Showing posts with label Muna. Show all posts
Showing posts with label Muna. Show all posts

Ajakan Persatuan dalam Lagu Muna: Tampo Napalano

JENDELASULTRA.BLOGSPOT.COM,- Salah satu lagu daerah dari Kabupaten Muna yang tak lekang oleh waktu adalah “Tampo Napabalano”. Lagu ini tentang tanah kelahiran dan ajakan untuk hidup rukun dan bersatu dalam sebuah rumpun keluarga.

Dari penelusuran penulis, lagu ini diciptakan oleh seorang sarjana pendidikan bernama Masrin Abidin. Salah satu yang menyanyikan lagu ini adalah Harry Setiawan yang diproduksi oleh label rekaman Megaswara.

Ajakan untuk bersatu dan hidup rukun tampak pada lirik “Hintumo basitie, mosi-mosirahaku. Doseise mana sokaetahano liwunto ini”. Artinya “kamulah keluarga yang sangat dekat mari kita bersatu untuk kebaikan kampung kita ini”.

Sementara, lirik yang membuat pendengarnya untuk mengingat kampung halaman adalah “Witonu Wuna ntiarasi, Tampo mina limpuhanea. Newatumo Kalembohano Reaku”. Artinya “Tanah Muna yang disayang, Tampo tak akan kulupakan. Di sanalah tumpah darahku”. Kata “kalembohano reaku” bisa juga berarti tempat kelahiran. Secara arti kata “lembo” adalah kolam dan “rea” adalah darah.

Cover lagu daerah Muna: Tampo Napabalano. 

Berikut lirik lagu Tampo Napabalano.

O... Tampo Napabalalo
Newatumo witeno kalentehaku
Noponogho barakati nekakakawasa
Sampe mate Tampo mina limpuhanea

O... Tampo napabalano 
Newatumo witeno kalantehaku
Noponogho barakati nekakakawasa
Sampe mate Tampo mina limpuhanea

Hintumo basitie, mosi-mosirahaku 
Doseise mana sokaetahano liwunto ini 
Witonu Wuna ntiarasi, Tampo mina limpuhanea 
Newatumo kalembohano reaku. 

Terjemahan lagu itu adalah sebagai berikut. 

O... Tampo Napabalalo (Tampo merupakan kelurahan sedangkan Napalano satu tingkat di atasnya yakni kecamatan. Wilayah ini masuk dalam administrasi Kabupaten Muna)
Newatumo witeno kalentehaku (Di sanalah tanah kelahiranku)
Noponogho barakati nekakakawasa (Penuh dengan berkah dari Tuhan yang Maha Kuasa)
Sampe Mate Tampo Mina Limpuhane (Hingga mati pun Tampo tak akan kulupakan)

Hintumo Basitie, Mosi-mosirahaku (Kamulah keluarga yang sangat dekat)
Doseise mana sokaetahano liwunto ini (Mari kita bersatu untuk kebaikan kampung kita ini)
Witeno wuna ntiarasi, Tampo mina limpuhanea (Tanah Muna yang disayang, Tampo tak akan kulupakan)
Newatumo Kalembohano Reaku (di sanalah tumpah darahku).

Penulis: Muhamad Taslim Dalma

Seni Kabhaleko di Muna, Mengawetkan Cadangan Makanan Hingga Puluhan Tahun

KEBUN JAGUNG -Seorang kakek pekebun jagung sedang membersihkan rumput yang mengganggu tanaman jagung di kebun miliknya, tepatnya di Kecamatan Tongkuno, Muna pada awal 2018 lalu. (Foto: Dok. Penulis)
JENDELASULTRA.BLOGSPOT.COM – Masyarakat Muna, Sulawesi Tenggara (Sultra) hingga dikenal sebagai pekebun jagung. Bahkan pada zaman dahulu, jagung merupakan makanan pokok. Jagung jadi tanaman andalan yang bisa menghindarkan dari ancaman kelaparan. 

Pada masa penjajahan maupun setelah memasuki orde lama dan orde baru, bahan makanan masih terbatas. Pada masa-masa itu, kebun  jadi andalan untuk menghasilkan bahan makanan, sekaligus menjadi simbol kemandirian. Mandiri karena mereka bisa bertahan hidup hanya dari hasil kebun dan bertukar hasil kebun, di samping berburu dan melaut. 

Namun demikian, tanaman seperti jagung ditanam hanya berdasarkan musim yang terbaca dari datangnya hujan. Sehingga perlu ditaktisi bagaimana caranya agar bahan makanan awet disimpan dalam jangka waktu puluhan tahun. 

Orang Muna menemukan cara untuk menyimpan cadangan makanan agar tetap awet dan dapat dimakan. Cadangan makanan yang dapat disimpan lama adalah jagung dan kabuto (ubi kayu yang dikeringkan).

