Air Terjun Wawondiku Konawe Utara, Mengalir dari Puncak Sarang Anoa (Part 2)

JENDELASULTRA.BLOGSPOT.COM - Keadaan sekitar Air Terjun Wawondiku  tampak begitu asri,  bersih, kentara jarang terjamah. Pohon-pohon masih berdiri tegak menjulang tinggi, hanya memang puncak air terjun itu lebih tinggi dibanding pepohonan di situ.

Selain tentang anoa dan keindahannya, juga ada hal mistik. Dalam kawasan hutan itu diyakini ada “Onitumeane”. “Onitu” artinya ‘hantu’ atau ‘setan’ sedangkan “meane” artinya ‘bermain’. Jadi, Onitumeane adalah hantu yang bermain. 

Masyarakat setempat mempercayai adanya Onitumeane yang biasanya mengganggu dengan menggoyangkan pohon. 
Air Terjun Wawondiku di Kawasan Hutan Konawe Utara. (Foto: Mardin for jendelasultra.blogspot.com)

Perjalanan ke Air Terjun
Bagi pengunjung luar, titik start dapat dimulai dari Kota Kendari, Ibu Kota Provinsi Sulawesi Tenggara. Perjalanan dilakukan dengan sepeda motor menuju arah Kabupaten Konawe Utara. Paling cepat dapat ditempuh dalam waktu 7 jam perjalanan.

Untuk akses cepat perjalanan, begitu meninggalkan Kota Kendari langsung menuju Konawe Utara, tepatnya Kecamatan Kapoiala. Di daerah itu  melintasi sungai sehingga harus naik pincara. Sekitar 5 menit menyebrangi sungai, perjalanan kembali dilanjutkan dengan kendaraan yang dibawa serta.

Perjalanan dilanjutkan menuju Desa Lambuluo, Kecamatan Motui. Di sini juga harus naik pincara sekitar 15 menit. Perjalanan dilanjutkan menuju SMP 1 Molawe. Begitu sampai di sekolah ini, perjalanan dengan sepeda motor masih dilanjutkan dengan rute tanjakan dan sedikit menurun, sejauh 1 kilo meter. 

Begitu sampai di samping kebun cengkeh, motor harus disimpan. Perjalan dilanjutkan dengan berjalan kaki. Rutenya mendatar, melewati hutan, kebun mangga, kebun cengkeh, dan padang rumput yang tak begitu luas, lalu masuk hutan lagi. Perjalanan tanpa kendaraan itu selama kurang lebih satu jam.

Di perjalanan ada banyak lintah dari seukuran lidi sampai seukuran batang pensil. Tak jarang juga melewati banyak aliran air bertingkat di bebatuan. Di aliran air itu tidak tampak ikan, yang ada hanya keong kecil bundar hitam, masyarakat lokal menyebutnya “boyku”. Boyku biasa jadi menu santapan khas yang sedap.
Air Terjun Wawondiku di Kawasan Hutan Konawe Utara. (Foto: Mardin for jendelasultra.blogspot.com)

Jalan menuju air terjun, adalah hutan belantara yang sepertinya belum tersentuh proyek-proyek pemerintah. Arah jalan pun hanya mengandalkan bekas-bekas jejak kaki. Pengunjung biasanya diantar oleh warga setempat. Jalur masuknya juga biasa digunakan masyarakat yang masuk menebang kayu, sehingga ada pondokan-pondokan para penebang kayu yang bisa digunakan untuk istirahat.

Sepanjang jalan masuk, tidak ditemukan pengumanan apakah hutan itu masuk dalam kawasan yang dilindungi. Di dalamnya ada berbagai jenis pohon dengan diameter yang cukup besar, ada yang butuh rentangan tangan dua orang dewasa untuk melingkari batangnya.   

Perjalanan panjang itu, terbayar lunas dengan sajian pemandangan alam Air Terjun Wawondiku, plus kesejukan yang menyertai. Sebagai catatan, jangan lupa bawa bekal, di dalam tak ada makanan.***

Baca Artikel Sebelumnya : Air Terjun Wawondiku Konawe Utara, Mengalir dari Puncak Sarang Anoa (Part 1)

Penulis: Muhamad Taslim Dalma

Air Terjun Wawondiku Konawe Utara, Mengalir dari Puncak Sarang Anoa (Part 1)

JENDELASULTRA.BLOGSPOT.COM -  Wilayah Kabupaten Konawe Utara (Konut), Sulawesi Tenggara (Sultra) ternyata menyimpan keindahan alam yang belum begitu terjamah. Spot wisata itu bernama Air Terjun Wawondiku, ada di Desa Awila, Kecamatan Molawe.

