Potret Kesederhanaan Muna-Buton dalam Sajian Kamperodo Kantiniwua

JENDELASULTRA.BLOGSPOT.COM – Makanan khas Muna dan Buton yang mencerminkan kesederhanaan adalah sajian jagung mudanya. Sederhana, dari bahannya yang hanya jagung hingga proses memasaknya. Begitu pula cara menikmatinya, hanya bermodal gigi yang utuh buat mengigit. 

Bagi masyarakat, penyebutan kuliner khas Sulawesi Tenggara itu adalah Kamperodo dan Kantiniwua, berasal dari bahasa daerah Muna. Sajian yang demikian sederhana diperkirakan telah lama menjadi menu makanan masyarakat setempat, mungkin sejak biji jagung mulai dibudidayakan di Sulawesi Tenggara.
Makanan Khas Muna Buton "Kamperodo"
Kamperodo adalah jagung muda yang dimasak tanpa membuka kulitnya sedangkan Kantiniwua direbus dengan terlebih dahulu membersihkan kulitnya. Soal rasa, antara Kantiniwua dan Kamperodo kurang lebih sama.

Kuliner ini tidak jauh beda dengan jagung muda rebus di daerah lainnya, bedanya hanya rasa jagungnya. Daratan pulau Muna dan sebagai daratan Buton yang terdiri dari tanah merah, bebatuan, dan sebagian lagi batu kapur memberi cita rasa tersendiri untuk jagung yang tumbuh di atasnya.

Dalam pembuatan Kamperodo maupun Kantiniwua yakni buah jagung yang berumur kurang lebih  70 hari. Pada usia ini biji jagung memiliki rasa manis yang unik dengan tekstur lembek dan tidak terlalu keras. 

Soal memerangkap rasa manis inilah yang membedakan Kamperodo dan Kantiniwua. Kamperodo cenderung mempertahankan rasa manis karena terbungkus oleh kulit sedangkan Kantiniwua rasa manisnya berkurang karena tak terlindung. 

Rasa manis dua jenis makanan itu juga dipengaruhi oleh cara memasak. Jika direbus biasa, jagung terendam air dalam panci maka rasa manisnya berkurang karena terserap oleh air rebusan. Beda halnya jika didandang (jagung tak terendam air rebusan), cita rasa jagung akan lebih utuh namun dengan waktu pemasakan yang lebih lama.

Tata cara memasak, jagung muda terlebih dahulu dibersihkan dari kulitnya untuk membuat Kantiniwua sedangkan untuk Kamperodo cukup dipotong rapi bagian atas dan bawah buah jagung. Kemudian susun rapi dalam panci rebusan. Dalam satu panci besar pengukusan, biasanya Kambewe Gola dan Kambewe Kapute dimasak bersamaan.
Kuliner Khas Sulawesi Tenggara Jagung Muda

Sajian Kamperodo dan Kantiniwua enak dimakan tanpa campuran lauk pauk. Untuk makan siang ataupun makan malam bersama keluarga biasanya dihidangkan dengan makanan tradisional lainnya seperti Kenta Kagarai (ikan asin), Kadada Parende (sayur bening), dan lainnya.

Selain dimakan biasa seperti cemilan, Kantiniwua dan Kamperodo juga lebih nikmat jika digiling terlebih dahulu dalam alat penggilingan, masyarakat setempat menyebutnya Kagiling. Caranya biji jagung (pilih yang lumayan keras/tua) dipisahkan dari tongkol lalu digiling. Hasil gilingan ini memiliki tekstrur yang lembut dan mudah menyatu saat diremas. Soal rasa jangan bertanya, sebab rasa mestilah dirasakan.    


Penulis: Muhamad Taslim Dalma




Manisnya Hidup Semanis Kambewe Gola

Kuliner Khas Kambewe Gola
JENDELASULTRA.BLOGSPOT.COM – Kuliner khas Muna yang cukup istimewa adalah Kambewe Gola. Makanan yang berbahan dasar jagung muda. “Kambewe” adalah penyebutan untuk makanan yang dibungkus daun kelapa atau kulit buah jagung sedangkan “Gola” artinya gula. 

Tanaman biji-bijian seperti Jagung memang tumbuh dengan subur di Pulau Muna. Karena hal itulah masyarakat setempat banyak bercocok tanam jagung. Hasil olahan jagung inilah yang jadi salah satu makanan pokok daerah setempat.

