Showing posts with label Kuliner Khas Kendari. Show all posts
Showing posts with label Kuliner Khas Kendari. Show all posts

Menikmati Aneka Menu Kekinian di Rumah Makan “Saranghae” Kendari

Rumah makan "Saranghae" di Kota Kendari. “Saranghae” dari Bahasa Korea, artinya “aku cinta”. Menu yang disajikan berupa makanan-minuman kekinian.
JENDELASULTRA.BLOGSPOT.COM – Di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, yang dikenal juga sebagai Kota Lulo, ada begitu banyak kedai dan rumah makan yang menyajikan beragam menu tradisional hingga modern. Bagi Anda yang ingin bersantai dan bersantap di tempat yang sederhana ataupun ingin pesan antar, dengan harga tidak menguras isi kantong, tapi istimewa. Rumah makan “Saranghae” patut dicoba.

Seperti namanya “Saranghae” yang diambil dari Bahasa Korea, artinya “aku cinta”. Selain karena ibu pemilik rumah makan ini penggemar korea, juga yang ingin dihadirkan adalah rasa “cinta” terhadap aneka menu makanan dan minuman yang dibuatnya, serta tidak ingin mengecewakan pelanggan. Atas dasar prinsip ini, bahan-bahannya dibuat dari bahan berkualitas.

Beberapa jenis makanan yang disediakan misalnya nasi goreng merah per porsi seharga Rp25 ribu, chickbong honey sauce (ayam karage krispy dibalur saus madu ala korea) Rp20 ribu, chicbong sambal matah (ayam karage krispy dengan taburan sambal matah yang pedis di mulut) Rp20 ribu. Selain itu, ada juga menu dari daging sapi, adalah pallubasa khas Makkasar seharga Rp20 ribu.

Minuman yang dapat dipilih juga beraneka ragam, yang tidak hanya akan memanjakan mata tapi juga memanjakan lidah. Dengan porsi yang lumayan jumbo, misalnya  dengan rata-rata harga Rp 15 ribu per porsi adalah green tea ice blend, ice blend choco swiss, ice blend choco oreo, dan masih banyak lagi.

Lalu ada pula tart susu 20 cm dengan tiga jenis yaitu original, cokelat, dan pandan. Jenis kue lainnya adalah mini pie susu, pie susu, boba cheese foam cake, dan pudding choco regal. Tersedia pula kentang goreng bagi yang sedang tak ingin memesan kue.

Dengan adanya aneka kue itu, maka tentu bukan saja untuk makan siang atau makan malam. Sarapan pagi pun bisa lewat warung makan ini, kue tinggal dipadukan dengan hot coffee, maupun minuman hangat yang ingin dibuatkan.

Lalu, apakah nama-nama yang keren sebanding dengan rasa dan kualitasnya? Pertama tentu Anda harus mencobanya langsung atau memesannya untuk diantarkan. Kedua mari perhatikan uraian berikut tentang  tiga jenis menu dari rumah makan tersebut.



*Greentea Ice Blend

Sekilas penampakannya sama seperti ice blend yang banyak dijajakan di beberapa warung pinggir jalan. Mulai dari bahan es yang diblender hingga campuran susu kental manisnya.  Namun tidak demikian dengan rasanya, lebih lembut dan tidak begitu pekat rasa teh hijaunya.

Greentea Ice Blend di Saranghae ini tidak menggunakan bubuk atau teh hijau pada umumnya, tapi dari potongan daun teh hijau yang direbus sendiri. Hal ini menjadi pembeda sekaligus menimbulkan cita rasa yang khas.

*Pallubasa Khas Makassar

Kata “khas Makassar” tidak asal ditempelkan, tapi memang boleh dibilang tidak kalah dengan yang ada di Kota Makassar. Rasa potongan daging sapinya gurih berpadu dengan kuah, disajikan hangat dalam sebuah mangkuk.