Wawondiku berasal dari bahasa daerah setempat yaitu “wawo” yang berarti ‘atas’ atau ‘puncak’ dan “ndiku” yang berarti ‘anoa’.  Sehingga “wawondiku” dapat diartikan sebagai puncak anoa, yang juga menjelaskan bahwa di puncak air terjun itu merupakan sarang anoa, atau menjadi habitat hewan anoa.

Anoa sendiri merupakan hewan endemik  pulau Sulawesi yang masih dapat ditemukan di sejumlah spot Konawe Utara, namun jumlahnya terbatas. Anoa memang sering muncul di sekitar wilayah air terjun itu, yang masih tergolong hutan belantara.

Anoa biasa juga disebut kerbau kecil karena ciri-cirinya yang mirip. Anoa berkulit hitam, namun ukuran tubuhnya lebih kecil dari pada kerbau maupun sapi, dan bertanduk runcing. Anoa cenderung lebih agresif dan lincah hidup di dalam hutan.

Hewan itu dibiarkan liar dan tidak begitu menjadi pilihan hewan buruan bagi masyarakat. Anoa susah ditangkap dan cukup berbahaya bila berhadapan dengan manusia.
Air Terjun Wawondiku di Kawasan Hutan Konawe Utara. (Foto: Mardin for jendelasultra.blogspot.com)

Keindahan Air Terjun Wawondiku

Air terjun ini menawarkan panorama air yang jatuh dari ketinggian sekira 36 meter, terjun bebas menimpa bebatuan. Airnya jatuh dari dua arah sebelah kiri dan kanan. Sebelah kanan airnya jatuh di antara batuan yang bertingkat-tingkat (lebih miring) sedangkan  bila menoleh ke sebelah kiri air terjunnya seperti jatuh lurus dari puncak. 

Berada di sana, menentramkan batin dan melembapkan pikiran. Sinar matahari siang menerobos masuk dari sekitar puncak air terjun tanpa penghalang. Airnya tampak kebiruan diterpa sinar, mengalir di antara bebatauan tanpa satupun ikan maupun keong, yang ada hanya air. 

Kesejukannya menyeruak dari sela-sela pepohonan berpadu dengan “nyanyian” air beradu dan percikan titik-titik uap dingin. Belum lagi kicauan burung yang sesekali bersahut-sahutan.

Di bawah dua air terjun itu berbentuk kolam yang cukup dalam. Dapat digunakan untuk berenang maupun mandi. Airnya sejuk dan jernih, tidak berkapur sama sekali. Salah satu tanda bahwa tak berkapur karena batu di antara air itu licin. Pengunjung juga biasanya memanjat air terjun itu lalu meloncat, berenang.***

Baca Selanjutnya : Air Terjun Wawondiku Konawe Utara, Mengalir dari Puncak Sarang Anoa (Part 2)

Penulis: Muhamad Taslim Dalma

Asal Usul Buton dan Benarkah Benteng Keraton Buton Terbesar di Dunia

Benteng Keraton Buton yang terletak di Kota Baubau
JENDELASULTRA.BLOGSPOT.COM – Kepulauan Buton merupakan salah satu gugusan Pulau di Sulawesi. Secara administratif, Buton masuk dalam wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra). Buton pada zaman dahulu memiliki sistem pemerintahan sendiri yang dikenal dengan Kerajaan Buton. Salah satu buktinya peninggalan kerajaan adalah Benteng Keraton Buton.

Asal-usul istilah Buton ada dua yaitu “Buton” dan ada pula “Butun” berakar dari kosa kata bahasa Melayu. Butun adalah pohon bernama latin “Barringtonia Asiatica”, sejenis pepohonan mangrove yang tumbuh di sekitar pantai. Pohon jenis ini tumbuh dengan rimbun di wilayah pesisir pulau-pulau jazirah Sulawesi Tenggara.

Butun biasa juga dikenal keben. Pohon ini bisa mencapai tinggi 7 sampai 15 meter. Daunnya seperti daun jambu mete. Kelopak bunga berwarna putih dan benang sari berwarna merah muda. Keben juga disebut box fruit karena buahnya yang seperti kubus, mirip ketupat kecil. 

La Niampe dalam bukunya “Revolusi Mental Zaman Kesultanan Buton Abad XIX” (2018) menjelaskan bahwa dahulu para pedagang dari Semenanjung Melayu yang melewati kepulauan Nusantara bagian timur, terutama tujuan Ternate, banyak singgah di pulau-pulau Buton. Penduduk banyak yang menjadi teman dagang mereka. Para pedagang itulah menyebut pulau-pulau yang mereka singgahi dengan istilah Pulau Butun atau Buton. 

