Showing posts with label Wakatobi. Show all posts
Showing posts with label Wakatobi. Show all posts

Asal Usul Buton dan Benarkah Benteng Keraton Buton Terbesar di Dunia

Benteng Keraton Buton yang terletak di Kota Baubau
JENDELASULTRA.BLOGSPOT.COM – Kepulauan Buton merupakan salah satu gugusan Pulau di Sulawesi. Secara administratif, Buton masuk dalam wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra). Buton pada zaman dahulu memiliki sistem pemerintahan sendiri yang dikenal dengan Kerajaan Buton. Salah satu buktinya peninggalan kerajaan adalah Benteng Keraton Buton.

Asal-usul istilah Buton ada dua yaitu “Buton” dan ada pula “Butun” berakar dari kosa kata bahasa Melayu. Butun adalah pohon bernama latin “Barringtonia Asiatica”, sejenis pepohonan mangrove yang tumbuh di sekitar pantai. Pohon jenis ini tumbuh dengan rimbun di wilayah pesisir pulau-pulau jazirah Sulawesi Tenggara.

Butun biasa juga dikenal keben. Pohon ini bisa mencapai tinggi 7 sampai 15 meter. Daunnya seperti daun jambu mete. Kelopak bunga berwarna putih dan benang sari berwarna merah muda. Keben juga disebut box fruit karena buahnya yang seperti kubus, mirip ketupat kecil. 

La Niampe dalam bukunya “Revolusi Mental Zaman Kesultanan Buton Abad XIX” (2018) menjelaskan bahwa dahulu para pedagang dari Semenanjung Melayu yang melewati kepulauan Nusantara bagian timur, terutama tujuan Ternate, banyak singgah di pulau-pulau Buton. Penduduk banyak yang menjadi teman dagang mereka. Para pedagang itulah menyebut pulau-pulau yang mereka singgahi dengan istilah Pulau Butun atau Buton. 

Berawal dari komunikasi dan interaksi para pedagang itu, maka menyebar di Nusantara tentang Buton. Sebab itulah maka istilah Buton lebih dikenal oleh orang luar Buton, sementara masyarakat lokal terkhusus di Sulawesi Tenggara lebih akrab dengan istilah “Wolio”. Kendati demikian masih ada versi-versi lain terkait asal usul penamaan Buton.

Berbahas tentang Buton maka ruang wilayahnya luas karena Kerajaan Buton melingkupi beberapa pulau yang pada masa sekarang ini terpisah secara administratif pemerintahan. Misalnya Wanci, Kaledupa, Tomia, Binongko, yang bergabung menjadi Kabupaten Wakatobi.

Berbeda halnya dengan Wolio yang merujuk salah satu daerah yaitu Kota Baubau. Di Kota ini terdapat Benteng Keraton Buton. Letaknya di ketinggian. Dari atas benteng akan tampak pemandangan bawah dan lautan lepas. Di benteng itu terdapat meriam yang dahulu jadi senjata pertahanan.
Catatan tentang Arung Palaka di Benteng Keraton Buton


Informasi yang berkembang adalah benteng tersebut merupakan benteng terbesar di Indonesia dan yang terbesar di dunia. Namun benarkah demikian atau mungkin itu hanyalah marketing issue untuk menarik wisatawan. 

Dalam catatan Caleb Coppenger “Misteri Kepulauan Buton” (2011), mempertanyakan tentang kriteria apa yang digunakan sehingga Benteng Keraton Buton di Baubau dapat dikatakan yang terbesar. Pasalnya, ia pernah melihat beberapa benteng yang tampaknya lebih besar di Thailand dan Myanmar.


Penulis: Muhamad Taslim Dalma

Mencicipi Kakobho, Makanan Sederhana Mengenyangkan


Kuliner khas Sulawesi Tenggara kakobho. (Muhamad Taslim Dalma)
JENDELASULTRA.BLOGSPOT.COM – Salah satu kuliner khas yang dapat ditemukan di Pulau Muna adalah Kakobho, salah satu menu sarapan pagi yang mengenyangkan. Bahan makanan khas Sulawesi Tenggara (Sultra) ini sederhana. Perpaduan kaopi (tepung ubi kayu), kelapa, dan gula merah berbungkus daun pisang.