Mengapa dikatakan tidak asal, karena memang daging has dibawa langsung dari Makassar Sulawesi Selatan. Daging sapi dari Makassar dirasa lebih enak dan empuk. Hal ini juga turut membedakan dengan sajian-sajian rumah makan lain di Kota Kendari.

*Nasi Goreng Merah

Disajikan dalam mangkuk, di dalam nasi goreng ada beberapa potongan seafood dan di atasnya ditaburi kerupuk. Warnanya merah lagi cerah dan rasanya gurih, mungkin karena perpaduan bumbu dan saus yang memang sengaja didatangkan dari luar Kota Kendari yang dinilai lebih standar dan berkualitas.

Tiga deskripsi jenis sajian itu, mungkin hanyalah gambaran kecil tentang rumah makan ini. Yang pastinya apa yang disajikan,  sejalan dengan prinsip pemilik warung ini yang tidak ingin dianggap menyajikan menu “kaleng-kaleng”.

Bagi anda yang tertarik dengan rumah makan ini, bisa langsung membuka google map di handphone. Tulis “Saranghae” akan muncul alamat dan gambar-gambar sajian dan tampilan tempatnya, atau klik di sini.

Alamat lengkapnya di JL. Y. Wayong By Pass No. 55 C Lepo-lepo atau untuk pesan antar bisa menghubungi lewat telpon maupun WhatsApp di nomor 082293931111.


Penulis: Muhamad Taslim Dalma 

Rahasia Kesempurnaan Hidangan Sinonggi Khas Sulawesi Tenggara

Makanan khas Sulawesi Tenggara, Sinonggi
JENDELASULTRA.BLOGSPOT.COM – Sinonggi adalah makanan khas Sulawesi Tenggara (Sultra) yang dibuat dari bahan dasar sagu. Sinonggi hanya mudah ditemui beberapa daerah Sulawesi Tenggara, dimana pohon sagu tumbuh subur.

Wilayah penyebaran pohon sagu paling besar ada di Kota Kendari, Konawe, Konawe Selatan, Konawe Utara, dan Kolaka Timur. Masyarakat yang berdiam di daerah-daerah ini terkenal ahli meracik sagu menjadi makanan khas sinonggi, khususnya dari suku Tolaki. Tak heran bila sinonggi juga disebut manakanan khas Tolaki.

Memasak sinonggi memang terlihat mudah karena hanya disiram air panas, diaduk-aduk lalu jadi. Namun sebenarnya tidak segampang itu (bagi yang belum ahli). Dalam keadaan tertentu sinonggi tidak akan jadi (tetap encer) meski sudah disiram air panas dan diaduk. Kadang pula sinonggi yang jadi begitu lengket, ada pula sinonggi yang berwarna keunguan. Ada pula yang masih bercampur kotoran.

Lalu apa rahasianya? Ternyata ada tata cara khusus untuk mendapatkan hidangan sinonggi yang putih bak kapas baru mekar, kenyal, tidak lengket, dan membangkitkan selera makan. Caranya, mula-mula tepung sagu dicampur air biasa dalam baskom, lalu didiamkan semalaman.

Proses itu, akan membuat tepung sagu putih mengendap, sementara kotoran dan tepung sagu yang agak coklat akan terangkat ke permukaan air. Setelah itu, airnya ditumpah dan yang tersisa adalah tepung sagu basah yang putih bersih.

Proses selanjutnya, sagu ditaruh di baskom, ditambahkan minyak (apa saja yang penting minyak kelapa) satu sendok makan dan perasan jeruk nipis. Lalu, disiram air mendidih dan aduk-aduk. Sagu yang yang telah disiram air panas harus terus diaduk hingga menggumpal dan percampuran air dan sagu merata hingga tidak ada bintik-bintik tepung.

Takaran antara air dan sagu harus disesuaikan. Bila terlalu banyak air maka sinonggi yang dihasilkan bening dan tidak begitu menggumpal, namun bila takaran airnya pas maka sinonggi yang dihasilkan tampak putih bersih dan kenyal. Manfaat ditambahkan minyak kelapa adalah agar sinonggi yang dihasilkan tidak lengket.