Berawal dari komunikasi dan interaksi para pedagang itu, maka menyebar di Nusantara tentang Buton. Sebab itulah maka istilah Buton lebih dikenal oleh orang luar Buton, sementara masyarakat lokal terkhusus di Sulawesi Tenggara lebih akrab dengan istilah “Wolio”. Kendati demikian masih ada versi-versi lain terkait asal usul penamaan Buton.

Berbahas tentang Buton maka ruang wilayahnya luas karena Kerajaan Buton melingkupi beberapa pulau yang pada masa sekarang ini terpisah secara administratif pemerintahan. Misalnya Wanci, Kaledupa, Tomia, Binongko, yang bergabung menjadi Kabupaten Wakatobi.

Berbeda halnya dengan Wolio yang merujuk salah satu daerah yaitu Kota Baubau. Di Kota ini terdapat Benteng Keraton Buton. Letaknya di ketinggian. Dari atas benteng akan tampak pemandangan bawah dan lautan lepas. Di benteng itu terdapat meriam yang dahulu jadi senjata pertahanan.
Catatan tentang Arung Palaka di Benteng Keraton Buton


Informasi yang berkembang adalah benteng tersebut merupakan benteng terbesar di Indonesia dan yang terbesar di dunia. Namun benarkah demikian atau mungkin itu hanyalah marketing issue untuk menarik wisatawan. 

Dalam catatan Caleb Coppenger “Misteri Kepulauan Buton” (2011), mempertanyakan tentang kriteria apa yang digunakan sehingga Benteng Keraton Buton di Baubau dapat dikatakan yang terbesar. Pasalnya, ia pernah melihat beberapa benteng yang tampaknya lebih besar di Thailand dan Myanmar.


Penulis: Muhamad Taslim Dalma

Potret Kesederhanaan Muna-Buton dalam Sajian Kamperodo Kantiniwua

JENDELASULTRA.BLOGSPOT.COM – Makanan khas Muna dan Buton yang mencerminkan kesederhanaan adalah sajian jagung mudanya. Sederhana, dari bahannya yang hanya jagung hingga proses memasaknya. Begitu pula cara menikmatinya, hanya bermodal gigi yang utuh buat mengigit. 

Bagi masyarakat, penyebutan kuliner khas Sulawesi Tenggara itu adalah Kamperodo dan Kantiniwua, berasal dari bahasa daerah Muna. Sajian yang demikian sederhana diperkirakan telah lama menjadi menu makanan masyarakat setempat, mungkin sejak biji jagung mulai dibudidayakan di Sulawesi Tenggara.
Makanan Khas Muna Buton "Kamperodo"
Kamperodo adalah jagung muda yang dimasak tanpa membuka kulitnya sedangkan Kantiniwua direbus dengan terlebih dahulu membersihkan kulitnya. Soal rasa, antara Kantiniwua dan Kamperodo kurang lebih sama.

Kuliner ini tidak jauh beda dengan jagung muda rebus di daerah lainnya, bedanya hanya rasa jagungnya. Daratan pulau Muna dan sebagai daratan Buton yang terdiri dari tanah merah, bebatuan, dan sebagian lagi batu kapur memberi cita rasa tersendiri untuk jagung yang tumbuh di atasnya.

Dalam pembuatan Kamperodo maupun Kantiniwua yakni buah jagung yang berumur kurang lebih  70 hari. Pada usia ini biji jagung memiliki rasa manis yang unik dengan tekstur lembek dan tidak terlalu keras. 

Soal memerangkap rasa manis inilah yang membedakan Kamperodo dan Kantiniwua. Kamperodo cenderung mempertahankan rasa manis karena terbungkus oleh kulit sedangkan Kantiniwua rasa manisnya berkurang karena tak terlindung. 

Rasa manis dua jenis makanan itu juga dipengaruhi oleh cara memasak. Jika direbus biasa, jagung terendam air dalam panci maka rasa manisnya berkurang karena terserap oleh air rebusan. Beda halnya jika didandang (jagung tak terendam air rebusan), cita rasa jagung akan lebih utuh namun dengan waktu pemasakan yang lebih lama.

Tata cara memasak, jagung muda terlebih dahulu dibersihkan dari kulitnya untuk membuat Kantiniwua sedangkan untuk Kamperodo cukup dipotong rapi bagian atas dan bawah buah jagung. Kemudian susun rapi dalam panci rebusan. Dalam satu panci besar pengukusan, biasanya Kambewe Gola dan Kambewe Kapute dimasak bersamaan.
Kuliner Khas Sulawesi Tenggara Jagung Muda

Sajian Kamperodo dan Kantiniwua enak dimakan tanpa campuran lauk pauk. Untuk makan siang ataupun makan malam bersama keluarga biasanya dihidangkan dengan makanan tradisional lainnya seperti Kenta Kagarai (ikan asin), Kadada Parende (sayur bening), dan lainnya.