Untuk menyimpan jagung itu, mereka memiliki cara khusus, dapat disebut seni menyimpan jagung bernama ‘kabhaleko’. Tata cara membuat kabhaleko pun harus hati-hati, dibuat sedemikian rupa agar rayap, kutu, tikus, dan hama lainnya tidak dapat menghancurkan isi jagung. 

Sedikit kesalahan dalam penyusunan jagung dengan metode kabhaleko, kutu yang dinamakan ‘bubu’ akan mengancurkan berton-ton jagung hanya dalam sekali serang. Olehnya orang Muna, mengembangkan tata kabhaleko yang tepat. Seni menyimpan cadangan makanan itu berlanjut dari generasi ke generasi. 

Selain kabhaleko ada pula yang disebut kapanto untuk penyimpanan jangka pendek. Pada masa sekarang ini yang biasa dilakukan masyarakat hanya kapanto sedangkan kabhaleko sudah hampir tidak ditemukan lagi. Sebab tidak lama usai panen jagung, masyarakat langsung menjualnya untuk keperluan lain, misalnya membeli beras.
PENYIMPANAN JAGUNG - Kapanto merupakan penyusunan jagung secara veritikal dalam sebuah petak persegi (biasanya 2x2 meter atau lebih) di dalam pondok kebun. Penyimpanan jagung dengan metode ini hanya untuk sementara. (Foto: Dok. Penulis)
Kapanto merupakan penyusunan jagung dalam sebuah petak persegi (biasanya 2x2 meter atau lebih) di dalam pondok kebun atau rumah. Buah jagung  yang belum dikupas kulitnya disusun secara vertikal (tegak lurus) hingga penuh dalam satu petak penyimpanan. Petak penyimpanan biasanya dari batangan kayu.  

Sementara kabhaleko, adalah penyimpanan jagung dalam sebuah petak. Petak kayunya sama seperti kapanto, bahkan bisa lebih luas karena jagung yang disimpan lebih banyak. Karena memang untuk jangka waktu yang lama maka petaknya ada di atas loteng rumah. Dalam petak itu, buah jagung yang belum dikupas kulitnya, disusun miring mengikuti kemiringan atap. 

Di bawah loteng  ada tungku batu pembakaran atau dapur tempat memasak. Asap dari pembakaran kayu itu yang akan selalu masuk ke loteng. Walhasil Jagung dalam kabhaleko kebal dari serangan rayap, kutu, tikus dan hama lainnya. Sebab, suhunya yang selalu hangat, tepat berada di bawah atap rumah dan selalu penuh asap. Selain itu, susunannya yang rapi dan kuat membikin tikus hanya dapat memakan yang ada di bagian lapis terluar kabhaleko.

Dengan metode penyimpanan kabhaleko yang demikian itu, jagung dijamin dapat bertahan puluhan tahun. Jagung dalam kabhaleko itulah yang pada zaman dahulu membentengi para masyarakat dari ancaman kelaparan, dan terbantu bila terjadi anomali cuaca yang menyebabkan gagal panen.

Jagung yang disimpan lama tidak bisa lagi jadi bibit. Makin lama disimpan makin keras dan semakin  kebal pula terhadap serangan rayap. Jagung yang disimpan puluhan tahun, warna bijinya akan tampak merah.

Jagung yang sudah tahunan disimpan biasanya dimasak jadi kambuse (kuliner khas Muna). Hanya saja kalau jagung belasan tahun ada dalam kabhaleko, memasaknya bisa sampai setengah hari, beda dengan jagung yang belum lama disimpan dapat dimasak kambuse  hanya dalam waktu dua jam.

Agar isi kabhaleko tak habis-habis, buah jagung diambil sedikit-sedikit untuk dimasak, dengan hitungan sekali makan. Kemudian, Kabhaleko terus diisi setiap kali musim panen telah tiba. Dengan metode keluar-masuk itu, kabhaleko selalu penuh dengan buah jagung, sebagai cadangan makanan.***


Penulis: Muhamad Taslim Dalma  

Potret Kesederhanaan Muna-Buton dalam Sajian Kamperodo Kantiniwua

JENDELASULTRA.BLOGSPOT.COM – Makanan khas Muna dan Buton yang mencerminkan kesederhanaan adalah sajian jagung mudanya. Sederhana, dari bahannya yang hanya jagung hingga proses memasaknya. Begitu pula cara menikmatinya, hanya bermodal gigi yang utuh buat mengigit. 

Bagi masyarakat, penyebutan kuliner khas Sulawesi Tenggara itu adalah Kamperodo dan Kantiniwua, berasal dari bahasa daerah Muna. Sajian yang demikian sederhana diperkirakan telah lama menjadi menu makanan masyarakat setempat, mungkin sejak biji jagung mulai dibudidayakan di Sulawesi Tenggara.
Makanan Khas Muna Buton "Kamperodo"
Kamperodo adalah jagung muda yang dimasak tanpa membuka kulitnya sedangkan Kantiniwua direbus dengan terlebih dahulu membersihkan kulitnya. Soal rasa, antara Kantiniwua dan Kamperodo kurang lebih sama.

