudah menjadi hal yang tak terpisahkan antara warung kopi dan politik. Kadang isu-isu sentral justru berasal dari obrolan warung kopi.

Informasi yang dihimpun, bahan kopi yang ada di Warkop Haji Anto berasal dari Makassar, Sulawesi Selatan. Kopi robusta sengaja didatangkan dari luar karena rasanya yang khas. Kopi itu dikenal juga sebagai “kopi setia”, yang mungkin maknanya selalu setia menemani saat lagi mengobrol dengan teman-teman.

Para penikmat kopi di Kendari, bila tidak datang di Warkop Haji Anto maka biasanya memesan untuk diantarkan lewat jasa kurir. Kedai itu menyediakan kemasan khusus sehingga di kantor dan di rumah pun, kopi susu Haji Anto tetap dapat dinikmati.

Penulis: Muhamad Taslim Dalma

Air Terjun di Puncak Kota Kendari, Keindahan Alam Tersembunyi


JENDELASULTRA.BLOGSPOT.COM – Kota Kendari sebagai ibukota Provinsi Sulawesi Tenggara ternyata menyimpan beberapa keindahan alam yang tersembunyi. Kota yang boleh disebut Kota Sinonggi (makanan khas tradisional dari sagu) ini tak hanya memiliki teluk Kendari tapi juga air terjun. (Baca: Berkunjung ke Kendari, Ayo Datangi Air Terjun Ini)

Lokasi air terjun terdekat berada di Nanga-Nanga, Kecamatan Kambu, tidak jauh dari kantor Gubernur. Sementara Air terjun yang satunya lagi tersembunyi di puncak pegunungan Nipa-Nipa. Lokasinya masuk dalam Kawasan Konservasi Tahura Nipa-Nipa. Dulunya dikenal sebagai Tahura Murhum.

Masyarakat setempat dan pendaki bisa menyebut  destinasi wisata tersebut Air Terjun Amarilis. Spotnya tak sulit untuk diakses. Langkah pendakian bisa diawali dari Lorong Amarilis tepat di samping kantor DPRD Kota Kendari. 

Perjalanan menuju puncak Tahura Nipa-Nipa, dulunya hanya dapat ditempuh dengan berjalan kaki mendaki. Namun karena kini jalannya sudah agak lapang, beberapa pengunjung biasanya menggunakan sepeda motor sampa ke atas. Jika ditempuh dengan berjalan maka membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam dan paling cepat 1 jam tanpa istrahat.

Setelah sampai di puncak, pengunjung tak akan langsung bertemu air terjun. Sajian pemandangan awal adalah kota mini dalam artian seluruh wilayah Kota Kendari terlihat jelas. Pemandangan dari puncak tertinggi ini tampak lebih indah. Kota Kendari Kota Bertakwa tampak terbelah oleh garis teluk. Belum lagi jika malam datang, perpaduan kelap-kelip lampu akan menentramkan suasana di puncak yang sunyi dan tenang.

Biasanya pengunjung akan bertahan semalaman di puncak dengan mendirikan kemah. Lalu kemudian, untuk merasakan air terjun yang lumayan dingin pengunjung harus menuruni tebing bebatuan  sekira 120 meter. Tebingnya cukup terjal dengan batu-batu alam tersusun kokoh. Menuruni tebing bersama teman apalagi kekasih akan memberi kenangan manis tersendiri sebab sesekali harus saling berpegangan erat (He..He..).



Tinggi air terjunnya sekira 7 atau 9 meter (kalo tidak salah). Lokasi ini diselimuti oleh batu alam dan pepohonan yang rindang. Matahari hanya akan muncul dari sela-sela pepohonan dan bebatuan. Air yang mengucur deras dari puncak bebatuan menghasilkan irama yang memecah kesunyian.

Bagi yang suasana hatinya sedang berada di puncak-puncak gelisah maka destinasi wisata ini bisa jadi opsi pengobatan alamiah. Atau bagi yang penat dengan kesibukan pekerjaan sehari-hari dapat sekali-kali berkunjung ke spot ini.