Selain dimakan biasa seperti cemilan, Kantiniwua dan Kamperodo juga lebih nikmat jika digiling terlebih dahulu dalam alat penggilingan, masyarakat setempat menyebutnya Kagiling. Caranya biji jagung (pilih yang lumayan keras/tua) dipisahkan dari tongkol lalu digiling. Hasil gilingan ini memiliki tekstrur yang lembut dan mudah menyatu saat diremas. Soal rasa jangan bertanya, sebab rasa mestilah dirasakan.    


Penulis: Muhamad Taslim Dalma




Manisnya Hidup Semanis Kambewe Gola

Kuliner Khas Kambewe Gola
JENDELASULTRA.BLOGSPOT.COM – Kuliner khas Muna yang cukup istimewa adalah Kambewe Gola. Makanan yang berbahan dasar jagung muda. “Kambewe” adalah penyebutan untuk makanan yang dibungkus daun kelapa atau kulit buah jagung sedangkan “Gola” artinya gula. 

Tanaman biji-bijian seperti Jagung memang tumbuh dengan subur di Pulau Muna. Karena hal itulah masyarakat setempat banyak bercocok tanam jagung. Hasil olahan jagung inilah yang jadi salah satu makanan pokok daerah setempat.

Sebelum beras atau tanaman padi populer di Muna, zaman dahulu (sekira tahun 2000-an ke belakang) jagung merupakan makanan pokok sehari-hari. Berbagai olahan makanan dari jagung disajikan dengan cukup variatif.

Salah satu olahan yang terkenal adalah Kambose/Kambuse, olahan jagung tua (jenis jagung putih) yang direbus khusus dengan campuran kapur. Lain lagi dengan olahan dari jagung  yang masih muda seperti Dhodholo (dodol), Kamperodo, Kambewe Kapute, dan Kambewe Gola. 

Empat kuliner khas tersebut hanya dapat ditemukan sekali waktu saat usia jagung masih muda, mendekati masa panen masa panen. Jika berbicara mana yang primadona dan paling populer dalam masyarakat Muna, jawabannya adalah Kambewe Gola.

Kambewe Gola terbuat dari bahan sederhana yakni biji jagung muda yang berumur 70 hari. Pada umur ini biji jagung sudah benar-benar pas untuk menjadi olahan makanan, teksturnya tidak lembek juga tidak keras, dan rasa jagung masih manis.

Mula-mula jagung dibersihkan dari kulitnya dengan catatan kulit yang masih bagus jangan dibuang sebab akan digunakan untuk membungkus adonan. Kemudian, jagung yang sudah bersi dilepas dari tongkolnya dengan menggunakan pisau lalu dimasukkan dalam Kagiling (alat penggilingan).

Hasil gilingan yang tampak encer dicampur dengan gula merah sampai merata. Adonan sederhana ini tanpa perlu lagi campuran bahan lain. Adonan lalu dimasukkan dalam selembar kulit jagung dengan volume sesuai besar kulit jagung. 

Pada tahap akhir adonan yang sudah terbungkus direbus dalam panci dandang. Tidak boleh menggunakan panci biasa sebab adonan yang sedikit encer tidak boleh bersentuhan langsung dengan air rebusan.

Dalam sekali masak, biasanya dalam panci Kambewe Gola tidak sendirian tapi didamping kuliner jagung muda lainnya seperti Kamperodo dan Kambewe Kapute. Pemasakan dalam panci yang ini tidak akan memperngaruhi rasa masing-masing makanan sebab dari bahan yang sama yakni jagung muda.

Adonan yang telah matang berwarna merah kecoklatan dan memiliki tekstur yang padat tapi tidak keras. Teksturnya yang renyah akan segera hancur dalam sekali kunyah. Rasanya manis dari perpaduan unik manis gula merah dan manis jagung. 
Hidangan Kambewe Gola. (Foto: Muhamad Taslim Dalma)


Kambewe Gola dibuat bukan hanya untuk sebagai penghilang lapar atau sekedar untuk jualan di pasar. Makanan ini dibuat sebagai wujud rasa Syukur kepada Tuhan karena jagung yang akan dipanen melimpah. Rasa syukur atas manisnya suatu nikmat kehidupan, itulah salah satu makna filosofis Kambewe Gola. 

Olehnya, dalam setiap pembuatannya tetangga pekebun maupun keluarga akan diundang untuk bersama-sama mulai dari petik jagung di dalam kebun sampai menyantap kambewe gola beramai-ramai. Momen santap bersama ini disebut acara “Kambewe Gola”.

