Hidangan Khas Sinonggi di Rumah Makan Meohai Kendari

JENDELASULTRA.BLOGSPOT.COM – Ada banyak rumah makan di Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra) namun sedikit dapat ditemukan yang menyajikan menu khas daerah ini. Salah satu rumah makan yang terkenal di Kota Kendari adalah Rumah Makan Meohai.  

Rumah Makan Meohai mengandalkan menu utama sinonggi, makanan khas yang berbahan dasar sagu. Berasal dari pohon sagu yang tumbuh subur di wilayah Kendari, Konawe, dan sekitarnya. Pohon sagu banyak tumbuh di daerah rawa dan pinggir sungai.

 Sinonggi dibuat dari resep sederhana dengan cara tepung sagu basah disiram air panas lalu diaduk sampai mengental jadi seperti lem. Agar tidak terlalu lengket biasanya dicampurkan sedikit minyak kelapa ketika membuatnya.
Sinonggi merupakan makanan khas Sulawesi Tenggara yang berbahan dasar sagu.

Sinonggi dihidangkan dengan makanan khas yang berkuah misalnya ayam tawaoloho, daging tawaoloho, dan Ikan Pallumara. Menu pendamping lainnya adalah Boiku, Kabengga, Pokea, Kapurung Pallumara, dan Kapurung Tawaoloho.


Rumah Makan Meohai 

“Meohai” berasal dari bahasa daerah Tolaki yang berarti “keluarga”. Dengan menu keluarga masa lampau, warung makan yang beralamat di Jalan Antero Hamra Kompleks Pasar Bunga Kendari ini selalu ramai pengunjung.

Pemilik Rumah makan itu bernama Lisa (43). Menu yang disedikan yaitu Paket Sinonggi, Sinonggi Palumara, Sinonggi Tawaoloho, dan lainnya.  Bahan baku utama sinonggi adalah sagu yang dibeli di pasar-pasar tradisonal wilayah Kota Kendari.

Dalam membuat makanan khas itu, Lisa tidak memiliki resep khusus karena semua bahannya sederhana mulai dari sagu, daun “Tawaloho”, ikan, daging sapi, dan bumbu biasa. Semua disajikan seperti makan sinonggi di rumah sendiri, sesua arti nama tepat itu “Rumah Makan Keluarga”.
Ikan palumara merupakan hidangan pendamping sinonggi.
Dalam menentukan harga, Rumah Makan Meohai memasang harga relatif murah dan ada diskon. Berdasarkan harga bulan September 2018,  untuk paket satu orang Rp 25 ribu sedangkan bila paket bertiga Rp 60 ribu. Pekat itu lengkap dengan hidangan sinonggi ikan dan sayur.

Sejak berdiri  tahun 2006, Meohai sudah buka cabang baru yang tidak jauh dari warung tersebut di jalan Sao Sao, Kelurahan Bende, Kecamatan Kadia, Kota Kendari. Lisa mengelolanya bersama suami dan beberapa orang pegawai. Dalam satu hari satu warung makan bisa menghabiskan satu karung sagu.

“Kita buka dari pagi jam 8 pagi sampai jam 9 malam. Paling ramai asalah siang hari saat makan siang. Penghasilan satu hari bisa sampai  3 Juta rupiah, tapi itu masih hitungan kotor. Pengunjung perhari rata-rata bisa sampai 50 orang,” ujar Lisa.

Lisa merupakan keturunan dari ayah dan ibu yang berasal dari Pulau Selayar, Sulawesi Selatan. Ia lahir dan besar di Kendari karena dahulu orang tuanya besar di Kendari. Berkat usahnya merintis rumah makan, kebutuhan keluarganya dapat terpenuhi.

Anak ibu Lisa ada dua, satu masih sekolah setingkat SMA sedangkan seorang  lagi baru saja selesai dari Poltekes Kendari. Baginya, menu Sinonggi di zaman sekarang ini masih dapat bersaing dengan makanan-makanan populer lainnya. 


Penulis: Muhamad Taslim Dalma