Airnya yang sejuk dan mengucur juga tepat untuk mandi. Batuan yang tidak licin, dapat dipanjati untuk menguji adrenaline. Para pengunjung juga biasanya tak melewatkan kesempatan untuk berfoto dan berselfie/bergroufie. (Baca juga: Keistimewaan Puncak Amarilis: Aneka Warna Batu Alam Tersaji)


Penulis: Muhamad Taslim Dalma

Ternyata di Kendari Lebih Banyak Wanita Daripada Pria


JENDELASULTRA.BLOGSPOT.COM - Bahasan soal jumlah pria dan wanita dalam suatu daerah maka yang terpikir adalah bagaimana peluang poligami? Atau seberapa banyak yang jomblo. Namun pembahasan ini tidak akan menjurus ke hal-hal seperti itu. Tulisan ini hanya hendak menggambarkan jumlah pria dan wanita dari data yang ada.

Kota Kendari atau yang dikenal sebagai kota bertakwa merupakan ibu kota Sulawesi Tenggara (Sultra) dengan penduduk terpadat. Dibanding dengan daerah-daerah lainnya di jazirah Sultra, boleh dikatakan Kendari memiliki penduduk terbanyak.

Kota Kendari atau sebut saja kota Sinonggi (makanan khas dari sagu) ini, diperkirakan pada tahun 2016-2017 penduduknya sudah mencapai 359.310 orang (perempuan dan laki-laki). Kendati demikian belum ada data real pada rentang tahun 2016-2017.

Perkiraan tersebut didapat hanya dari data Badan Pusat Statistik (BPS) Kendari bahwa jumlah penduduk Kendari 2015 yakni 347.496 yang disandingkan dengan rata-rata pertumbuhan penduduk di Indonesia bergerak pada angka 3,4 persen pertahun maka diperoleh data 359.310.

Namun demikian 359.310, tidak seluruhnya tercatat sebagai warga Kendari sebab masih banyak warga yang tercatat sebagai warga luar Kendari atau pendatang. Kota Kendari hanyalah sebagai tempat persinggahan bagi aktifitas ekonomi, bisnis, wisata, dan lainnya.

Untuk mengetahui jumlah wanita dewasa dan pria dewasa maka bisa dilihat dari Jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang ditetapkan Komisi Pemilhan Umum (KPU) Kota Kendari. Hitungannya memang tidak termasuk anak-anak sebab tulisan ini hanya memberikan gambaran real jumlah wanita dan pria yang sudah dewasa. DPT juga dapat memberikan gambaran mana saja warga yang benar-benar tercatat di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kota Kendari.

Dari data DPT yang ditetapkan KPU pada 6 Desember 2016, jumlah wanita menembus angka 90.964 orang sedangkan pria/laki-laki hanya 88.450. Total laki-laki dan perempuan yang tercatat hanya 179.414. Dari data tersebut dapat dilihat bahwa selisih pria dan wanita mencapai 2.514. (Baca Juga: Penduduk Kota Kendari Lebih Banyak Laki-Laki, Ini Buktinya)

 
Penulis: Muhamad Taslim Dalma


Eksotisme Pulau Hari, Destinasi Wisata Dekat Kota Kendari


JENDELASULTRA.BLOGSPOT.COM, Pulau-pulau di Sulawesi Tenggara ibarat “gugusan bintang” yang belum menampakkan sinar kemilau. Padahal dari segala jualan wisata, keindahan pasir putih berserakan dan surga bawa laut masih banyak tak terjamah.

Siapa tak kenal Wakatobi, populer ke manca negara dengan Istilah surga bawah lautnya. Bahkan kini gambar dan namanya sudah mengabadi dalam uang rupiah. Jazirah Sulawesi di bagian tenggara ini begitu luas ini terdapat destinasi tandingan Wakatobi yang tak kalah banyak dan istimewa. Pilihannya adalah Pulau Hari, pulau kecil yang menawarkan serakan pasir putih melingkar dan istanah bawah laut di kedalaman 1 sampai 5 meter.

Untuk sampai ke sana, pilihan transportasi bisa dengan menyewa  Perahu sewaan yang  banyak terdapat di pelabuhan rakyat dekat area kompleks Pasar Sentral Kota Lama, Kendari. Bila dari Bandara Halu Oleo Kendari, cukup naik bus Trans Lulo untuk sampai ke Pelabuhan Rakyat itu. Hanya 15 menit perjalanan dari Bandara. Kemudian dari Pelabuhan Rakyat ke Pulau Hari memakan waktu sekitar satu jam.