Kuliner ini tidak jauh beda dengan jagung muda rebus di daerah lainnya, bedanya hanya rasa jagungnya. Daratan pulau Muna dan sebagai daratan Buton yang terdiri dari tanah merah, bebatuan, dan sebagian lagi batu kapur memberi cita rasa tersendiri untuk jagung yang tumbuh di atasnya.

Dalam pembuatan Kamperodo maupun Kantiniwua yakni buah jagung yang berumur kurang lebih  70 hari. Pada usia ini biji jagung memiliki rasa manis yang unik dengan tekstur lembek dan tidak terlalu keras. 

Soal memerangkap rasa manis inilah yang membedakan Kamperodo dan Kantiniwua. Kamperodo cenderung mempertahankan rasa manis karena terbungkus oleh kulit sedangkan Kantiniwua rasa manisnya berkurang karena tak terlindung. 

Rasa manis dua jenis makanan itu juga dipengaruhi oleh cara memasak. Jika direbus biasa, jagung terendam air dalam panci maka rasa manisnya berkurang karena terserap oleh air rebusan. Beda halnya jika didandang (jagung tak terendam air rebusan), cita rasa jagung akan lebih utuh namun dengan waktu pemasakan yang lebih lama.

Tata cara memasak, jagung muda terlebih dahulu dibersihkan dari kulitnya untuk membuat Kantiniwua sedangkan untuk Kamperodo cukup dipotong rapi bagian atas dan bawah buah jagung. Kemudian susun rapi dalam panci rebusan. Dalam satu panci besar pengukusan, biasanya Kambewe Gola dan Kambewe Kapute dimasak bersamaan.
Kuliner Khas Sulawesi Tenggara Jagung Muda

Sajian Kamperodo dan Kantiniwua enak dimakan tanpa campuran lauk pauk. Untuk makan siang ataupun makan malam bersama keluarga biasanya dihidangkan dengan makanan tradisional lainnya seperti Kenta Kagarai (ikan asin), Kadada Parende (sayur bening), dan lainnya.

Selain dimakan biasa seperti cemilan, Kantiniwua dan Kamperodo juga lebih nikmat jika digiling terlebih dahulu dalam alat penggilingan, masyarakat setempat menyebutnya Kagiling. Caranya biji jagung (pilih yang lumayan keras/tua) dipisahkan dari tongkol lalu digiling. Hasil gilingan ini memiliki tekstrur yang lembut dan mudah menyatu saat diremas. Soal rasa jangan bertanya, sebab rasa mestilah dirasakan.    


Penulis: Muhamad Taslim Dalma




Manisnya Hidup Semanis Kambewe Gola

Kuliner Khas Kambewe Gola
JENDELASULTRA.BLOGSPOT.COM – Kuliner khas Muna yang cukup istimewa adalah Kambewe Gola. Makanan yang berbahan dasar jagung muda. “Kambewe” adalah penyebutan untuk makanan yang dibungkus daun kelapa atau kulit buah jagung sedangkan “Gola” artinya gula. 

Tanaman biji-bijian seperti Jagung memang tumbuh dengan subur di Pulau Muna. Karena hal itulah masyarakat setempat banyak bercocok tanam jagung. Hasil olahan jagung inilah yang jadi salah satu makanan pokok daerah setempat.

Sebelum beras atau tanaman padi populer di Muna, zaman dahulu (sekira tahun 2000-an ke belakang) jagung merupakan makanan pokok sehari-hari. Berbagai olahan makanan dari jagung disajikan dengan cukup variatif.

Salah satu olahan yang terkenal adalah Kambose/Kambuse, olahan jagung tua (jenis jagung putih) yang direbus khusus dengan campuran kapur. Lain lagi dengan olahan dari jagung  yang masih muda seperti Dhodholo (dodol), Kamperodo, Kambewe Kapute, dan Kambewe Gola. 

Empat kuliner khas tersebut hanya dapat ditemukan sekali waktu saat usia jagung masih muda, mendekati masa panen masa panen. Jika berbicara mana yang primadona dan paling populer dalam masyarakat Muna, jawabannya adalah Kambewe Gola.

Kambewe Gola terbuat dari bahan sederhana yakni biji jagung muda yang berumur 70 hari. Pada umur ini biji jagung sudah benar-benar pas untuk menjadi olahan makanan, teksturnya tidak lembek juga tidak keras, dan rasa jagung masih manis.