Penyajian Sinonggi
Sinonggi biasa disajikan dengan makanan khas lainnya yang berkuah seperti ikan palumara (hidangan ikan) dan ayam tawaloho. Penyajiannya, mula-mula piring diberi kuah ikan palumara, perasan jeruk nipis, dan lombok biji. Dari wadah, sinonggi digulung dengan dua batang sumpit lalu ditaruh di piring yang telah lengkap dengan kuah tadi.

Sinonggi yang masih hangat sangat tepat untuk segera dimakan, apalagi bila kuah ikannya juga yang masih hangat. Namun, bila sudah dingin, rasanya cenderung berbeda dan hanya sedikit orang yang menyukainya.

Cara menyantapnya pun berbeda-beda. Masyarakat lokal biasanya menggunakan dua jari atau tiga jarinya untuk mengambil sinonggi dalam piring. Mereka tampak ahli mengambil sinonggi itu, seperti gerakan mencubit lalu dengan sigap memasukan potongan sinonggi ke mulut. Namun bagi yang tidak terbiasa, maka menggunakan sendok adalah pilihan satu-satunya.

Tradisi Mosonggi
Ada sebuah kebiasaan dalam masyarakat Tolaki yang sepertinya sudah menjadi tradisi. Kegiatan itu disebut “mosonggi”. Kegiatan ini bentuk kumpul-kumpul antara anggota keluarga maupun sesama teman.

Mosonggi dilakukan dalam kelompok tertentu. Kebersamaan dan keakraban sangat terlihat dalam acara ini, mulai dari menyiapkan bahan-bahan masakan pendamping sinonggi hingga memasaknya pun bersama-sama.

Mosonggi tak hanya dilakukan dalam acara kumpul-kumpul biasa di rumah sendiri. Kegiatan itu juga dilakukan ketika acara-acara besar seperti bila ada resepsi pernikahan.

Hanya saja dalam resepsi pernikahan di atas meja hidangan biasanya tidak disajikan sinonggi. Mosonggi dilakukan oleh ibu-ibu maupun bapak-bapak yang beraktivitas di dapur.

Olehnya, ketika menghadiri resepsi pernikahan maka tamu harus memesan khusus di dapur, apakah masih ada sinonggi. Salah satu sebabnya, yah tadi itu, sinonggi enaknya dihidangkan dalam keadaan hangat.

Ketersediaan Sagu Terancam
Hingga tahun 2019 ini, ketersediaan sagu di Sulawesi Tenggara masih ada. Terbukti dari masih banyak tepung sagu yang dijual di pasar. Hanya ke depan tidak ditahu apakah sagu akan menjadi langka untuk didapatkan.

Lahan-lahan sagu saat ini banyak beralih fungsi misalnya menjadi lahan sawit maupun persawahan. Kondisi realnya ada di Kolaka Timur. Pada awal tahun (Januari-Februari) 2019 ini, masyarakat di sana berdemo dan ribut soal menuntut ganti rugi pohon sagu dari perusahaan sawit.

Tentang tanaman sagu di Provinsi Sulawesi Tenggara, dalam penelusuran penulis, menemukan bahwa produksi sagu paling banyak berasal dari Kabupaten Konawe. Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2012, produksi sagu di kabupaten itu mencapai 2.298 ton pertahun.

Di Konawe, terdapat beberapa kecamatan sebagai penghasil sagu.  Ada satu kecamatan  yang produksi sagunya paling tinggi  yaitu di Kecamatan Bondoala (Konawe) dengan produksi 410 ton per tahun. Namun hal ini juga sepertinya tidak akan bertahan lama, sebab daerah itu juga sudah dimasuki sawit. Pohon-pohon sawit terlihat jelas bila melintasi Kecamatan Bondoala.