Sebelum beras atau tanaman padi populer di Muna, zaman dahulu (sekira tahun 2000-an ke belakang) jagung merupakan makanan pokok sehari-hari. Berbagai olahan makanan dari jagung disajikan dengan cukup variatif.

Salah satu olahan yang terkenal adalah Kambose/Kambuse, olahan jagung tua (jenis jagung putih) yang direbus khusus dengan campuran kapur. Lain lagi dengan olahan dari jagung  yang masih muda seperti Dhodholo (dodol), Kamperodo, Kambewe Kapute, dan Kambewe Gola. 

Empat kuliner khas tersebut hanya dapat ditemukan sekali waktu saat usia jagung masih muda, mendekati masa panen masa panen. Jika berbicara mana yang primadona dan paling populer dalam masyarakat Muna, jawabannya adalah Kambewe Gola.

Kambewe Gola terbuat dari bahan sederhana yakni biji jagung muda yang berumur 70 hari. Pada umur ini biji jagung sudah benar-benar pas untuk menjadi olahan makanan, teksturnya tidak lembek juga tidak keras, dan rasa jagung masih manis.

Mula-mula jagung dibersihkan dari kulitnya dengan catatan kulit yang masih bagus jangan dibuang sebab akan digunakan untuk membungkus adonan. Kemudian, jagung yang sudah bersi dilepas dari tongkolnya dengan menggunakan pisau lalu dimasukkan dalam Kagiling (alat penggilingan).

Hasil gilingan yang tampak encer dicampur dengan gula merah sampai merata. Adonan sederhana ini tanpa perlu lagi campuran bahan lain. Adonan lalu dimasukkan dalam selembar kulit jagung dengan volume sesuai besar kulit jagung. 

Pada tahap akhir adonan yang sudah terbungkus direbus dalam panci dandang. Tidak boleh menggunakan panci biasa sebab adonan yang sedikit encer tidak boleh bersentuhan langsung dengan air rebusan.

Dalam sekali masak, biasanya dalam panci Kambewe Gola tidak sendirian tapi didamping kuliner jagung muda lainnya seperti Kamperodo dan Kambewe Kapute. Pemasakan dalam panci yang ini tidak akan memperngaruhi rasa masing-masing makanan sebab dari bahan yang sama yakni jagung muda.

Adonan yang telah matang berwarna merah kecoklatan dan memiliki tekstur yang padat tapi tidak keras. Teksturnya yang renyah akan segera hancur dalam sekali kunyah. Rasanya manis dari perpaduan unik manis gula merah dan manis jagung. 
Hidangan Kambewe Gola. (Foto: Muhamad Taslim Dalma)


Kambewe Gola dibuat bukan hanya untuk sebagai penghilang lapar atau sekedar untuk jualan di pasar. Makanan ini dibuat sebagai wujud rasa Syukur kepada Tuhan karena jagung yang akan dipanen melimpah. Rasa syukur atas manisnya suatu nikmat kehidupan, itulah salah satu makna filosofis Kambewe Gola. 

Olehnya, dalam setiap pembuatannya tetangga pekebun maupun keluarga akan diundang untuk bersama-sama mulai dari petik jagung di dalam kebun sampai menyantap kambewe gola beramai-ramai. Momen santap bersama ini disebut acara “Kambewe Gola”.

Pada awal tahun 2000-an dalam acara Kambewe Gola biasanya disertai dengan lantunan-lantunan nyanyian rakyat Muna dengan iringan alat musik gong dan gendang. Acara ini menjadi sangat ramai karena jadi sarana berkumpun diantara pekebun jagung maupun dengan keluarga para pekebun.

Penulis: Muhamad Taslim Dalma 

Menemukan Kuliner Khas Muna di Kedai Ratu Alam Kendari

Sepeda Ontel di Kedai Ratu Alam Kendari.
JENDELASULTRA.BLOGSPOT.COM – Kendari adalah Ibu Kota di Sulawesi Tenggara (Sultra) dengan masyarakat beragam dari berbagai suku, ras, agama, dan golongan begitu pula kulinernya. Kuliner khas Kendari adalah representasi dari keragaman itu. Berwarna, berbeda rasa. 

Untuk menemukan menu kuliner khas tertentu, hanya di rumah makan tertentu pula. Tidak banyak, karena kebanyakan rumah makan menyediakan menu makanan secara umum, semisal prasmanan. Ada pula rumah makan Padang, seperti marak di Kota besar lainnya. Untuk mendapatkan yang istimewa, maka pastilah bukan yang umum-umum.