Pada awal tahun 2000-an dalam acara Kambewe Gola biasanya disertai dengan lantunan-lantunan nyanyian rakyat Muna dengan iringan alat musik gong dan gendang. Acara ini menjadi sangat ramai karena jadi sarana berkumpun diantara pekebun jagung maupun dengan keluarga para pekebun.

Penulis: Muhamad Taslim Dalma 

Menemukan Kuliner Khas Muna di Kedai Ratu Alam Kendari

Sepeda Ontel di Kedai Ratu Alam Kendari.
JENDELASULTRA.BLOGSPOT.COM – Kendari adalah Ibu Kota di Sulawesi Tenggara (Sultra) dengan masyarakat beragam dari berbagai suku, ras, agama, dan golongan begitu pula kulinernya. Kuliner khas Kendari adalah representasi dari keragaman itu. Berwarna, berbeda rasa. 

Untuk menemukan menu kuliner khas tertentu, hanya di rumah makan tertentu pula. Tidak banyak, karena kebanyakan rumah makan menyediakan menu makanan secara umum, semisal prasmanan. Ada pula rumah makan Padang, seperti marak di Kota besar lainnya. Untuk mendapatkan yang istimewa, maka pastilah bukan yang umum-umum.

Secara khusus, salah satu yang dapat menjadi tujuan di Kota ini adalah Kedai “Ratu Alam” yang fokus pada kuliner makanan khas Muna. Letaknya di jalan Buburanda, Kelurahan Korumba, Kecamatan Mandonga, tidak jauh dari Bundaran Stainless By Pass Kendari.
Kedari Ratu Alam di jalan Buburanda Kelurahan Korumba Kendari.

Desain Kedai  itu, unik tidak seperti rumah makan biasa. Kedainya dihias dengan ornamen kelapa yang disusun rapi pada tiang-tiang bangunan non permanen. Di teras depan terdapat sepeda ontel antik dengan gantungan keranjang tradisional berisi kulit jagung.

Lalu, di dinding depan Kedai Ratu Alam ada layang-layang legendaris "Kaghati" terbuat dari daun kolope (ubi hutan), asli produk budaya tua Muna. Begitu pula, di bagian dalam, ada susunan kelapa tua, dan ornamen-ornamen unik lainnya yang disusun memberi kesan “kreatif”.

Kedai Ratu Alam menyediakan menu-menu andalan dari masakan tradisional Muna seperti Lapa-Lapa, Kabuto, Kambuse, Katula, Ayam Parende, Kenta Kapinda (olahan ikan), dan jenis kue khas Muna yakni cucur, waje, dan lainnya. Ada pula menu khas Kendari lainnya seperti sinonggi, Burungo, dan lainnya. Semua diharga yang tak begitu mahal kisaran Rp 25 ribu sampai Rp 50 ribu.
Kuliner khas Muna Kabuto.


Untuk menyiapkan menu-menu itu tentulah tidak mudah, terutama adalah bahan bakunya yang tidak selalu tersedia di Kota Kendari. Salah satu menu, Kabuto, bahan bakunya didatangkan dari Pulau Muna, di salah satu pasar tradisional Kabupaten Muna Barat. 

Kabuto merupakan makanan yang berasal dari ubi kayu (singkong)  yang dikeringkan dan mengalami pelapukan dari proses fermentasi sederhana. Warna ubi yang putih berubah jadi hitam pekat bercampur warna abu-abu, dan kadang pula Kabuto lubang-lubang seperti kayu yang dimakan rayap. Bila sudah diolah, rasanya unik dan akan selalu dirindukan.


Penulis: Muhamad Taslim Dalma

Mencicipi Kakobho, Makanan Sederhana Mengenyangkan


Kuliner khas Sulawesi Tenggara kakobho. (Muhamad Taslim Dalma)
JENDELASULTRA.BLOGSPOT.COM – Salah satu kuliner khas yang dapat ditemukan di Pulau Muna adalah Kakobho, salah satu menu sarapan pagi yang mengenyangkan. Bahan makanan khas Sulawesi Tenggara (Sultra) ini sederhana. Perpaduan kaopi (tepung ubi kayu), kelapa, dan gula merah berbungkus daun pisang.

Kata “kakobho” berasal dari bahasa Muna yang artinya “ikatan”. Sesuai namanya kakobho memang diikat. Pembungkusnya dari daun pisang dan ikatannya dari daun pisang pula. Diameter dan bentuknya seperti sushi  (makanan khas Jepang) dengan panjang  20 cm sampai 30 cm.