Data terakhir yang ada di situs BPS tentang produksi sagu di Sulawesi Tenggara, tercatat pada tahun 2014. Dilihat dari volume dan nilai perdagangan antar pulau, tanaman sagu tahun 2014 yaitu 2.754 ton produksinya per tahun.

Penulis: Muhamad Taslim Dalma

Manisnya Hidup Semanis Kambewe Gola

Kuliner Khas Kambewe Gola
JENDELASULTRA.BLOGSPOT.COM – Kuliner khas Muna yang cukup istimewa adalah Kambewe Gola. Makanan yang berbahan dasar jagung muda. “Kambewe” adalah penyebutan untuk makanan yang dibungkus daun kelapa atau kulit buah jagung sedangkan “Gola” artinya gula. 

Tanaman biji-bijian seperti Jagung memang tumbuh dengan subur di Pulau Muna. Karena hal itulah masyarakat setempat banyak bercocok tanam jagung. Hasil olahan jagung inilah yang jadi salah satu makanan pokok daerah setempat.

Sebelum beras atau tanaman padi populer di Muna, zaman dahulu (sekira tahun 2000-an ke belakang) jagung merupakan makanan pokok sehari-hari. Berbagai olahan makanan dari jagung disajikan dengan cukup variatif.

Salah satu olahan yang terkenal adalah Kambose/Kambuse, olahan jagung tua (jenis jagung putih) yang direbus khusus dengan campuran kapur. Lain lagi dengan olahan dari jagung  yang masih muda seperti Dhodholo (dodol), Kamperodo, Kambewe Kapute, dan Kambewe Gola. 

Empat kuliner khas tersebut hanya dapat ditemukan sekali waktu saat usia jagung masih muda, mendekati masa panen masa panen. Jika berbicara mana yang primadona dan paling populer dalam masyarakat Muna, jawabannya adalah Kambewe Gola.

Kambewe Gola terbuat dari bahan sederhana yakni biji jagung muda yang berumur 70 hari. Pada umur ini biji jagung sudah benar-benar pas untuk menjadi olahan makanan, teksturnya tidak lembek juga tidak keras, dan rasa jagung masih manis.

Mula-mula jagung dibersihkan dari kulitnya dengan catatan kulit yang masih bagus jangan dibuang sebab akan digunakan untuk membungkus adonan. Kemudian, jagung yang sudah bersi dilepas dari tongkolnya dengan menggunakan pisau lalu dimasukkan dalam Kagiling (alat penggilingan).

Hasil gilingan yang tampak encer dicampur dengan gula merah sampai merata. Adonan sederhana ini tanpa perlu lagi campuran bahan lain. Adonan lalu dimasukkan dalam selembar kulit jagung dengan volume sesuai besar kulit jagung. 

Pada tahap akhir adonan yang sudah terbungkus direbus dalam panci dandang. Tidak boleh menggunakan panci biasa sebab adonan yang sedikit encer tidak boleh bersentuhan langsung dengan air rebusan.

Dalam sekali masak, biasanya dalam panci Kambewe Gola tidak sendirian tapi didamping kuliner jagung muda lainnya seperti Kamperodo dan Kambewe Kapute. Pemasakan dalam panci yang ini tidak akan memperngaruhi rasa masing-masing makanan sebab dari bahan yang sama yakni jagung muda.

Adonan yang telah matang berwarna merah kecoklatan dan memiliki tekstur yang padat tapi tidak keras. Teksturnya yang renyah akan segera hancur dalam sekali kunyah. Rasanya manis dari perpaduan unik manis gula merah dan manis jagung. 
Hidangan Kambewe Gola. (Foto: Muhamad Taslim Dalma)


Kambewe Gola dibuat bukan hanya untuk sebagai penghilang lapar atau sekedar untuk jualan di pasar. Makanan ini dibuat sebagai wujud rasa Syukur kepada Tuhan karena jagung yang akan dipanen melimpah. Rasa syukur atas manisnya suatu nikmat kehidupan, itulah salah satu makna filosofis Kambewe Gola. 