Mula-mula jagung dibersihkan dari kulitnya dengan catatan kulit yang masih bagus jangan dibuang sebab akan digunakan untuk membungkus adonan. Kemudian, jagung yang sudah bersi dilepas dari tongkolnya dengan menggunakan pisau lalu dimasukkan dalam Kagiling (alat penggilingan).

Hasil gilingan yang tampak encer dicampur dengan gula merah sampai merata. Adonan sederhana ini tanpa perlu lagi campuran bahan lain. Adonan lalu dimasukkan dalam selembar kulit jagung dengan volume sesuai besar kulit jagung. 

Pada tahap akhir adonan yang sudah terbungkus direbus dalam panci dandang. Tidak boleh menggunakan panci biasa sebab adonan yang sedikit encer tidak boleh bersentuhan langsung dengan air rebusan.

Dalam sekali masak, biasanya dalam panci Kambewe Gola tidak sendirian tapi didamping kuliner jagung muda lainnya seperti Kamperodo dan Kambewe Kapute. Pemasakan dalam panci yang ini tidak akan memperngaruhi rasa masing-masing makanan sebab dari bahan yang sama yakni jagung muda.

Adonan yang telah matang berwarna merah kecoklatan dan memiliki tekstur yang padat tapi tidak keras. Teksturnya yang renyah akan segera hancur dalam sekali kunyah. Rasanya manis dari perpaduan unik manis gula merah dan manis jagung. 
Hidangan Kambewe Gola. (Foto: Muhamad Taslim Dalma)


Kambewe Gola dibuat bukan hanya untuk sebagai penghilang lapar atau sekedar untuk jualan di pasar. Makanan ini dibuat sebagai wujud rasa Syukur kepada Tuhan karena jagung yang akan dipanen melimpah. Rasa syukur atas manisnya suatu nikmat kehidupan, itulah salah satu makna filosofis Kambewe Gola. 

Olehnya, dalam setiap pembuatannya tetangga pekebun maupun keluarga akan diundang untuk bersama-sama mulai dari petik jagung di dalam kebun sampai menyantap kambewe gola beramai-ramai. Momen santap bersama ini disebut acara “Kambewe Gola”.

Pada awal tahun 2000-an dalam acara Kambewe Gola biasanya disertai dengan lantunan-lantunan nyanyian rakyat Muna dengan iringan alat musik gong dan gendang. Acara ini menjadi sangat ramai karena jadi sarana berkumpun diantara pekebun jagung maupun dengan keluarga para pekebun.

Penulis: Muhamad Taslim Dalma 

Menemukan Kuliner Khas Muna di Kedai Ratu Alam Kendari

Sepeda Ontel di Kedai Ratu Alam Kendari.
JENDELASULTRA.BLOGSPOT.COM – Kendari adalah Ibu Kota di Sulawesi Tenggara (Sultra) dengan masyarakat beragam dari berbagai suku, ras, agama, dan golongan begitu pula kulinernya. Kuliner khas Kendari adalah representasi dari keragaman itu. Berwarna, berbeda rasa. 

Untuk menemukan menu kuliner khas tertentu, hanya di rumah makan tertentu pula. Tidak banyak, karena kebanyakan rumah makan menyediakan menu makanan secara umum, semisal prasmanan. Ada pula rumah makan Padang, seperti marak di Kota besar lainnya. Untuk mendapatkan yang istimewa, maka pastilah bukan yang umum-umum.

Secara khusus, salah satu yang dapat menjadi tujuan di Kota ini adalah Kedai “Ratu Alam” yang fokus pada kuliner makanan khas Muna. Letaknya di jalan Buburanda, Kelurahan Korumba, Kecamatan Mandonga, tidak jauh dari Bundaran Stainless By Pass Kendari.
Kedari Ratu Alam di jalan Buburanda Kelurahan Korumba Kendari.

Desain Kedai  itu, unik tidak seperti rumah makan biasa. Kedainya dihias dengan ornamen kelapa yang disusun rapi pada tiang-tiang bangunan non permanen. Di teras depan terdapat sepeda ontel antik dengan gantungan keranjang tradisional berisi kulit jagung.

Lalu, di dinding depan Kedai Ratu Alam ada layang-layang legendaris "Kaghati" terbuat dari daun kolope (ubi hutan), asli produk budaya tua Muna. Begitu pula, di bagian dalam, ada susunan kelapa tua, dan ornamen-ornamen unik lainnya yang disusun memberi kesan “kreatif”.

Kedai Ratu Alam menyediakan menu-menu andalan dari masakan tradisional Muna seperti Lapa-Lapa, Kabuto, Kambuse, Katula, Ayam Parende, Kenta Kapinda (olahan ikan), dan jenis kue khas Muna yakni cucur, waje, dan lainnya. Ada pula menu khas Kendari lainnya seperti sinonggi, Burungo, dan lainnya. Semua diharga yang tak begitu mahal kisaran Rp 25 ribu sampai Rp 50 ribu.
Kuliner khas Muna Kabuto.