Secara georafis Pulau Hari terletak di bagian Utara dari Kabupaten Konawe Selatan (Konsel), melintang dari Utara ke Selatan antara 04002m 13.3 dan 04002m 17.4 Lintang Selatan, membujur dari Barat ke Timur antara 122046.37.1 dan 122.46.41.3 bujur Timur. Struktur pulau ini diselimuti oleh bebatuan keras. Masyarakat lokal menyebutnya jenis batu Moramo. Pepohonan nampak tumbuh kokoh di atas bebatuan.

Luas pulau yang sekira 14 hektar ini memiliki garis pantai yang tidak begitu panjang.  Garis pantainya hanya sekira 15 sampai 40 meter. Bentuk pantainya yang putus-putus karena bebatuan memberi panorama tersendiri bagi yang ingin mengabadikan gambar atau sekedar berfoto selfie maupun grufie.

Di salah satu sudut pulau terdapat ukiran batu yang menunjukkan bahwa destinasi wisata ini telah dikunjungi sejak masa pemerintahan Presiden Soeharto. “WELCOME TO PULAU HARI, VISIT INDONESIA 1991” tulisan yang terukir di batu tersebut seperti sebuah prasasti yang kemungkinan dibuat oleh pemerintah saat itu.

Di sekitar pulau tak berpenghuni ini, memandang jauh hanya ada lembah dan lautan luas tak terpermanai. Menikmati sepi dan sunyi sangat tepat dengan sekedar duduk di pasir putih pantainya atau berjalan menyusuri sebagian lianggaran pulau.

Sesekali pada pagi atau sore, kapal cepat rute Kendari-Raha  akan melintas di samping Pulau ini. Selain itu, kapal-kapal nelayan kecil pemancing juga biasa berseliweran di sekitar pulau. Wisatawan bisa langsung memesan hasil pancingan para nelayan tersebut, tentu dengan harga normal bisa dapat ikan atau cumi-cumi segar.

Untuk menikmati pemandangan bawah laut nan elok eksotis bisa dilakukan dengan diving ataupun snorkling. Terumbu karang yang masih asri dan ikan-ikan hias aneka warna seperti keluarga Nemo dapat diamati mulai dari kedalaman 1 sampai 7 meter. Tak hanya itu, bintang-bintang laut, ular laut, masih nampak jelas dan bersahabat. Plus air yang  jernih biru kehijauan menambah eksotisme tersendiri.



Di salah satu bagian spot penyelaman kita akan menemukan palung laut yang penuh dengan terumbu karang, bentuknya seperti jurang menikam jauh ke bawah laut. Di sekitar palung tersebut, pemandangan ikan-ikan seukuran telapak tangan terhidang.

Namun sayang, dibalik keindahan itu tersimpan ancaman biota laut yang hendak mempertahankan eksistensinya. Ekosistem mereka terancam,  dapat dilihat dari sebagian kecil spot penyelaman. Karang-karang terlihat hancur dan berserakan. 




Hal ini diduga disebabkan tangan-tangan jahil yang menangkap ikan dengan menggunakan bom. Ekosistem sekitar Pulau Hari yang masih cantik jelita mengundang ikan-ikan untuk mendekat dan kehadiran ikan-ikan itu nampaknya menjadi incaran para pombom ikan.



Penulis: Muhamad Taslim Dalma

Tahukah Anda Jumlah Sarana Transportasi di Kota Kendari? Sepeda Motor "Rajanya"

Grafik Presentase Jumlah Kendaraan di Kota Kendari Sepanjang Tahun 2013 – 2014. Sumber: status lingkungan hidup (SLHD) Kota Kendari Tahun 2014.
JENDELASULTRA.BLOGSPOT.COM, KENDARI - Sarana transportasi atau kendaraan bermotor di Kota Kendari memegang peranan yang sangat penting dalam pertumbuhan ekonomi. Ekonomi akan maju identik dengan pertumbuhan transportasi suatu daerah. (Baca Juga: Penduduk Kota Kendari Lebih Banyak Laki-Laki, Ini Buktinya)

Sarana transportasi sudah menjadi kebutuhan pokok masyarakat Kota Kendari di zaman modern ini. Di ibu kota provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) ini Transportasi sangat dikenal jelas oleh masyarakat baik masyarakat yang kemampuan ekonomi tinggi maupun rendah.