Pembuatannya dimulai dari membuat inti yakni campuran kelapa dan gula merah. Kelapa yang dipilih adalah yang belum terlalu tua dan tidak terlalu tua. Kelapa diparut lalu dicampur dengan gula merah sampai meresap dalam parutan kelapa.

Sementara adonan dari kaopi dibasahi air agar gampang dibentuk. Inti kelapa lalu dilapisi kaopi. Inti dan lapisannya dibentuk dalam daun pisang sehingga begitu inti tertutupi kaopi maka langsung terbungkus daun pisang. Masing-masing ujung daun pisang kemudian  diikat.

Bungkusan itu lalu dikukus sampai matang dalam panci dandang. Bila sudah masak, kakobho biasanya dihidangkan dengan teh atau kopi sebagai sarapan pagi. Ada pula yang menjualnya di pasar-pasar tradisional di Muna.

Rasanya perpaduan antara inti kelapa gula merah dan ubi kayu. Hanya dengan dua kakobho dijamin sudah dapat mengenyangkan karena kandungan seratnya yang tinggi dan cepat memuaskan lidah. Makanan ini biasanya juga jadi bekal dalam perjalanan jauh. 

Makanan ini menjadi khas di Sulawesi Tenggara dan banyak terdapat di wilayah kepulauan Muna, Buton, dan Wakatobi. Kelapa dan ubi kayu memang banyak tumbuh subur dan dibudidayakan masyarakat setempat.


Penulis: Muhamad Taslim Dalma

Hidangan Khas Sinonggi di Rumah Makan Meohai Kendari

JENDELASULTRA.BLOGSPOT.COM – Ada banyak rumah makan di Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra) namun sedikit dapat ditemukan yang menyajikan menu khas daerah ini. Salah satu rumah makan yang terkenal di Kota Kendari adalah Rumah Makan Meohai.  

Rumah Makan Meohai mengandalkan menu utama sinonggi, makanan khas yang berbahan dasar sagu. Berasal dari pohon sagu yang tumbuh subur di wilayah Kendari, Konawe, dan sekitarnya. Pohon sagu banyak tumbuh di daerah rawa dan pinggir sungai.

 Sinonggi dibuat dari resep sederhana dengan cara tepung sagu basah disiram air panas lalu diaduk sampai mengental jadi seperti lem. Agar tidak terlalu lengket biasanya dicampurkan sedikit minyak kelapa ketika membuatnya.
Sinonggi merupakan makanan khas Sulawesi Tenggara yang berbahan dasar sagu.

Sinonggi dihidangkan dengan makanan khas yang berkuah misalnya ayam tawaoloho, daging tawaoloho, dan Ikan Pallumara. Menu pendamping lainnya adalah Boiku, Kabengga, Pokea, Kapurung Pallumara, dan Kapurung Tawaoloho.


Rumah Makan Meohai 

“Meohai” berasal dari bahasa daerah Tolaki yang berarti “keluarga”. Dengan menu keluarga masa lampau, warung makan yang beralamat di Jalan Antero Hamra Kompleks Pasar Bunga Kendari ini selalu ramai pengunjung.

Pemilik Rumah makan itu bernama Lisa (43). Menu yang disedikan yaitu Paket Sinonggi, Sinonggi Palumara, Sinonggi Tawaoloho, dan lainnya.  Bahan baku utama sinonggi adalah sagu yang dibeli di pasar-pasar tradisonal wilayah Kota Kendari.

Dalam membuat makanan khas itu, Lisa tidak memiliki resep khusus karena semua bahannya sederhana mulai dari sagu, daun “Tawaloho”, ikan, daging sapi, dan bumbu biasa. Semua disajikan seperti makan sinonggi di rumah sendiri, sesua arti nama tepat itu “Rumah Makan Keluarga”.
Ikan palumara merupakan hidangan pendamping sinonggi.
Dalam menentukan harga, Rumah Makan Meohai memasang harga relatif murah dan ada diskon. Berdasarkan harga bulan September 2018,  untuk paket satu orang Rp 25 ribu sedangkan bila paket bertiga Rp 60 ribu. Pekat itu lengkap dengan hidangan sinonggi ikan dan sayur.

Sejak berdiri  tahun 2006, Meohai sudah buka cabang baru yang tidak jauh dari warung tersebut di jalan Sao Sao, Kelurahan Bende, Kecamatan Kadia, Kota Kendari. Lisa mengelolanya bersama suami dan beberapa orang pegawai. Dalam satu hari satu warung makan bisa menghabiskan satu karung sagu.

“Kita buka dari pagi jam 8 pagi sampai jam 9 malam. Paling ramai asalah siang hari saat makan siang. Penghasilan satu hari bisa sampai  3 Juta rupiah, tapi itu masih hitungan kotor. Pengunjung perhari rata-rata bisa sampai 50 orang,” ujar Lisa.