Untuk menyiapkan menu-menu itu tentulah tidak mudah, terutama adalah bahan bakunya yang tidak selalu tersedia di Kota Kendari. Salah satu menu, Kabuto, bahan bakunya didatangkan dari Pulau Muna, di salah satu pasar tradisional Kabupaten Muna Barat. 

Kabuto merupakan makanan yang berasal dari ubi kayu (singkong)  yang dikeringkan dan mengalami pelapukan dari proses fermentasi sederhana. Warna ubi yang putih berubah jadi hitam pekat bercampur warna abu-abu, dan kadang pula Kabuto lubang-lubang seperti kayu yang dimakan rayap. Bila sudah diolah, rasanya unik dan akan selalu dirindukan.


Penulis: Muhamad Taslim Dalma

Mencicipi Kakobho, Makanan Sederhana Mengenyangkan


Kuliner khas Sulawesi Tenggara kakobho. (Muhamad Taslim Dalma)
JENDELASULTRA.BLOGSPOT.COM – Salah satu kuliner khas yang dapat ditemukan di Pulau Muna adalah Kakobho, salah satu menu sarapan pagi yang mengenyangkan. Bahan makanan khas Sulawesi Tenggara (Sultra) ini sederhana. Perpaduan kaopi (tepung ubi kayu), kelapa, dan gula merah berbungkus daun pisang.

Kata “kakobho” berasal dari bahasa Muna yang artinya “ikatan”. Sesuai namanya kakobho memang diikat. Pembungkusnya dari daun pisang dan ikatannya dari daun pisang pula. Diameter dan bentuknya seperti sushi  (makanan khas Jepang) dengan panjang  20 cm sampai 30 cm.

Pembuatannya dimulai dari membuat inti yakni campuran kelapa dan gula merah. Kelapa yang dipilih adalah yang belum terlalu tua dan tidak terlalu tua. Kelapa diparut lalu dicampur dengan gula merah sampai meresap dalam parutan kelapa.

Sementara adonan dari kaopi dibasahi air agar gampang dibentuk. Inti kelapa lalu dilapisi kaopi. Inti dan lapisannya dibentuk dalam daun pisang sehingga begitu inti tertutupi kaopi maka langsung terbungkus daun pisang. Masing-masing ujung daun pisang kemudian  diikat.

Bungkusan itu lalu dikukus sampai matang dalam panci dandang. Bila sudah masak, kakobho biasanya dihidangkan dengan teh atau kopi sebagai sarapan pagi. Ada pula yang menjualnya di pasar-pasar tradisional di Muna.

Rasanya perpaduan antara inti kelapa gula merah dan ubi kayu. Hanya dengan dua kakobho dijamin sudah dapat mengenyangkan karena kandungan seratnya yang tinggi dan cepat memuaskan lidah. Makanan ini biasanya juga jadi bekal dalam perjalanan jauh. 

Makanan ini menjadi khas di Sulawesi Tenggara dan banyak terdapat di wilayah kepulauan Muna, Buton, dan Wakatobi. Kelapa dan ubi kayu memang banyak tumbuh subur dan dibudidayakan masyarakat setempat.


Penulis: Muhamad Taslim Dalma

Renyahnya Kambewe Kapute, Makanan Khas Muna dari Jagung

JENDELASULTRA.BLOGSPOT. COM – Pulau Muna merupakan salah satu daerah di Sulawesi Tenggara (Sultra) yang terkenal dengan tanaman jagung. Pulau terbagi atas beberapa wilayah pemerintahan yakni Kabupaten Muna, Muna Barat, Buton Utara, dan Buton Tengah.

Perkebunan jagung  dapat ditemukan di semua wilayah Muna secara merata. Tak heran bila olahan jagung jadi salah satu makanan pokok non beras yang sangat digemari. Beberapa kuliner khas dari jagung misalnya Kambuse/Kambose, Kambewe, Kambewe Kapute, Kambewe Gola, dan Dhodholo (dodol).

Makanan khas Muna yang hanya dapat dijumpai di jelang musim panen jagung adalah Kambewe Gola dan Kambewe Kapute. Keduanya kurang lebih sama, berasal dari bahan jagung muda. Bedanya Kambewe Gola dibuat dengan campuran gula merah sedangkan Kambewe Kapute hanya dari jagung muda biasa.

MAKANAN KHAS MUNA - Kambewe Kapute merupakan makanan berbahan dasar jagung muda. Makanan khas yang dimasak dengan cara dikukus ini dijumpai di Pulau bila sudah mendekati musim panen jagung. 


Dalam pembuatan Kambewe Kapute, bahan dasarnya hanyalah buah jagung yang berumur  70 hari. Pada usia ini biji jagung tidak terlalu lembek dan tidak terlalu keras serta memiliki rasa manis yang unik.


