Cerita Tentang Sorume pada Suku Tolaki, Digunakan sebagai Pengikat Istana Raja

Anyaman yang terbuat dari anggrek serat atau sorume tampak rapi dan mengkilap. Warna kuning emasnya secara alami dari batang anggrek serat sedangkan warna merah dan hijaunya dari bahan pewarna kimia..

Masyarakat suku Tolaki di Sulawesi Tenggara (Sultra) memiliki kekayaan budaya yang khas, salah satunya adalah sorume. Sorume merupakan jenis tanaman anggrek yang berserat sangat kuat sehingga banyak dimanfaatkan.

Sorume atau anggrek serat menjadi bahan baku anyaman oleh pengrajin pada masyarakat Tolaki. Mereka menghasilkan anyaman untuk acara-acara adat Tolaki seperti tikar adat, kopiah, dan alas kalosara (anyaman berbentuk persegi). 

(Baca: Lintas Generasi Pengrajin di Konawe, Hasilkan Anyaman Tolaki Bernilai Tinggi dari Anggrek Serat)

Dahulu ternyata sorume tidak hanya digunakan untuk anyaman, sorume memiliki kedudukan yang khusus pada masyarakat Tolaki. Bahkan, kayu-kayu penyusun bagian atas rumah istana raja menggunakan ikatan dari sorume. Makanya ada istilah “Laika Sorume” yang artinya rumah yang diikat dengan anggrek serat.

Kepala Adat Tolaki di Konawe, Ajemain menjelaskan ada sistem pembuatan zaman lampau yang membuat anggrek serat dapat digunakan sebagai tali yang mengikat beberapa bagian rumah.  Namun saat ini tidak ada lagi rumah yang menggunakan ikatan anggrek serat, tinggal penggunaan nama saja, misalnya di Konawe kini ada SD Laika Sorume dan TK Laika Sorume.

“Sorume itu tidak tumbuh di tanah. Dia tumbuh di atas pohon beringin, secara filosofi memiliki nilai tinggi bahwa itu adalah tumbuhan para dewa yang disebut dulu ‘Sangia’. Sehingga raja-raja yang tinggal di istana yang diikatkan sorume disebut Sangia,” tutur Ajemain, 19 April 2022.  

Karena bernilai sangat tinggi, dahulu songkok sorume hanya digunakan oleh para bangsawan yang disebut dengan “anakia”. Dahulu juga sorume belum memakai pewarna, hanya satu yakni warna aslinya kuning keemasan. Warna kuning ini bagi masyarakat Tolaki memiliki makna kejayaan, disebut juga “bari sangia” yang artinya warna dewa.

Kini terjadi pergeseran dalam penggunaan sorume karena bukan hanya kalangan bangsawan saja yang dapat menggunakannya. Pertama, para tokoh adat menggunakan sorume dalam setiap kegiatan adat. Kedua, siapapun yang mampu beli anyaman sorume bisa memakainya. Adapun yang tak berubah kata Ajemain, adalah harganya memang mahal sejak dahulu.

Ajemain memastikan sorume mulai digunakan sejak manusia punya teknologi atau pengetahuan tentang anyam-menganyam. Pada masyarakat Tolaki, diperkirakan anyaman sorume mulai ada pada abad ke-10 hingga keterampilan menganyam diwariskan dari generasi ke generasi.

Anggrek serat alias Sorume. Batangan umbinya berwarna kuning mengkilap yang diolah sedemikian ruap menjadi anyaman bernilai tinggi.

Namun, jumlah penganyam sorume terus berkurang seiring tanaman sorume yang juga berkurang. Berkurangnya sorume ini diperkirakan karena pembukaan lahan yang masif sehingga sudah sangat jarang ditemukan di wilayah Konawe.

(Baca: Kisah Pemburu Tanaman Para Dewa di Puncak Mowewe Kolaka Timur)

“Sorume itu ada di lembah-lembah yang subur, termasuk di sepanjang aliran sungai Konaweeha (wilayah Konawe) yang hulunya sebagian besar berada di wilayah Kolaka, sekarang terbagi jadi Kolaka Timur. Makanya Kolaka itu dulu dijuluki ‘Wonua Sorume’ artinya negeri anggrek,” ujar Ajemain, yang juga Kepala Biro Pemangku Adat Dewan Pimpinan Pusat Lembaga Adat Tolaki (LAT).      

Sebagai pemerhati budaya Tolaki, Ajemain ingin sorume tetap lestari sehingga tetap dapat menjadi bahan yang dapat digunakan masyarakat. Ia juga berharap hutan tempat tumbuhnya sorume tidak hanya sekadar hutan lindung biasa, tapi bagusnya jadi hutan konservasi khusus sehingga tidak bisa dirambah. (*)

Penulis: Muhamad Taslim Dalma

(Baca Juga: Mengenal Anggrek Serat Tanaman Endemik Sulawesi yang Terancam Punah)