Lisa merupakan keturunan dari ayah dan ibu yang berasal dari Pulau Selayar, Sulawesi Selatan. Ia lahir dan besar di Kendari karena dahulu orang tuanya besar di Kendari. Berkat usahnya merintis rumah makan, kebutuhan keluarganya dapat terpenuhi.

Anak ibu Lisa ada dua, satu masih sekolah setingkat SMA sedangkan seorang  lagi baru saja selesai dari Poltekes Kendari. Baginya, menu Sinonggi di zaman sekarang ini masih dapat bersaing dengan makanan-makanan populer lainnya. 


Penulis: Muhamad Taslim Dalma

Mengenal JENDELASULTRA, Blog Informasi Seputar Sulawesi Tenggara

Jendelasultra.blogspot.com berisi tulisan-tulisan tentang kebudayaan, kuliner, pariwisata, dan hal-hal menarik seputar Sulawesi Tenggara. Penceritaannya secara apa adanya oleh penulis yang juga pemilik blog Muhamad Taslim Dalma.

Sulawesi Tenggara yang berakronim “Sultra”, merupakan provinsi yang terdiri dari 17 kabupaten/kota. Wilayah ini kaya dengan tradisi, kearifan lokal, lokasi wisata, makanan khas yang dipublikasikan melalui foto dan tulisan blog ini.

Kehadiran Jendelasultra.blogspot.com diharapkan bisa menjadi bahan bacaan masyarakat Sultra maupun masyarakat dunia. Tentu dengan segala keterbatasan, Jendelasultra.blogspot.com berusaha memberi yang terbaik, sebab sesungguhnya memberi itu lebih baik dari pada menerima.

Profil Penulis

Muhamad Taslim Dalma lahir di Wakuru (Muna). Pria yang akrab disapa “Icon” ini merupakan anak pertama dari 5 bersaudara. Ia mengawali dunia akademik di Madrasah Ibtidayah Negeri (MIN) Wakuru pada tahun 1998, sekolah setingkat SD yang ditamatkan tahun 2004. Tamat Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Tongkuno pada tahun 2007 dan SMAN 1 Tongkuno 2010.

Jenjang pendidikan S1 berhasil diraih pada tahun 2014 yakni Sarjana Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dari Universitas Halu Oleo (UHO). Tahun 2016- 2018  berhasil meraih gelar master (S2) di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sasta Indonesia Pasca Sarjana, UHO dengan predikat cum laude.

Prestasi kepenulisan sastra yang pernah diraih adalah juara satu dalam lomba penulisan puisi “Pesona Ramadhan Kampus (Perak)” se-UHO yang diselenggarakan Unit Kegiatan Kerohanian Islam (UKKI) UHO pada tahun 2011. Puluhan puisinya pernah  dimuat harian Kendari Pos. Buku puisi pertamanya “Putra Haluoleo di Negeri Kepompong” diterbitkan tahun 2014. Selain itu, karya puisinya juga dimuat dalam buku antologi puisi 29 Penyair Sulawesi Tenggara “Teluk Bahasa” yang diterbitkan Sastra Digital pada 2014.

Saat ini Muhamad Taslim Dalma juga aktif di dunia jurnalistik. Ia mulai bekerja sebagai jurnalis pada tahun 2014 di harian “Media Sultra” lalu pada tahun 2015 (sampai sekarang) pindah di media online “ZonaSultra.Com”. Saat ini tergabung dalam organisasi profesi  Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kendari (sejak 2017) dan pada 2018 menjadi anggota Society of Indonesian Science Journalists (SISJ).

Kasubdit Pemberdyaan Masyarakat BNPT, Dr. Hj. andi Intang Dulung., M.H.I memberikan penghargaan kepada jurnalis ZonaSultra.com Muhamad Taslim Dalma di Mercure Convention Center, Ancol-Jakarta pada Selasa (10/12/2019).
Prestasi di dunia jurnalistik yang pernah diraihnya adalah penerima fellowship (beasiswa)peliput berita lingkungan oleh Aji Kendari (2015). Selain itu, dia juga menjadi peserta dalam Konferensi Jurnalis Sains di Bogor pada tahun 2015. Ia menjadi  peserta program pelatihan jurnalis sains selama 10 bulan (2017-2018) dan mendapatkan fellowship liputan mendalam terkait isu sains dan pangan oleh SISJ kerja sama dengan Sasakawa Peace Foundation. 