Transportasi di Kota Kendari mempunyai banyak jenis mulai dari darat, laut, dan udara. Contohnya : mobil pete-pete, sepeda motor, kapal cepat (ada Sagori dan cantika), pesawat terbang.

Sarana Transportasi dapat  dikategorikan menjadi berbagai macam tapi yang akan dibahas yaitu angkutan darat dan angkutan laut. Berdasarkan laporan status lingkungan hidup (SLHD) Kota Kendari Tahun 2014 kendaraan bermotor terus bertambah bahkan melebihi perkiraan.

"Sarana transportasi sepeda motor merupakan mayoritas yang ada di Kota Kendari dengan pencapaian jumlah 128.257 atau sekitar 87%," dalam SLHD Kota Kendari 2014. Sementara untuk tahun 2015 ini diperkirakan akan terus meningkat dengan pertambahan berbagai bentuk sarana transportasi.
Jumlah Kendaraan di Kota Kendari Sepanjang Tahun 2013 – 2014. Sumber: status lingkungan hidup (SLHD) Kota Kendari Tahun 2014.


 Penulis: Muhamad Taslim Dalma (Jurnalis ZonaSultra.Com)








Penduduk Kota Kendari Lebih Banyak Laki-Laki, Ini Buktinya

Grafik Presentase Jumlah Penduduk Kota Kendari Jenis Kelamin Perempuan Dibandingkan dengan Laki-Laki. Sumber: Dinas Lingkungan Hidup Kota Kendari.
JENDELASULTRA.BLOGSPOT.COM - Berdasarkan laporan Status Lingkungan Hidup Daerah (SLHD) Kota Kendari tahun 2014 bila dilihat berdasarkan rasio jenis kelamin di kota kendari terdapat lebih banyak laki-laki dengan jumlah 153.922 jiwa dari pada perempuan dengan jumlah150.94 jiwa . 

Rasio jenis kelamin adalah perbandingan antara banyaknya penduduk laki-laki dengan penduduk perempuan pada suatu daerah dan waktu tertentu. Biasanya dinyatakan dengan banyaknya penduduk laki-laki untuk 100 perempuan. Rasio jenis kelamin penduduk Kota Kendari sebesar 304.862 jiwa atau dengan kata lain terdapat 102 penduduk laki-laki untuk tiap 100 penduduk perempuan. 

Jumlah Penduduk Kota Kendari Menurut Jenis Kelamin. Sumber: Dinas Lingkungan Hidup Kota Kendari.


Sementara itu, untuk jumlah penduduk Penduduk Kota Kendari pada tahun 2000 sebesar 205.240 jiwa dan pada tahun 2005 sebesar 226.056 jiwa. Jumlah penduduk berdasarkan hasil sensus penduduk 2010 tercatat sebesar 289.966 jiwa. Jumlah penduduk tahun 2012 sebesar 304.862 jiwa. Jumlah penduduk pada tahun 2013 sebanyak 314.126 jiwa.

Penduduk kota kendari terbanyak tinggal di wilayah Kendari Barat dengan jumlah 46,505 jiwa. Penduduk yang terendah dengan jumlah penduduk hanya 20,981 jiwa yang tinggal di wilayah Kecamatan Baruga dan selebihnya tersebar pada 8 kecamatan dengan persebaran yang bervariasi.

Kepadatan penduduk adalah banyaknya penduduk per-km persegi. Kecamatan Kadia merupakan kecamatan dengan kepadatan penduduk paling tinggi yaitu sebesar 6.336 jiwa per km2 sedangkan Kecamatan Baruga merupakan kecamatan dengan kepadatan penduduk paling rendah yaitu 437 jiwa per km2.

Penulis: Muhamad Taslim Dalma (Jurnalis ZonaSultra.Com)
Sumber: Dinas Lingkungan Hidup Kota Kendari

Rayakan Wisuda, Ratusan Muda-Mudi di Kendari Molulo Massal

Lulo Massal dalam Rangka Syukuran Wisuda di Kendari, Rabu Dini Hari (6/5/2015). Foto: Dok. Penulis.
JENDELASULTRA.BLOGSPOT.COM, KENDARI - Masyarakat Kota Kendari memiliki cara tersendiri untuk merayakan orang yang baru saja diwisuda, salah satunya dengan menggelar acara molulo. Tari lulo yang diselenggarakan di depan kampus Universitas Halu Oleo (UHO) oleh salah seorang warga Kendari asal Muna, Rabu dini hari (6/5/2015) ramai dengan ratusan muda-mudi dari kalangan mahasiswa.