Secara khusus, salah satu yang dapat menjadi tujuan di Kota ini adalah Kedai “Ratu Alam” yang fokus pada kuliner makanan khas Muna. Letaknya di jalan Buburanda, Kelurahan Korumba, Kecamatan Mandonga, tidak jauh dari Bundaran Stainless By Pass Kendari.
Kedari Ratu Alam di jalan Buburanda Kelurahan Korumba Kendari.

Desain Kedai  itu, unik tidak seperti rumah makan biasa. Kedainya dihias dengan ornamen kelapa yang disusun rapi pada tiang-tiang bangunan non permanen. Di teras depan terdapat sepeda ontel antik dengan gantungan keranjang tradisional berisi kulit jagung.

Lalu, di dinding depan Kedai Ratu Alam ada layang-layang legendaris "Kaghati" terbuat dari daun kolope (ubi hutan), asli produk budaya tua Muna. Begitu pula, di bagian dalam, ada susunan kelapa tua, dan ornamen-ornamen unik lainnya yang disusun memberi kesan “kreatif”.

Kedai Ratu Alam menyediakan menu-menu andalan dari masakan tradisional Muna seperti Lapa-Lapa, Kabuto, Kambuse, Katula, Ayam Parende, Kenta Kapinda (olahan ikan), dan jenis kue khas Muna yakni cucur, waje, dan lainnya. Ada pula menu khas Kendari lainnya seperti sinonggi, Burungo, dan lainnya. Semua diharga yang tak begitu mahal kisaran Rp 25 ribu sampai Rp 50 ribu.
Kuliner khas Muna Kabuto.


Untuk menyiapkan menu-menu itu tentulah tidak mudah, terutama adalah bahan bakunya yang tidak selalu tersedia di Kota Kendari. Salah satu menu, Kabuto, bahan bakunya didatangkan dari Pulau Muna, di salah satu pasar tradisional Kabupaten Muna Barat. 

Kabuto merupakan makanan yang berasal dari ubi kayu (singkong)  yang dikeringkan dan mengalami pelapukan dari proses fermentasi sederhana. Warna ubi yang putih berubah jadi hitam pekat bercampur warna abu-abu, dan kadang pula Kabuto lubang-lubang seperti kayu yang dimakan rayap. Bila sudah diolah, rasanya unik dan akan selalu dirindukan.


Penulis: Muhamad Taslim Dalma

Mencicipi Kakobho, Makanan Sederhana Mengenyangkan


Kuliner khas Sulawesi Tenggara kakobho. (Muhamad Taslim Dalma)
JENDELASULTRA.BLOGSPOT.COM – Salah satu kuliner khas yang dapat ditemukan di Pulau Muna adalah Kakobho, salah satu menu sarapan pagi yang mengenyangkan. Bahan makanan khas Sulawesi Tenggara (Sultra) ini sederhana. Perpaduan kaopi (tepung ubi kayu), kelapa, dan gula merah berbungkus daun pisang.

Kata “kakobho” berasal dari bahasa Muna yang artinya “ikatan”. Sesuai namanya kakobho memang diikat. Pembungkusnya dari daun pisang dan ikatannya dari daun pisang pula. Diameter dan bentuknya seperti sushi  (makanan khas Jepang) dengan panjang  20 cm sampai 30 cm.

Pembuatannya dimulai dari membuat inti yakni campuran kelapa dan gula merah. Kelapa yang dipilih adalah yang belum terlalu tua dan tidak terlalu tua. Kelapa diparut lalu dicampur dengan gula merah sampai meresap dalam parutan kelapa.

Sementara adonan dari kaopi dibasahi air agar gampang dibentuk. Inti kelapa lalu dilapisi kaopi. Inti dan lapisannya dibentuk dalam daun pisang sehingga begitu inti tertutupi kaopi maka langsung terbungkus daun pisang. Masing-masing ujung daun pisang kemudian  diikat.

Bungkusan itu lalu dikukus sampai matang dalam panci dandang. Bila sudah masak, kakobho biasanya dihidangkan dengan teh atau kopi sebagai sarapan pagi. Ada pula yang menjualnya di pasar-pasar tradisional di Muna.

Rasanya perpaduan antara inti kelapa gula merah dan ubi kayu. Hanya dengan dua kakobho dijamin sudah dapat mengenyangkan karena kandungan seratnya yang tinggi dan cepat memuaskan lidah. Makanan ini biasanya juga jadi bekal dalam perjalanan jauh. 