Mulanya jagung dibersihkan dari kulitnya. Beberapa lembar kulit jagung yang masih bagus dan hijau jangan dibuang sebab digunakan untuk membungkus adonan.  Kemudian, jagung diris dengan pisau untuk memisahkan biji dengan tongkol.

Biji-biji jagung lalu dimasukkan dalam Kagiling (alat penggilingan). Hasil gilingan ini biasanya cukup encer, tergantung usia jagung, semakin muda usia jagung maka adonan yang dihasilkan akan semakin encer. Namun hal ini tidak jadi masalah tegrantung selera masing-masing.

Adonan hasil gilingan tak lagi dicampur dengan bahan-bahan lain untuk menjaga kealamian rasa jagung muda. Begitu selesai digiling, adonan bisa langsung dimasukkan dalam pembungkus dari lembaran-lembaran kulit jagung. Selembar kulit jagung sudah cukup untuk setiap Kambewe Kapute.

Terakhir,  adonan yang telah terbungkus  rapi direbus dalam panci dandang. Mengapa bukan panci biasa?  Karena adonan yang sedikit encer tidak boleh bersentuhan langsung dengan air rebusan. Hal ini dimaksudkan agar adonan tetap utuh dalam bungkusan.
MAKANAN KHAS MUNA - Isi Kambewe Kapute berwarnah putih cerah kekuningan.

Kambewe Kapute yang telah matang berwarna putih cerah kekuningan dan  tidak keras namun padat. Teksturnya yang renyah akan segera hancur dalam sekali kunyah. Rasanya tak begitu manis seperti Kambewe Gola tapi tetap enak untuk disantap. (Baca juga: Kambuse, Kuliner Khas Tradisional Masyarakat Muna)

Sajian Kambewe Kapute biasanya dihidangkan dengan beragam makanan tradisional Muna lainnya seperti Kadada Katembe (sayur bening), Kenta Parende (ikan kuah), Kenta Katunu (ikan bakar), dan lain sebagainya. (Baca juga: Cucur, Kuliner Khas Tradisional Muna - Buton dalam Acara)


Penulis: Muhamad Taslim Dalma

Kasoami/Katula: Makanan Khas Sulawesi Tenggara Pembangkit Rindu


JENDELASULTRA.BLOGSPOT.COM – Sekilas kata  “Kasoami” mirip kata “suami” dalam Bahasa Indonesia. Jangan sampai salah tafsir, kedua kata itu sama sekali tidak memiliki kesamaan makna, suami adalah pasangan hidup resmi seorang wanita sedangkan Kasoami (ada juga yang menyebutnya kasuami) merupakan nama makanan khas Sulawesi Tenggara (Sultra).
Kasoami/Katula, kuliner khas asal Sulawesi Tenggara
Kuliner sederhana ini banyak dijumpai di wilayah kepulauan Provinsi Sulawesi Tenggara:  Pulau Muna, dan gugusan kepulaun Buton, termasuk Wakatobi (Wanci, Kaledupa, Tomia, Binongko). Namun demikian di masa kekinian, juga dapat ditemukan di daratan/pulau induk Sulawesi (celebes), banyak dijajakan di pasar-pasar lokal.


Masyarakat Pulau Buton dan Wakatobi menyebutnya “Kasoami” sedangkan penamaannya pada masyarakat Muna   adalah “Katula”. Kasoami dan Katula tidak memiliki perbedaan sama sekali mulai dari bentuk, cara memasak, dan bahan yang digunakan.


Tipikal Masyarakat di kepulauan itu yang (senang-cari hidup) merantau di provinsi lain bahkan luar negeri semisal Malaysia pastilah akan selalu rindu dengan Kasoami. Tentu bukan hal mudah menemukan Kasoami di daerah rantau dengan cita rasa khas bumi Sulawesi.
Kasoami yang sudah dikemas. Banyak dijajakan di pasar-pasar tradisional.
Kasoami/Katula diolah dari bahan baku ubi kayu (singkong) yang tumbuh subur di wilayah kepulauan Sulawesi. Mula-mula ubi kayu diparut atau digiling pakai mesin. Hasil parutan di masukan dalam karung atau kain untuk dipadatkan. Pemadatan dilakukan untuk menghilangkan kandungan air pada hasil parutan dengan cara ditindis/ditekan pakai alat dari kayu ataupun batu besar.


Padatan tersebut berwarna putih bersih (warna dasar ubi kayu) dan berbentuk lingkaran dengan diameter sekira 30 Cm serta ketebalan 5 sampai 6 Cm. Padatan lalu dibungkus dengan daun pohon jati atau daun pisang dan diikat. Bahan dasar inilah yang disebut Kagepe (penyebutan Buton-Wakatobi) alias Kaopi (Muna)  yang banyak dijual di pasar-pasar lokal setempat.