Kata “kakobho” berasal dari bahasa Muna yang artinya “ikatan”. Sesuai namanya kakobho memang diikat. Pembungkusnya dari daun pisang dan ikatannya dari daun pisang pula. Diameter dan bentuknya seperti sushi  (makanan khas Jepang) dengan panjang  20 cm sampai 30 cm.

Pembuatannya dimulai dari membuat inti yakni campuran kelapa dan gula merah. Kelapa yang dipilih adalah yang belum terlalu tua dan tidak terlalu tua. Kelapa diparut lalu dicampur dengan gula merah sampai meresap dalam parutan kelapa.

Sementara adonan dari kaopi dibasahi air agar gampang dibentuk. Inti kelapa lalu dilapisi kaopi. Inti dan lapisannya dibentuk dalam daun pisang sehingga begitu inti tertutupi kaopi maka langsung terbungkus daun pisang. Masing-masing ujung daun pisang kemudian  diikat.

Bungkusan itu lalu dikukus sampai matang dalam panci dandang. Bila sudah masak, kakobho biasanya dihidangkan dengan teh atau kopi sebagai sarapan pagi. Ada pula yang menjualnya di pasar-pasar tradisional di Muna.

Rasanya perpaduan antara inti kelapa gula merah dan ubi kayu. Hanya dengan dua kakobho dijamin sudah dapat mengenyangkan karena kandungan seratnya yang tinggi dan cepat memuaskan lidah. Makanan ini biasanya juga jadi bekal dalam perjalanan jauh. 

Makanan ini menjadi khas di Sulawesi Tenggara dan banyak terdapat di wilayah kepulauan Muna, Buton, dan Wakatobi. Kelapa dan ubi kayu memang banyak tumbuh subur dan dibudidayakan masyarakat setempat.


Penulis: Muhamad Taslim Dalma

Kasoami/Katula: Makanan Khas Sulawesi Tenggara Pembangkit Rindu


JENDELASULTRA.BLOGSPOT.COM – Sekilas kata  “Kasoami” mirip kata “suami” dalam Bahasa Indonesia. Jangan sampai salah tafsir, kedua kata itu sama sekali tidak memiliki kesamaan makna, suami adalah pasangan hidup resmi seorang wanita sedangkan Kasoami (ada juga yang menyebutnya kasuami) merupakan nama makanan khas Sulawesi Tenggara (Sultra).
Kasoami/Katula, kuliner khas asal Sulawesi Tenggara
Kuliner sederhana ini banyak dijumpai di wilayah kepulauan Provinsi Sulawesi Tenggara:  Pulau Muna, dan gugusan kepulaun Buton, termasuk Wakatobi (Wanci, Kaledupa, Tomia, Binongko). Namun demikian di masa kekinian, juga dapat ditemukan di daratan/pulau induk Sulawesi (celebes), banyak dijajakan di pasar-pasar lokal.


Masyarakat Pulau Buton dan Wakatobi menyebutnya “Kasoami” sedangkan penamaannya pada masyarakat Muna   adalah “Katula”. Kasoami dan Katula tidak memiliki perbedaan sama sekali mulai dari bentuk, cara memasak, dan bahan yang digunakan.


Tipikal Masyarakat di kepulauan itu yang (senang-cari hidup) merantau di provinsi lain bahkan luar negeri semisal Malaysia pastilah akan selalu rindu dengan Kasoami. Tentu bukan hal mudah menemukan Kasoami di daerah rantau dengan cita rasa khas bumi Sulawesi.
Kasoami yang sudah dikemas. Banyak dijajakan di pasar-pasar tradisional.
Kasoami/Katula diolah dari bahan baku ubi kayu (singkong) yang tumbuh subur di wilayah kepulauan Sulawesi. Mula-mula ubi kayu diparut atau digiling pakai mesin. Hasil parutan di masukan dalam karung atau kain untuk dipadatkan. Pemadatan dilakukan untuk menghilangkan kandungan air pada hasil parutan dengan cara ditindis/ditekan pakai alat dari kayu ataupun batu besar.


Padatan tersebut berwarna putih bersih (warna dasar ubi kayu) dan berbentuk lingkaran dengan diameter sekira 30 Cm serta ketebalan 5 sampai 6 Cm. Padatan lalu dibungkus dengan daun pohon jati atau daun pisang dan diikat. Bahan dasar inilah yang disebut Kagepe (penyebutan Buton-Wakatobi) alias Kaopi (Muna)  yang banyak dijual di pasar-pasar lokal setempat.