Penyelenggara acara lulo itu La Towua mengatakan acara itu merupakan hajatan besarnya karena adik dan kemanakannya diwisuda bersamaan. Tari lulo menurutnya memiliki makna tersendiri dalam membangun kebersamaan dan menghadirkan kegembiraan.

"Alhamdulillah ini dapat terselenggara dengan baik karena mahasiswa yang selama ini identik dengan keributan malah turut larut dalam kegembiraan dan kebersamaan tarian lulo," Kata La Towua.

Hampir semua remaja maupun orang dewasa di daerah kendari mengetahui tarian ini. Karena tarian ini sangat mudah untuk dipelajari walaupun pada dasarnya pola gerakan lulo ada bervariasi. Mengenai pelaksanaannya biasanya pada akan benar-benar ramai pada tengah malam.

Tarian ini biasanya diiringi musik elekton, dangdut, dan lain sebagainya. Tari lulo ini dilakukan dengan bergandengan tangan diikuti gerakan kaki yang seirama. Posisi telapak tangan pria harus dibawah telapak tangan wanita. Ini etika yang harus diperhatikan agar gerakan tetap stabil dan wilayah payudara wanita pasangan menari tidak tersentuh. Para peserta akan terlihat bersemangat menari dengan iringan musik, bahkan beberapa bisa sampai bermandikan keringat.

Tangan yang sudah saling mengait digerakkan naik turun bersama dengan pasangan untuk mengimbangi ayunan kaki yang maju mundur, terus bergerak ke kiri dan kanan, dengan tempo gerakan satu dua sesuai irama pengiring. Jumlah penari pada tarian ini tidak dibatasi, sehingga jika banyak penari, tarian ini dapat membentuk lingkaran yang besar. Kalau acara yang diselenggarakan La Towua ini diikuti banyak peserta sehingga harus membentuk dua lingkaran, dalam dan luar.

Tari lulo menjadi sarana dan media masyarakat Muna yang ada di Kendari untuk meningkatkan pergaulan dengan sesamanya atau dengan warga lainnya. Mengenai asal tarian lulo atau molulo itu sendiri konon berasal dari suku Tolaki yang mendiami sebagian wilayah Sulaw.esi Tenggara. Tarian tradisional ini diperagakan secara massal dan membentuk lingkaran. Dahulu biasanya untuk kemeriahan acara lulo tuan rumah menurunkan gadis-gadis cantik pilihan ke arena sebagai pembuka acara itu. Tarian ini paling sering diadakan pada saat setelah acara pernikahan dan perayaan lainnya.


Penulis: Muhamad Taslim Dalma (Jurnalis ZonaSultra.Com)

Di Kendari Kantor DPW PPP Dibakar dan Dijarah, Kubu Romy dan Djan Faridz Sama-Sama Prihatin

Tampak Pecahan Kaca Jendela dan Sisa Pembakaran di Kantor Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Sulawesi Tenggara (Sultra) di Kendari, Senin (20/4/2015). Foto: Dok. Penulis.
JENDELASULTRA.BLOGSPOT.COM - Kantor Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Sulawesi Tenggara (Sultra) di Jalan Syekh Yusuf, Kota Kendari dibakar dan dijarah masa tak dikenal, Minggu malam (19/4/2015). Sejumlah dokumen penting dibakar dan beberapa barang seperti komputer di kantor itu diambil.

Api yang menyala di Kantor yang diduduki PPP La Ode Songko Panatagama versi Djan Faridz ini menyababkan 2 ruangan dilalap api. Masa juga memecahkan 16 jendela kaca lantai 1 dan 2, serta merusak 2 daun pintu. 
Dari empat komputer hanya satu yang diambil yakni komputer yang  berisi data penting dokumen partai. Selain itu sejumlah kursi dan AC ikut diambil termasuk meja dalam ruangan pimpinan. Sementara itu, Sisa-sisa pembakaran dibelakang gedung tampak menyisakan abu dan sekeliling kantor sudah dipasangi pilce line.