Olehnya, dalam setiap pembuatannya tetangga pekebun maupun keluarga akan diundang untuk bersama-sama mulai dari petik jagung di dalam kebun sampai menyantap kambewe gola beramai-ramai. Momen santap bersama ini disebut acara “Kambewe Gola”.

Pada awal tahun 2000-an dalam acara Kambewe Gola biasanya disertai dengan lantunan-lantunan nyanyian rakyat Muna dengan iringan alat musik gong dan gendang. Acara ini menjadi sangat ramai karena jadi sarana berkumpun diantara pekebun jagung maupun dengan keluarga para pekebun.

Penulis: Muhamad Taslim Dalma 

Menemukan Kuliner Khas Muna di Kedai Ratu Alam Kendari

Sepeda Ontel di Kedai Ratu Alam Kendari.
JENDELASULTRA.BLOGSPOT.COM – Kendari adalah Ibu Kota di Sulawesi Tenggara (Sultra) dengan masyarakat beragam dari berbagai suku, ras, agama, dan golongan begitu pula kulinernya. Kuliner khas Kendari adalah representasi dari keragaman itu. Berwarna, berbeda rasa. 

Untuk menemukan menu kuliner khas tertentu, hanya di rumah makan tertentu pula. Tidak banyak, karena kebanyakan rumah makan menyediakan menu makanan secara umum, semisal prasmanan. Ada pula rumah makan Padang, seperti marak di Kota besar lainnya. Untuk mendapatkan yang istimewa, maka pastilah bukan yang umum-umum.

Secara khusus, salah satu yang dapat menjadi tujuan di Kota ini adalah Kedai “Ratu Alam” yang fokus pada kuliner makanan khas Muna. Letaknya di jalan Buburanda, Kelurahan Korumba, Kecamatan Mandonga, tidak jauh dari Bundaran Stainless By Pass Kendari.
Kedari Ratu Alam di jalan Buburanda Kelurahan Korumba Kendari.

Desain Kedai  itu, unik tidak seperti rumah makan biasa. Kedainya dihias dengan ornamen kelapa yang disusun rapi pada tiang-tiang bangunan non permanen. Di teras depan terdapat sepeda ontel antik dengan gantungan keranjang tradisional berisi kulit jagung.

Lalu, di dinding depan Kedai Ratu Alam ada layang-layang legendaris "Kaghati" terbuat dari daun kolope (ubi hutan), asli produk budaya tua Muna. Begitu pula, di bagian dalam, ada susunan kelapa tua, dan ornamen-ornamen unik lainnya yang disusun memberi kesan “kreatif”.

Kedai Ratu Alam menyediakan menu-menu andalan dari masakan tradisional Muna seperti Lapa-Lapa, Kabuto, Kambuse, Katula, Ayam Parende, Kenta Kapinda (olahan ikan), dan jenis kue khas Muna yakni cucur, waje, dan lainnya. Ada pula menu khas Kendari lainnya seperti sinonggi, Burungo, dan lainnya. Semua diharga yang tak begitu mahal kisaran Rp 25 ribu sampai Rp 50 ribu.
Kuliner khas Muna Kabuto.


Untuk menyiapkan menu-menu itu tentulah tidak mudah, terutama adalah bahan bakunya yang tidak selalu tersedia di Kota Kendari. Salah satu menu, Kabuto, bahan bakunya didatangkan dari Pulau Muna, di salah satu pasar tradisional Kabupaten Muna Barat. 

Kabuto merupakan makanan yang berasal dari ubi kayu (singkong)  yang dikeringkan dan mengalami pelapukan dari proses fermentasi sederhana. Warna ubi yang putih berubah jadi hitam pekat bercampur warna abu-abu, dan kadang pula Kabuto lubang-lubang seperti kayu yang dimakan rayap. Bila sudah diolah, rasanya unik dan akan selalu dirindukan.