Penulis pernah meraih penghargaan kategori karya jurnalistik pada malam Anugerah Indonesia Damai 2019 di Mercure Convention Center, Ancol-Jakarta; Juara 3 Lomba Kreasi Pewarta Anak Bangsa (KPAB) 2021 oleh Gojek dan Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI); Juara 1 Lomba Jurnalistik Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) 2021 oleh SPEAK Indonesia; Masuk Nominasi 10 Besar Kompetisi Karya Jurnalistik Isu Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) 2022 oleh Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) berkolaborasi dengan AJI Indonesia; dan yang terbaru Pemenang Karya Terbaik Fellowship “Meliput Ragam Biodiversitas Non-Ikonik Indonesia” 2022 oleh SISJ dan Earth Journalism Network (EJN).

Jurnalistik dan sastra (khususnya puisi) merupakan bagian yang terpisahkan dalam kehidupannya sebab menurutnya “menulis adalah salah satu jalan untuk berbahagia”. Pesan, saran, dan kritik tentang jendelasultra.blogspot.com dapat melalui email muhamadtaslimdalma99@gmail.com.***

Renyahnya Kambewe Kapute, Makanan Khas Muna dari Jagung

JENDELASULTRA.BLOGSPOT. COM – Pulau Muna merupakan salah satu daerah di Sulawesi Tenggara (Sultra) yang terkenal dengan tanaman jagung. Pulau terbagi atas beberapa wilayah pemerintahan yakni Kabupaten Muna, Muna Barat, Buton Utara, dan Buton Tengah.

Perkebunan jagung  dapat ditemukan di semua wilayah Muna secara merata. Tak heran bila olahan jagung jadi salah satu makanan pokok non beras yang sangat digemari. Beberapa kuliner khas dari jagung misalnya Kambuse/Kambose, Kambewe, Kambewe Kapute, Kambewe Gola, dan Dhodholo (dodol).

Makanan khas Muna yang hanya dapat dijumpai di jelang musim panen jagung adalah Kambewe Gola dan Kambewe Kapute. Keduanya kurang lebih sama, berasal dari bahan jagung muda. Bedanya Kambewe Gola dibuat dengan campuran gula merah sedangkan Kambewe Kapute hanya dari jagung muda biasa.

MAKANAN KHAS MUNA - Kambewe Kapute merupakan makanan berbahan dasar jagung muda. Makanan khas yang dimasak dengan cara dikukus ini dijumpai di Pulau bila sudah mendekati musim panen jagung. 


Dalam pembuatan Kambewe Kapute, bahan dasarnya hanyalah buah jagung yang berumur  70 hari. Pada usia ini biji jagung tidak terlalu lembek dan tidak terlalu keras serta memiliki rasa manis yang unik.


Mulanya jagung dibersihkan dari kulitnya. Beberapa lembar kulit jagung yang masih bagus dan hijau jangan dibuang sebab digunakan untuk membungkus adonan.  Kemudian, jagung diris dengan pisau untuk memisahkan biji dengan tongkol.

Biji-biji jagung lalu dimasukkan dalam Kagiling (alat penggilingan). Hasil gilingan ini biasanya cukup encer, tergantung usia jagung, semakin muda usia jagung maka adonan yang dihasilkan akan semakin encer. Namun hal ini tidak jadi masalah tegrantung selera masing-masing.

Adonan hasil gilingan tak lagi dicampur dengan bahan-bahan lain untuk menjaga kealamian rasa jagung muda. Begitu selesai digiling, adonan bisa langsung dimasukkan dalam pembungkus dari lembaran-lembaran kulit jagung. Selembar kulit jagung sudah cukup untuk setiap Kambewe Kapute.

Terakhir,  adonan yang telah terbungkus  rapi direbus dalam panci dandang. Mengapa bukan panci biasa?  Karena adonan yang sedikit encer tidak boleh bersentuhan langsung dengan air rebusan. Hal ini dimaksudkan agar adonan tetap utuh dalam bungkusan.
MAKANAN KHAS MUNA - Isi Kambewe Kapute berwarnah putih cerah kekuningan.

Kambewe Kapute yang telah matang berwarna putih cerah kekuningan dan  tidak keras namun padat. Teksturnya yang renyah akan segera hancur dalam sekali kunyah. Rasanya tak begitu manis seperti Kambewe Gola tapi tetap enak untuk disantap. (Baca juga: Kambuse, Kuliner Khas Tradisional Masyarakat Muna)

Sajian Kambewe Kapute biasanya dihidangkan dengan beragam makanan tradisional Muna lainnya seperti Kadada Katembe (sayur bening), Kenta Parende (ikan kuah), Kenta Katunu (ikan bakar), dan lain sebagainya. (Baca juga: Cucur, Kuliner Khas Tradisional Muna - Buton dalam Acara)


Penulis: Muhamad Taslim Dalma