Ketua Desk Pilkada PPP Sultra versi Djan Faridz La Unda Palola menyatakan kejadian itu bukan yang pertama terjadi, pekan lalu sudah ada orang yang berusaha membakar kantor itu namun berhasil ditangkap dan diserahkan ke pihak kepolisian. Karena dianggap orang gila akhirnya pelaku itu dibebaskan begitu saja oleh polisi.

“Yang mengherankan dinyatakan gila itu justru datang dengan beberapa temannya melakukan pembakaran dan penjarahan kantor itu. Ada yang datang bawa gerobak dan 2 orang  yang membawa motor supra. Warga tidak tahu kalau itu penjarahan karena disangkanya itu kegiatan kantor,” Kata La Unda di lokasi kejadiian, Jum’at malam (19/4/2015).

Selama  ini kantor itu dijaga oleh satu orang tapi setelah terjadi konflik PPP maka kantor itu sudah tidak dijaga lagi. Pihak La Ode Songko pun sudah melaporkan hal itu ke pihak kepolisian. Karena itu sudah kejadian yang kedua menurut La Unda diharapkan kepolisian menuntaskan hal itu dan para pelakunya harus ditangkap termasuk orang yang sebelumnya sudah dikatakan gila.

Terkait kejadian pembakaran dan pengrusakan kantor itu La Ode Songko selaku Ketua DPW yang berkantor di situ menyatakan sangat prihatin dan tidak ingin menghubungkannya dengan konflik di partai itu.

Pihaknya yang berada di kubu Djan Faridz sepenuhnya menyerahkan  ke aparat kepolisian untuk mengungkap siapa pelaku dan siapa yang menyuruh pelaku. Dikatakannya pihak berwajib harus dapat bersikap profesional menyelesaikan persoalan itu.

“saya ingin berprasangka baik, jangan-jangan ini sebuah kebetulan dengan adanya konflik partai ada yang coba memanfaatkannya. Tentunya sebagai ketua DPW saya menyerukan kepada semua kader yang ada di Sultra untuk tetap tenang dan tidak terprovokasi dengan kejadian itu,”Kata La Ode Songko di Kendari, Senin (20/4/2015).

Kader diharapkan tidak melakukan tindakan yang dapat merugikan PPP apalagi kondisi internal yang saat ini memang sedang konflik akan sangat mudah terpicu dengan kejadian seperti itu. Oleh karena itu menurut La Ode Songko biarlah kepolisian melakukan tugasnya.
Kejadian itu sudah dilaporkan ke Ketua Umum PPP Djan Faridz dan sudah pihak-pihak terkait sudah mendapat pengarahan dari Dewan Pimpinan Pusat (DPP) untuk lebih mengintensifkan pengamanan di kantor PPP Sultra

Keprihatinan kantor PPP yang dibakar dan dijarah tidak hanya dari kubu Djan Faridz namun kubu Romahurmuziy (Romy) juga mengecam peristiwa itu. Ketua DPW PPP Sultra Abdul Rasyid Syawal sangat menyayangkan kejadian itu serta turut prihatin.

Rasyid yang berada di kubu Romy berharap kepolisian dapat menuntaskan kasus itu. Diungkapkannya dia sangat mencintai kantor DPW itu walaupun tidak berkantor disitu, yang berkantor adalah kubu Djan Faridz dengan ketua DPW PPP La Ode Songko Panatagama.

“Saya memang tidak berkantor di situ dan jujur awalnya saya tidak tahu persis kejadian itu. Tentang kronologi kejadiannya saya tidak tahu pasti. Saya lihat secara fisik nanti tadi pagi,” Kata Rasyid di sekretariat DPRD Sultra, Senin (20/4/2015).


Penulis: Muhamad Taslim Dalma (Jurnalis ZonaSultra.Com)
Polisi memasang police line di Kantor Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Sulawesi Tenggara (Sultra), Kendari, Senin (20/4/2015). Foto: Dok. Penulis.

Kantor Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Sulawesi Tenggara (Sultra), Kendari (Tampak dari Depan), Senin (20/4/2015). Foto: Dok. Penulis.