Profil Nur Alam, Gubernur Sulawesi Tenggara yang Brilian

JENDELASULTRA.BLOGSPOT.COM- Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra) Nur Alam adalah salah satu kepala daerah yang memiliki banyak pencapaian hidup. Menyelami profil Nur Alam adalah melihat sosok seorang  gubernur dengan perjalanan karir bisnis dan politik yang brilian.

Nur Alam lahir di Konda (kini masuk wilayah Konawe Selatan) pada Juli 1967. Dalam beberapa biografi hidupnya, dikisahkan Nur Alam terlahir bukan dari kalangan bangsawan atapun keluarga kaya, tapi dari masyarakat biasa yang sederhana. 

Nur Alam bersama Jokowi

Pengusaha Sukses

Bakat dan naluri bisnis Nur Alam terpupuk sejak kecil. Ketika duduk di bangku SD, ia belajar secara otodidak dengan hal-hal kecil semisal menjual kelapa, kemiri, dan hasil kebun orang tuanya. Bahkan ia juga tak sungkan ikut melaut bersama temannya untuk sekedar mengisi waktu luang dan perut yang kosong.

Ketika masuk SMA Mandonga (kini bernama SMAN 4 Kendari), bakat bisnisnya semakin terlatih dengan menjalankan usaha sablon. Usaha tersebut berkembang hingga ia dapat membeli mesin fotocopy offset. Masa-masa remajanya terbagi antara belajar di kelas dan berwirausaha secara mandiri.

Begitu memasuki jenjang kuliah, sebagai mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Haluoleo, Nur Alam mencari pengalaman berbeda. Ia belajar bagaimana menjadi kontraktor dengan bekerja di PT Pertiwi. Di perusahaan ini Nur Alam tak hanya kerja tapi juga banyak belajar. 

Tak mau hanya sekadar jadi anak buah, Nur Alam kemudian membuat perusahaan sendiri dengan mendirikan PT Tamalakindo Puri Perkasa. Perusahaan inilah yang kemudian jadi awal mula Nur Alam mengerjakan proyek, dari yang kecil sampai besar.

Didasarkan pada data laporan harta kekayaan penyelenggara negara (LHKPN) Nur Alam per tanggal 5 Juli 2013, harta Nur Alam sudah mencapai Rp 30,9 Miliar. Duit sebesar itu tentu merujuk pada kekayaannya sebagai pengusaha dan sudah menjabat gubernur selama satu periode.

Mahir Berpolitik

Tolak ukur kesuksesan Nur Alam sebagai tokoh politik senior dapat dilihat kacakapannya memimpin Partai Amanat Nasional (PAN), dan mengalahkan petahana Ali Mazi dalam Pemilihan Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra) awal 2008.  Nur Alam kembali memenangkan pertarungan pada pemilihan gubernur 2013 untuk periode kedua.

Catatan historis perjalanan politik Nur Alam dimulai ketika runtuhnya rezim orde baru dan memasuki era reformasi. Saat itu lahir sebuah partai baru bernama Partai Amanat Nasional dengan tokoh kunci Amin Rais. Nur Alam menjadi anggota Komite Persiapan Pembentukan Wilayah (KPW) untuk menggelar Musyawarah Wilayah (Muswil) dan mendeklarasikan PAN di Sulawesi Tenggara.

Muswil PAN Provinsi Sultra pertama berhasil diselenggarakan pada 1998 pasca-lengsernya Soeharto. Nur Alam diangkat jadi sekretaris sedangkan ketua dijabat oleh Andrey Jufri. Dua tahun kemudian barulah Nur Alam menjadi ketua melalui Muswil PAN kedua, tepatnya pada 27 Juli tahun 2000. Momen ini jadi titik tolak Nur Alam meruntuhkan dominasi Golkar, si pohon beringin yang mengakar pada masa orde baru.

Di bawah pergerakan dan kalkulasi seorang sarjana ekonomi ini, kader-kader PAN mulai didudukkan di legislatif dan eksekutif. PAN yang melesat, tentu Imbasnya adalah menciutnya kekuatan partai-partai lain yang sempat kokoh di masa orde baru. 

Di DPRD Provinsi Sultra pada pemilu 1999 PAN hanya bisa mendudukan 1 kadernya. Begitu Nur Alam jadi nahkoda, pada 2004 PAN sukses maraih 6 kursi. Perolehan kursi ini pulalah yang mengantarkan ia menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Sultra. Lalu pada akhir 2007, perolehan kursi sebanyak itu melapangkan jalannya dalam menghimpun koalisi pintu pencalonan. Kemudian sejarah mencatat, ia sukses mengalahkan petahana, dan jadi gubernur pertama daerah ini yang dipilih langsung oleh rakyatnya.

Berdasarkan data KPU, dari pemilu ke pemilu PAN selalu meningkatkan jumlah kursinya. Pada pemilu 2009, PAN meraih 7 kursi, lalu pada pemilu 2014 naik lagi menjadi 9 kursi. Perolehan 9 kursi membuat  PAN merengkuh jabatan Ketua DPRD Sultra, padahal sebelumnya selalu diisi Golkar.

PAN semasa Nur Alam juga selalu mampu mengirimkan satu kadernya di Senayan sebagai anggota DPR RI pada 2004, 2009, dan 2014. Pada 2014 lalu yang terpilih adalah istrinya sendiri, Tina Nur Alam. Terpilihnya Tina terbilang fenomenal sebab di daftar caleg PAN juga ada sosok La Ode Ida, yang pernah menjabat Wakil Ketua DPD RI.

Selain itu, persoalan memenangkan kader PAN sebagai kepala daerah di kabupaten/kota,  tangan terampil Nur Alam sangat terbukti. Bukan hanya sekadar memenangkan pertarungan yang didukung, tapi ia juga mampu menarik figur-figur potensial bergabung di PAN dengan jabatan ketua di kabupaten/kota.

Figur potensial yang berhasil ditarik merapat di PAN adalah Baharuddin ketika memenangkan Pemilihan Bupati Muna 2010, AS Thamrin Pemilihan Wali Kota Baubau 2013, Ridwan Zakaria Pemilihan Buton Utara 2010, dan Asrun Pemilihan Wali Kota Kendari 2012. 

Sementara kader asli PAN yang didukung dan dimenangkan adalah Umar Samiun di Pemilihan Bupati Buton 2012, Kery Saiful Konggoasa di Pemilhan Bupati Konawe 2013, Tafdil di Pemilihan Bupati Bombana 2011, dan Arhawi sebagai wakil di Pemilihan Bupati Wakatobi 2011.

Hingga tahun 2015, Nur Alam masih menjadi pucuk pimpinan di PAN Sultra, yang artinya selama 15 tahun sama sekali tak tergantikan. Berhasil dalam dunia usaha dan dunia politik, maka pantaslah Nur Alam dipandang sebagai tokoh daerah paling paripurna dibanding figur-figur lain selevelnya. (*)


Penulis: Muhamad Taslim Dalma

Referensi:

– Dokumen reportase penulis

– Jurnal Ilmiah “Fenomena ‘Bossisme Local’ di Era Desentralisasi” oleh Eka Suaib dan La Husen Zuada

– https://infoduniaraya.blogspot.co.id/2014/08/profil-h-nur-alam-se-msi-gubernur-ke-9.html

– http://yaminindas.com/?p=1272

– http://yaminindas.com/?p=520

– http://www.jpnn.com/news/wow-tajir-banget-harta-nur-alam-tembus-angka