Bahan ini tidak bisa langsung dimakan karena harus dimasak terlebih dahulu dengan berbagai macam sajian. Kagepe selain  digunakan untuk bahan dasar membuat Kasoami, juga biasanya diolah menjadi kuliner khas lainnya seperti Onde-Onde, Sanggara Bandar (pisang goreng warna-warni), kerupuk, dan lainnya.


Tata cara membuat Kasoami masih sangat tradisional. Awalnya Kagepe diremas-remas dengan tangan sampai menyerupai tepung. Lalu bahan tersebut diamasukkan dalam alat kukus yang sangat unik, berbentuk kerucut (kurang lebih sama dengan tumpeng). Alat dengan volume sekirtar 1 liter ini  terbuat dari anyaman daun kelapa.


Untuk mengukusnya tidak menggunakan panci biasa namun dengan periuk yang terbuat dari tanah liat (mirip sebuah guci). Mulut periuk tersebut dimasukan alat kerucut yang telah berisi tepung kagepe. Lalu dimulailah proses pemasakan dengan api sedang dan volume air (sedang) dalam periuk yang tak sampai bersentuhan ujung kerucut.



Kasoami yang siap santap (setelah proses pemasakan) memiliki banyak jenis, ada kasoami putih (biasa), kasoami pepe, kasoami campur gula merah, dan masih banyak lagi jenisnya. Semua berasal dari bahan yang sama yakni ubi kayu.
Salah satu jenis Kasoami. Namanya Kasoami Pepe.
Makanan ini biasanya dihidangkan  dengan kuliner khas lainnya seperti Kenta Parende (ikan kuah), Kadada Katembe (sayur bening), Kenta Kagarai (ikan asin) maupun ikan bakar. Rasa Kasoami cukup unik (kenyal-lembut), berbeda dengan makanan pokok lainnya seperti nasi. Jika dimakan tanpa lauk pauk, dipastikan kita akan sering merasa kehausan karena tekstur Kasoami yang menyerap cairan dalam mulut.


Mengenai tingkat ketahanannya, Kasoami hanya dapat bertahan dua sampai tiga hari, tergantung medium penyimpanannya. Jika disimpan secara terbuka makanan ini akan cepat terasa kecut dan mengeras dan lama kelamaan akan berjamur.


Karena keawetannya yang terbilang pendek, Kasoami ini jarang dijadikan oleh-oleh. Maka dari itu, makanan ini tidak akan ditemukan di toko oleh-oleh khas Sulawesi Tenggara. Makanan ini biasanya jadi bekal yang dalam perjalanan jauh dan sering jadi bekal bagi nelayan yang pergi melaut.
Hidangan Kasoami Pepe



Namun demikian, bagi Anda yang ingin menjadikan Kasoami sebagai oleh-oleh tidak ada salahnya untuk dicoba karena banyak di jual di pasar-pasar tradisional. Harganya terbilang murah, sekira Rp. 5 ribu per satu Kasoami (harga per April 2017) dan bisa lebih murah dari itu.


Sebelum makanan pokok nasi (beras) populer seperti zaman sekarang ini, Kasoami dahulu (sebelum tahun 2000-an) merupakan makanan pokok sehari-hari untuk wilayah Wakatobi, dan sebagian kepulauan Buton. Istilahnya tiada hari tanpa kasoami seperti orang barat yang tiada hari tanpa roti gandum.  Kasoami jadi sajian utama di meja makan mulai dari makan siang sampai makan malam, hanya lauk pauknya berganti-ganti, sesuai selera masyarakat.
 

Hal itu, berbeda dengan masyarakat di Pulau Muna yang lebih mengandalkan Kambuse (jagung) sebagai makanan pokoknya, Katula hanya selingan. Kondisi demikian yang cenderung berbeda terbilang wajar sebab beberapa jenis singkong tumbuh subur di kepulauan daratan Wakatobi dan sebagian pulau Buton meskipun tanahnya berbatu-batu. Sementara di daratan Pulau Muna, yang tumbuh subur dan jadi primadona masyarakat adalah tanaman jagung.


Penulis : Muhamad Taslim Dalma