Bahan ini tidak bisa langsung dimakan karena harus dimasak terlebih dahulu dengan berbagai macam sajian. Kagepe selain  digunakan untuk bahan dasar membuat Kasoami, juga biasanya diolah menjadi kuliner khas lainnya seperti Onde-Onde, Sanggara Bandar (pisang goreng warna-warni), kerupuk, dan lainnya.


Tata cara membuat Kasoami masih sangat tradisional. Awalnya Kagepe diremas-remas dengan tangan sampai menyerupai tepung. Lalu bahan tersebut diamasukkan dalam alat kukus yang sangat unik, berbentuk kerucut (kurang lebih sama dengan tumpeng). Alat dengan volume sekirtar 1 liter ini  terbuat dari anyaman daun kelapa.


Untuk mengukusnya tidak menggunakan panci biasa namun dengan periuk yang terbuat dari tanah liat (mirip sebuah guci). Mulut periuk tersebut dimasukan alat kerucut yang telah berisi tepung kagepe. Lalu dimulailah proses pemasakan dengan api sedang dan volume air (sedang) dalam periuk yang tak sampai bersentuhan ujung kerucut.



Kasoami yang siap santap (setelah proses pemasakan) memiliki banyak jenis, ada kasoami putih (biasa), kasoami pepe, kasoami campur gula merah, dan masih banyak lagi jenisnya. Semua berasal dari bahan yang sama yakni ubi kayu.
Salah satu jenis Kasoami. Namanya Kasoami Pepe.
Makanan ini biasanya dihidangkan  dengan kuliner khas lainnya seperti Kenta Parende (ikan kuah), Kadada Katembe (sayur bening), Kenta Kagarai (ikan asin) maupun ikan bakar. Rasa Kasoami cukup unik (kenyal-lembut), berbeda dengan makanan pokok lainnya seperti nasi. Jika dimakan tanpa lauk pauk, dipastikan kita akan sering merasa kehausan karena tekstur Kasoami yang menyerap cairan dalam mulut.


Mengenai tingkat ketahanannya, Kasoami hanya dapat bertahan dua sampai tiga hari, tergantung medium penyimpanannya. Jika disimpan secara terbuka makanan ini akan cepat terasa kecut dan mengeras dan lama kelamaan akan berjamur.


Karena keawetannya yang terbilang pendek, Kasoami ini jarang dijadikan oleh-oleh. Maka dari itu, makanan ini tidak akan ditemukan di toko oleh-oleh khas Sulawesi Tenggara. Makanan ini biasanya jadi bekal yang dalam perjalanan jauh dan sering jadi bekal bagi nelayan yang pergi melaut.
Hidangan Kasoami Pepe



Namun demikian, bagi Anda yang ingin menjadikan Kasoami sebagai oleh-oleh tidak ada salahnya untuk dicoba karena banyak di jual di pasar-pasar tradisional. Harganya terbilang murah, sekira Rp. 5 ribu per satu Kasoami (harga per April 2017) dan bisa lebih murah dari itu.


Sebelum makanan pokok nasi (beras) populer seperti zaman sekarang ini, Kasoami dahulu (sebelum tahun 2000-an) merupakan makanan pokok sehari-hari untuk wilayah Wakatobi, dan sebagian kepulauan Buton. Istilahnya tiada hari tanpa kasoami seperti orang barat yang tiada hari tanpa roti gandum.  Kasoami jadi sajian utama di meja makan mulai dari makan siang sampai makan malam, hanya lauk pauknya berganti-ganti, sesuai selera masyarakat.
 

Hal itu, berbeda dengan masyarakat di Pulau Muna yang lebih mengandalkan Kambuse (jagung) sebagai makanan pokoknya, Katula hanya selingan. Kondisi demikian yang cenderung berbeda terbilang wajar sebab beberapa jenis singkong tumbuh subur di kepulauan daratan Wakatobi dan sebagian pulau Buton meskipun tanahnya berbatu-batu. Sementara di daratan Pulau Muna, yang tumbuh subur dan jadi primadona masyarakat adalah tanaman jagung.


Penulis : Muhamad Taslim Dalma

Cucur, Kuliner Khas Tradisional Muna - Buton dalam Acara Haroa

JENDELASULTRA.BLOGSPOT.COM – Pernah dengar kata Cucur? Mungkin untuk masyarakat luar Sulawesi Tenggara (Sultra) masih asing dengan kata ini. Namun tidak demikian dengan masyarakat (suku) Muna – Buton, pastilah mengenalnya.

Cucur merupakan penganan khas orang Muna maupun Buton yang berbentuk lingkaran. Ukurannya kurang lebih telapak tangan orang dewasa (tak termasuk jari yah).  Kue ini biasanya wajib hadir dalam acara-acara keluarga maupun upacara adat. Selain nama “Cucur”, masyarakat Muna juga menyebutnya “Susuru”, sebuah kata yang mengikuti kaidah bahasa Muna.