Penulis: Muhamad Taslim Dalma

Hidangan Khas Sinonggi di Rumah Makan Meohai Kendari

JENDELASULTRA.BLOGSPOT.COM – Ada banyak rumah makan di Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra) namun sedikit dapat ditemukan yang menyajikan menu khas daerah ini. Salah satu rumah makan yang terkenal di Kota Kendari adalah Rumah Makan Meohai.  

Rumah Makan Meohai mengandalkan menu utama sinonggi, makanan khas yang berbahan dasar sagu. Berasal dari pohon sagu yang tumbuh subur di wilayah Kendari, Konawe, dan sekitarnya. Pohon sagu banyak tumbuh di daerah rawa dan pinggir sungai.

 Sinonggi dibuat dari resep sederhana dengan cara tepung sagu basah disiram air panas lalu diaduk sampai mengental jadi seperti lem. Agar tidak terlalu lengket biasanya dicampurkan sedikit minyak kelapa ketika membuatnya.
Sinonggi merupakan makanan khas Sulawesi Tenggara yang berbahan dasar sagu.

Sinonggi dihidangkan dengan makanan khas yang berkuah misalnya ayam tawaoloho, daging tawaoloho, dan Ikan Pallumara. Menu pendamping lainnya adalah Boiku, Kabengga, Pokea, Kapurung Pallumara, dan Kapurung Tawaoloho.


Rumah Makan Meohai 

“Meohai” berasal dari bahasa daerah Tolaki yang berarti “keluarga”. Dengan menu keluarga masa lampau, warung makan yang beralamat di Jalan Antero Hamra Kompleks Pasar Bunga Kendari ini selalu ramai pengunjung.

Pemilik Rumah makan itu bernama Lisa (43). Menu yang disedikan yaitu Paket Sinonggi, Sinonggi Palumara, Sinonggi Tawaoloho, dan lainnya.  Bahan baku utama sinonggi adalah sagu yang dibeli di pasar-pasar tradisonal wilayah Kota Kendari.

Dalam membuat makanan khas itu, Lisa tidak memiliki resep khusus karena semua bahannya sederhana mulai dari sagu, daun “Tawaloho”, ikan, daging sapi, dan bumbu biasa. Semua disajikan seperti makan sinonggi di rumah sendiri, sesua arti nama tepat itu “Rumah Makan Keluarga”.
Ikan palumara merupakan hidangan pendamping sinonggi.
Dalam menentukan harga, Rumah Makan Meohai memasang harga relatif murah dan ada diskon. Berdasarkan harga bulan September 2018,  untuk paket satu orang Rp 25 ribu sedangkan bila paket bertiga Rp 60 ribu. Pekat itu lengkap dengan hidangan sinonggi ikan dan sayur.

Sejak berdiri  tahun 2006, Meohai sudah buka cabang baru yang tidak jauh dari warung tersebut di jalan Sao Sao, Kelurahan Bende, Kecamatan Kadia, Kota Kendari. Lisa mengelolanya bersama suami dan beberapa orang pegawai. Dalam satu hari satu warung makan bisa menghabiskan satu karung sagu.

“Kita buka dari pagi jam 8 pagi sampai jam 9 malam. Paling ramai asalah siang hari saat makan siang. Penghasilan satu hari bisa sampai  3 Juta rupiah, tapi itu masih hitungan kotor. Pengunjung perhari rata-rata bisa sampai 50 orang,” ujar Lisa.

Lisa merupakan keturunan dari ayah dan ibu yang berasal dari Pulau Selayar, Sulawesi Selatan. Ia lahir dan besar di Kendari karena dahulu orang tuanya besar di Kendari. Berkat usahnya merintis rumah makan, kebutuhan keluarganya dapat terpenuhi.

Anak ibu Lisa ada dua, satu masih sekolah setingkat SMA sedangkan seorang  lagi baru saja selesai dari Poltekes Kendari. Baginya, menu Sinonggi di zaman sekarang ini masih dapat bersaing dengan makanan-makanan populer lainnya. 


Penulis: Muhamad Taslim Dalma