Makanan ini menjadi khas di Sulawesi Tenggara dan banyak terdapat di wilayah kepulauan Muna, Buton, dan Wakatobi. Kelapa dan ubi kayu memang banyak tumbuh subur dan dibudidayakan masyarakat setempat.


Penulis: Muhamad Taslim Dalma

Hidangan Khas Sinonggi di Rumah Makan Meohai Kendari

JENDELASULTRA.BLOGSPOT.COM – Ada banyak rumah makan di Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra) namun sedikit dapat ditemukan yang menyajikan menu khas daerah ini. Salah satu rumah makan yang terkenal di Kota Kendari adalah Rumah Makan Meohai.  

Rumah Makan Meohai mengandalkan menu utama sinonggi, makanan khas yang berbahan dasar sagu. Berasal dari pohon sagu yang tumbuh subur di wilayah Kendari, Konawe, dan sekitarnya. Pohon sagu banyak tumbuh di daerah rawa dan pinggir sungai.

 Sinonggi dibuat dari resep sederhana dengan cara tepung sagu basah disiram air panas lalu diaduk sampai mengental jadi seperti lem. Agar tidak terlalu lengket biasanya dicampurkan sedikit minyak kelapa ketika membuatnya.
Sinonggi merupakan makanan khas Sulawesi Tenggara yang berbahan dasar sagu.

Sinonggi dihidangkan dengan makanan khas yang berkuah misalnya ayam tawaoloho, daging tawaoloho, dan Ikan Pallumara. Menu pendamping lainnya adalah Boiku, Kabengga, Pokea, Kapurung Pallumara, dan Kapurung Tawaoloho.


Rumah Makan Meohai 

“Meohai” berasal dari bahasa daerah Tolaki yang berarti “keluarga”. Dengan menu keluarga masa lampau, warung makan yang beralamat di Jalan Antero Hamra Kompleks Pasar Bunga Kendari ini selalu ramai pengunjung.

Pemilik Rumah makan itu bernama Lisa (43). Menu yang disedikan yaitu Paket Sinonggi, Sinonggi Palumara, Sinonggi Tawaoloho, dan lainnya.  Bahan baku utama sinonggi adalah sagu yang dibeli di pasar-pasar tradisonal wilayah Kota Kendari.

Dalam membuat makanan khas itu, Lisa tidak memiliki resep khusus karena semua bahannya sederhana mulai dari sagu, daun “Tawaloho”, ikan, daging sapi, dan bumbu biasa. Semua disajikan seperti makan sinonggi di rumah sendiri, sesua arti nama tepat itu “Rumah Makan Keluarga”.
Ikan palumara merupakan hidangan pendamping sinonggi.
Dalam menentukan harga, Rumah Makan Meohai memasang harga relatif murah dan ada diskon. Berdasarkan harga bulan September 2018,  untuk paket satu orang Rp 25 ribu sedangkan bila paket bertiga Rp 60 ribu. Pekat itu lengkap dengan hidangan sinonggi ikan dan sayur.

Sejak berdiri  tahun 2006, Meohai sudah buka cabang baru yang tidak jauh dari warung tersebut di jalan Sao Sao, Kelurahan Bende, Kecamatan Kadia, Kota Kendari. Lisa mengelolanya bersama suami dan beberapa orang pegawai. Dalam satu hari satu warung makan bisa menghabiskan satu karung sagu.

“Kita buka dari pagi jam 8 pagi sampai jam 9 malam. Paling ramai asalah siang hari saat makan siang. Penghasilan satu hari bisa sampai  3 Juta rupiah, tapi itu masih hitungan kotor. Pengunjung perhari rata-rata bisa sampai 50 orang,” ujar Lisa.

Lisa merupakan keturunan dari ayah dan ibu yang berasal dari Pulau Selayar, Sulawesi Selatan. Ia lahir dan besar di Kendari karena dahulu orang tuanya besar di Kendari. Berkat usahnya merintis rumah makan, kebutuhan keluarganya dapat terpenuhi.

Anak ibu Lisa ada dua, satu masih sekolah setingkat SMA sedangkan seorang  lagi baru saja selesai dari Poltekes Kendari. Baginya, menu Sinonggi di zaman sekarang ini masih dapat bersaing dengan makanan-makanan populer lainnya. 


Penulis: Muhamad Taslim Dalma