Cucur atau "Susuru" merupakan kuliner khas dari daerah Buton dan Muna. Foto: Muhamad Taslim Dalma
Ketika acara seperti “Haroa” atau yang dikenal dengan istilah “Baca-Baca”, hidangan Cucur akan berdampingan dengan kuliner tradisional lainnya. Dalam satu nampan haroa yang ditutupi tudung saji, kue cucur akan “sepanggung” bersama Sirikaya, Waje, sanggara (Pisang Goreng), Lapa-Lapa, Ayam Parende, dan aneka makanan tradisional lainnya. (Baca:

Haroa: Haroa: Tradisi Masyarakat Muna-Buton Bernuansa Islami)

Cara membuatnya tergolong gampang-gampang-sulit. Gampang bagi ibu-ibu asal Muna-Buton dan pastilah sulit bagi masyarakat luar yang hendak belajar membuatnya (He..he..). Mengapa sulit? Sebab untuk membuatnya harus memenuhi standar dan kriteria, harus betul-betul bundar dan memiliki gerigi (tumpul bulat) di sisi-sisi lingkaran.

Bahan aslinya sebenarnya hanya terdiri dari tepung beras dan gula merah. Untuk memenuhi selera ada yang menambahkannya dengan sedikit gula pasir dan  santan kelapa. Pembuatnya juga biasanya menggunakan jenis  beras dolog, bukan beras kepala atau beras mahal lainnya. Alasannya, sederhana karena beras dolog yang teksturnya mudah hancur akan menghasilkan kue cucur yang renyah.

Bahan lainnya yang diperlukan adalah minyak untuk menggoreng, akan lebih baik jika pakai minyak kelapa buatan masyarakat sendiri agar bau cucur yang dihasilkan lebih wangi. Peralatan yang dibutuhkan tentu saja kompor dengan nyala api sedang, kuali penggorengan, dan cangkir ukuran sedang.

Sebagai langkah awal, tepung beras dicampur gula merah yang sudah dihancurkan (seperti tepung). Takarannya, tentu saja volume tepung beras harus dua kali lebih banyak atau lebih, pokoknya sesuai selera.

Setelah tepung beras dan gula merah tercampur rata, tambahkan air secukupnya (atau bisa juga santan) lalu aduk hingga kental. Adonan haruslah kental, tidak boleh cair agar ketika digoreng kue cucur bisa terbentuk lingkaran sempurna dan tidak meluber.

Takaran setiap kali penggorengan adalah segelas cangkir. Tuangkan adonan yang ada di cangkir ke kuali berisi minyak yang sudah panas. Minyak tidak boleh terlalu banyak, secukupnya saja dengan ukuran agar adonan tak terlalu tenggelam dalam minyak. Jika adonannya bagus maka cucur akan terbentuk sempurna. Gerigi rapi di setiap sisi lingkaran cucur terbentuk oleh didihan minyak di sisi-sisi adonan cucur.

Adonan yang baik biasanya akan meletus kecil di dalam penggorengan. Jika tidak meletus biasanya di bagian tengah cucur di tusukkan lidi agar matangnya sampai ke bagian tengah adonan. Jika dirasa sudah masak, cucur bisa diangkat dan siap dihidangkan.

Cucur akan lebih nikmat disantap saat masih hangat, usai diangkat dari kuali. Namun itu tergantung selera masing-masing. Rasanya unik dari perpaduan yang pas antara gula merah dan tepung beras, apalagi ditambah santan.

Selain disantap saat acara Haroa, ada juga yang menyantapnya dengan segelas teh di pagi hari. Karena rasanya yang manis, kue cucur juga bisa jadi sajian Dessert (hidangan penutup) untuk acara makan siang atau makan malam. 

Kue Cucur (kiri) berdampingan dengan sejumlah makanan tradisional Muna-Buton. Aneka makanan merupakan sajian dalam acara Haroa atau yang dikenal dengan istilah "Baca-Baca". (Foto: Muhamad Taslim Dalma)
Tak jarang penganan tradisional ini dijadikan buah tangan/oleh-oleh bagi yang berkunjung ke Muna maupun Buton. Dengan tempat penyimpanan yang tepat, kue Cucur dapat bertahan selama beberapa hari bagi yang dalam perjalanan jauh.

Kalau dijadikan oleh-oleh ada baiknya sebelum dimakan dipanasi terlebih dahulu di panci dandang. Sertakan daun pepaya di dalam panci, tepat di samping atau jadi pengalas cucur yang akan dipanasi. Cara ini akan membuat tekstur cucur lebih renyah. Lalu disantap dalam keadaan hangat. (Baca juga:
Kambuse, Kuliner Khas Tradisional Masyarakat Muna)


Penulis: Muhamad Taslim Dalma